Daddy and Me [3]

daddy and me

 

Aku melihat ayah berlari dari ekor mataku. Ia mencari-cariku di antara banyaknya orang di ruang guru. Guru Kang melambaikan tangannya ke arah ayah, lalu ayah langsung menghampiriku. Wajahnya terlihat cemas, aku tidak tahu kenapa ayah ada disini. Dan aku menyimpulkan bahwa guru Kang yang telah menelepon ayah kesini.

“Ae Ra! Kau tidak apa-apa?” serunya setelah berada di dekatku. Aku mengangguk dalam pelukan Na Ra eonni. Ia mendesah berat, melepas pelukanku dari Na Ra eonni lalu membawaku kedalam pelukannya. Ayah mengusap-ngusap kepalaku. Membuatku menjadi lebih tenang.

 

“Ada apa sebenarnya?” tanya ayah pada Na Ra Eonni.

 

“Kejadian aneh,” gumam Na Ra eonni. “Aku tidak tahu bagaimana ceritanya. Seorang siswi ditemukan berdarah-darah di sekujur tubuhnya, dan Ae Ra yang pertama kali melihatnya,” jelas Na Ra eonni.

 

“Ya Tuhan, anak ini pasti shock,” seru ayah. Ia semakin memperat pelukannya padaku. “Kita pulang, ya?” tanyanya padaku, aku mengangguk lalu ayah beralih pada Na Ra eonni, “apa tidak apa-apa jika aku membawanya pulang?”

 

“Tidak masalah, Ae Ra butuh menenangkan diri,” jawab Na Ra eonni sambil tersenyum.

 

“Baiklah, ayo kita pulang,” kata ayah. “Oh, Na Ra-ssi , terima kasih sudah mengabariku.”

 

“Itu sudah kewajibanku, Kyu Hyun-ssi,” balas Na Ra eonni.

 

Aku tidak mengucapkan apa-apa, lalu ayah membawaku menuju mobilnya. Dan menyuruhku menunggu sebentar di mobil, ayah akan mengambil tasku di kelas. Aku menyandarkan tubuhku di jok. Memejamkan mataku untuk sesaat. Pikiranku mulai melayang ke kejadian di toilet. Siapa yang membuatnya seperti itu? Anak perempuan itu terlihat kesakitan sekali. Darah mengalir dari hidungnya.. Ah aku mulai bergidik ngeri membayangkannya. Pasti ada sesuatu di sekolah ini, pikirku.

 

Aku membuka mataku, ayah belum juga datang. Padahal jarak kelasku tidak seberapa jauh. Lalu ponselku berbunyi, sebuah pesan masuk dari Min Yi. Ah, si cerewet itu.

 

Ayahmu mantan model ya?

 

Aku terkikik geli. Ayahku mantan model? Hah membayangkannya saja tidak pernah. Tapi, bagus juga kesimpulan si cerewet ini. Lalu aku mengetikan balasan untuknya.

 

Kukira kau akan menanyakan kabarku bagaimana setelah kejadian mengerikan itu. Kenapa malah menanyakan ayahku?

 

Beberapa detik berselang, muncul balasannya.

 

Ah aku hampir lupa, bagaimana keadaanmu? Kami mencemaskanmu. Eh apa kau tahu Han Bin mencarimu? Dia juga sepertinya mencemaskanmu. Kami pikir anak baru itu menyukaimu Amy!

 

Aku tersentak, Han Bin mencariku? Untuk apa? Lalu aku mengetikan balasannya lagi.

 

Aku baik, sedikit shock karena melihat banyak darah. Kalian harus datang ke rumahku malam ini!

 

Oke! Kami akan menanyakanmu beribu pertanyaan. Eh, Apa Tae Min boleh diajak? Dia meminta ikut.

 

Aku terkekeh, Tae Min selalu saja mencampuri urusan anak perempuan.

 

Tidak, dia harus ganti kelamin jika ingin bergabung dengan kita.

 

Setelah terkirim aku mengalihkan perhatianku ke samping kanan, ah pintu mobil terbuka. Ayah tersenyum ke arahku, lalu dia menaruh tasku di jok belakang. Dia mulai menjalankan mobilnya.

 

“Kenapa lama sekali, sih?” rengekku.

 

Ayah tertawa, “maafkan ayah, tadi ayah mengobrol dengan beberapa guru.”

 

Aku langsung berbinar, “dengan guru Kang juga, ya yah?”

 

Ayah memutar bola matanya, lalu ia menoyor keningku. “Ayah tahu maksudmu, nak,” katanya sok tua. Memang tua, sih.

 

“Apa?” tantangku.

 

Mobil berhenti di lampu merah. Ayah menatapku sambil memicingkan matanya, aku membalasnya dengan menatapnya dan kedua alis terangkat. Ia mendesis, lalu menjalankan mobilnya lagi saat lampu hijau menyala.

 

“Jangan lakukan itu Ae Ra,” kata Ayah sambil menghembuskan napasnya.

 

“Aku hanya ingin ayah mendapatkan wanita yang baik. Untuk menjaga ayah dan aku,” kataku sendu.

 

Tidak ada balasan lagi darinya. Aku beralih menatap keluar jendela, melihat sekelebat bayangan-bayangan gedung yang kami lewati. Aku tidak tahu apakah ini akan berhasil mengingat ayah sudah mengetahui rencanaku. Aku tidak salah, kan? Ini rencana yang sangat jenius. Na Ra eonni sangat pandai mengurus segalanya. Aku yakin ia juga pandai mengurus kami nantinya.

 

Aku tidak ingin berdebat lagi dengan ayah. Cukup sekali aku berdebat dengannya karena si jal*ng Ha Young. Aku masih ingat sekali perkataannya tempo hari. Aku disebut anak kecil? Yang benar saja! Mana ada anak kecil sepintar aku? Aku sudah kelas 1 SMA. Kepalaku bisa mendidih kalau mengingat si buruk rupa itu.

 

Ayah menolakku menjodohkannya dengan Na Ra eonni, sementara dia sama sekali tidak pintar memilih pasangan. Sedangkan jelas-jelas apa yang aku tawarkan merupakan pilihan paling baik dari yang terbaik. Aku harus memutar otakku.

 

Mobil kami akhirnya berhenti di depan rumah kami. Aku langsung turun tanpa mengucapkan sepatah katapun pada ayah. Biar saja dia yang membawa tasku ke dalam. Siapa suruh menolak ideku?

 

Aku naik ke atas, berganti pakaian dan langsung menenggelamkan diriku di atas ranjang empukku.

 

***

 

Aku terbangun karena mendengar suara-suara berisik. Aku mengucek mataku dan terduduk. Satu hal yang kudapat ketika aku benar-benar membuka mataku adalah teman-temanku.Min Yi, Soo Jung, dan juga Ji Young. Aku langsung membelalakan mataku, mereka melihatku dari atas sampai bawah. Sejak kapan mereka disini?

 

“Ah aku kira setan,” kataku.

 

Soo Jung melotot, “enak saja, aku cantik seperti ini disebut setan? Hah yang benar saja.”

 

Mereka mendekatiku satu-persatu. “Ayah menyuruh kalian masuk?” tanyaku.

 

Min Yi mengangguk, “ayahmu membuka pintu untuk kami lalu menyuruh kami langsung naik ke atas.”

 

“Sejak kapan?” tanyaku lagi.

 

“Kukira setengah jam lalu,” Ji Young mengendikan bahunya, “entahlah, atau mungkin satu jam yang lalu.”

 

“Ayahmu membawakan kami banyak makanan, ah ini enak sekali,” kata Min Yi sambil mengunyah coklatnya. Eh.. Coklat???

 

“Ah cerewet itu coklatku!!!! Kembalikan!!!” kataku histeris.

 

Aku mencoba menggapai tangannya yang menggenggam setoples coklat bulat milikku. Enak saja, itu kan cemilanku. Ah ayah harusnya bertanya dulu sebelum memberikannya kepada mereka. Akhirnya setelah beberapa menit toples itu jatuh di tanganku.

 

“Kau boleh makan yang lain, asal jangan yang ini,” tegasku.

 

Min Yi mengangguk, lalu mengambil setoples kacang.

 

“Kenapa kalian tidak membangunkanku?”

 

Mereka diam, saling memandang satu sama lain. Pada akhirnya Soo Jung yang membuka suara. “Bagaimana keadaanmu? Di sekolah heboh sekali saat mendengar berita itu.”

 

Aku mendesah, lalu memakan bola-bola coklatku. “Awalnya buruk sekali, aku shock saat melihat anak perempuan itu bersimbah darah, mengerikan,” jelasku, bulu kudukku meremang.

 

Mereka menatapku iba. “Harusnya kau mengajak kami saat itu,” ujar Ji Young.

 

Aku mengangguk, “harusnya aku tidak sendiri.”

 

Mereka menggenggam tanganku, “Ah, siapa nama anak perempuan itu?” tanya penasaran.

 

Min Yi mengerutkan keningnya, “Choi Ye Rin!” serunya.

 

Aku mengangguk, “gadis yang malang,” gumamku.

 

“Dia dari kelas 1-5,” ujar Min Yi.

 

“Anaknya penyendiri, tidak bergaul dengan yang lain,” timpal Soo Jung.

 

Ji Young mengangguk antusias, “ya, aku sempat melihatnya di bully oleh beberapa siswi.”

 

Aku membelalak, “ya Tuhan, mungkin dia mencoba bunuh diri,” gumamku.

 

“Atau mungkin dia ‘benar-benar’ di bully oleh siswi kurang ajar itu,” seru Min Yi.

 

Kami terdiam, menyelami pikiran kami masing-masing. Kalau sampai seperti ini, namanya bukan bully lagi, tapi mengarah ke kejahatan berat. Bisa saja salah satu mereka dalangnya, psychopat berdarah dingin. Aku memeluk tubuhku ngeri.

 

“Kita tidak bisa diam saja,” ujarku kemudian. “Aku lihat dengan jelas bagaimana anak perempuan itu kesakitan, menahan luka-luka di sekujur tubuhnya–ya Tuhan!”

“Kenapa?” tanya mereka berbarengan.

 

Aku menelan ludahku, “bisa saja pelakunya melihatku menolong anak itu!”

 

“Kau pikir apa yang kau bayangkan Ae Ra! Jangan mengambil kesimpulan terlalu jauh,” ucap Soo Jung dengan suara bergetar.

 

Ji Young turun dari ranjangku lalu mengambil segelas minuman yang ada di meja. Ia memberikannya pada Soo Jung lalu kemudian padaku. “Tenangkan diri kalian dahulu,” ujarnya tenang.

 

Min Yi mengangguk, “kita akan hadapi bersama,”

 

“Apanya yang akan kalian hadapi bersama?” kami kompak memandang ke satu arah dengan tangan bertautan satu sama lain. Aku meluluhkan bahuku, ternyata ayah.

 

“Bukan apa-apa paman,” jawab Ji Young.

 

Ayah mengangguk, “kalian sudah makan malam? Kalau belum ayo kita makan, paman memesan pizza.”

 

“Baik!” seru Min Yi girang.

 

Setelah ayah keluar, aku kembali bersuara. “Kita bahas ini besok, oke?”

 

Mereka mengangguk setuju.

 

***

 

“Ayah, minggu depan jadi, kan?” tanyaku ragu pada ayah.

 

Ayah berdeham, “Tentu saja sayang.”

 

Aku terlonjak, lalu langsung memeluk ayah. “Terima kasih ayah,” kataku sambil mencium pipinya. Ayah tersenyum sambil melanjutkan sarapannya, namun tiba-tiba mimik wajahnya berubah serius. Sesuatu menganggu pikirannya, tebakku.

 

“Kau yakin akan ke sekolah hari ini?” tanyanya beberapa saat kemudian. Aku mengangguk mengiyakan jawabannya.

 

“Setelah apa yang terjadi kemarin?” tanyanya lagi. Ia menghentikan makannya dan menatapku serius. Aku menghembuskan napasku, lalu menghentikan suapanku.

 

“Aku bukan anak kecil lagi.. ayah, aku tidak apa-apa, sungguh,” kataku yakin.

“Lagipula, aku penasaran..,” kataku menggantung. Aku bingung, apa aku harus memberitahu ayah kalau aku dan teman-teman akan melakukan penyelidikan.

 

“–penasaran?” tanya ayah.

 

Aku menggeleng dan mengibaskan tanganku. “Tidak, maksudku, aku penasaran reaksi teman sekelasku kalau aku masuk hari ini… Ya, begitu.” Aku menghela napas.

 

Ayah terlihat mengangguk-angguk, lalu mulai melanjutkan makannya.

 

“Baiklah, cepat makannya. Kita berangkat sebentar lagi. Ayah tidak ingin kau terlambat sekolah.”

 

Aku menyengir, tiba-tiba ide menggodai ayah muncul. Aku berdeham. “Ingin cepat-cepat mengantarku atau ingin cepat-cepat melihat guru.. Kang?” godaku.

 

Ayah menatapku tajam, lalu tak berapa lama ia mengalihkan pandangannya dan meminum habis airnya. Ia pergi dengan menenteng tas kerjanya keluar dari ruang makan, tanpa membalas godaanku. Aku mencibir, lihat saja, aku tidak main-main untuk menjodohkan ayah dengan guru Kang.

 

Aku cepat-cepat menghabiskan sarapanku dan menyusul ayah ke mobil. Ponselku bergetar saat aku sudah masuk ke dalam mobil. Saat aku mengeceknya, ternyata sebuah pesan dari Min Yi. Aku mengerutkan keningku, ada apa pagi-pagi si cerewet itu mengirimkanku pesan teks?

 

Aku di kagetkan oleh ayah yang sedang menyalakan mesin mobil dan tak berapa lama mobil pun keluar dari dalam garasi rumahku. Cepat-cepat aku membuka pesannya sebelum kembali tenggelam dalam pikiranku.

 

Cepatlah datang, aku punya Hot News pagi ini.

 

Aku mengerutkan dahiku, ini masih pagi dan si cerewet itu sudah punya kabar terpanas. Wow. Aku tidak tahu kalau kemampuan dia begitu hebat dalam hal seperti ini. Gosip, tentu saja, apalagi?

 

Aku segera mengetikkan balasan untuknya.

 

Aku sudah berangkat. Simpan berita itu sebelum aku datang, jangan ceritakan dulu pada yang lain.

 

Setelah itu aku memasukan ponselku ke dalam tas, lalu mengambil iPod. Suara merdu Luke Hemmings dan kawan-kawan langsung terdengar di telingaku, menemaniku menuju sekolah.

 

***

Anakku yang paling cerewet langsung terlarut dalam lagu–yang aku tidak tahu apa itu judulnya–dari band lima detik apalah itu, aku tidak peduli. Telinganya di sumbat oleh earphone, tapi suaranya masih terdengar olehku. Beberapa kali aku mendengarnya menyanyikan lagu-lagu dari band sepuluh detik atau apalah itu, aku jelas tidak peduli. Dan sekarang dia masih mendengarkannya dalam perjalanan ke sekolah, dan aku tahu, pasti nanti di sekolah dia juga akan mendengarkannya.

 

Aku saja yang sekilas mendengarkannya sudah bosan. Sudah berapa kali dia mendengarkannya tapi tidak terlintas rasa bosan? Aku tidak tahu jalan pikiran anak muda. Iya aku memang tua, tapi selera musikku juga tidak jelek-jelek sekali. Aku beberapa kali masih mendengar musik-musik di iPod-ku, aku lebih menyukai Nirvana, Aerosmith atau The Beetles.

 

Iya, aku punya iPod. Aku tidak se-ketinggalan jaman itu, jadi, ya aku punya iPod juga, tapi warnanya tidak merah jambu seperti Ae Ra.

 

Oh, singkirkan musik untuk sementara. Aku masih khawatir dengan anakku. Kurasa kejadian kemarin akan membuatnya takut dan tidak ingin masuk sekolah dulu, seperti bergelung di atas kasurnya sampai sore. Oh, tidak-tidak, aku juga tidak ingin dia begitu. Langsung kudepak pantatnya kalau menjadi perawan malas.

 

Ae Ra terlihat biasa dan tenang-tenang saja. Aku sebagai orang tua benar-benar khawatir, aku takut kalau di balik wajah tenangnya itu dia mengalami shock batin, yah apalah itu. Tapi, serius, walaupun aku baru mengasuhnya, aku memiliki firasat yang tidak begitu mengenakan.

 

“Ae Ra, sebaiknya kau jangan sekolah dulu, ayah serius.” Aku menatapnya dengan cemas. Tapi, ia tidak menjawab dan terus mengangguk-anggukan kepalanya. Aku menepuk dahiku, aku lupa dia memakai penyumbat telinga berwarna putih itu. Lantas aku tarik earphone-nya dan mendapat tatapan mengerikan darinya.

 

“Ayah, apa-apaan?” sungutnya.

 

Aku menggetok kepalanya. “Dasar anak kurang ajar.”

 

Ia mendengus, “ish, iya ada apa?” Ia mulai melembut.

 

Aku mengerem mobilku saat lampu lalu lintas berubah merah. Lalu aku menengok ke arah Ae Ra, ia masih mencebik sambil mengumpat-umpat, tipikal aku sekali kalau di ganggu. Aku jadi geli dan terkekeh.

 

“Kenapa ketawa? Ah ya ampun, susah sekali punya ayah bipolar.” Ae Ra memutar matanya. Aku menggetok kepalanya lagi, ia meringis sambil mengusap-usap kepalanya.

 

“Tidak sopan,” gerutuku. “Kau yakin tidak apa-apa ke sekolah hari ini? Lagipula gurumu bisa memaklumi jika tidak masuk.” Aku mulai serius berbicara padanya.

 

“Tidak, tidak. Aku tidak mau membolos.” Ia mulai merengut lagi. “Kukira kita sudah sepakat. Aku tetap masuk sekolah, titik.”

 

“Ya Tuhan, Ae Ra. Kau izin! Bukan membolos.” Kalau aku jadi orang tua yang lebay, mungkin aku sudah menggaruk-garuk aspal sambil mejenggut rambutku sendiri.

 

“Apapun itu, aku ingin masuk!” Ia tetap pada pendiriannya.

 

Aku menghela napas, susah juga membujuk anak ini. Keras kepala sekali. Oh tentu, dia kan duplikatmu.

 

“Ayah akan mengantarmu sampai kelas,” kataku. Aku mulai menjalankan mobil lagi saat lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau.

 

Ae Ra menghela napasnya, lalu suaranya mulai merengut lagi. “Aku bukan anak kecil ayah.”

 

Aku menggeleng-geleng. “Tidak, tidak ada penolakan, oke?”

 

Aku tahu kalau aku sampai bicara seperti itu, Ae Ra tidak akan menolak lagi. Baru saja aku senang, ia langsung membuatku diam tak berkutik.

 

“Bilang saja ingin bertemu guru Kang.”

 

***

 

Aku akui kalau guru Kang memiliki pesona tersendiri. Dan aku terjerat dalam pesonanya. Mungkin memang benar, anakku yang berusaha menjodohkanku dengan guru Kang, tapi kenyatannya aku benar-benar tertarik dengan guru itu. Kurasa Ae Ra benar-benar tepat untuk menjodohkanku dengannya, walaupun aku masih malu-malu untuk mengakuinya.

 

“Ayah tidak malu ya di lihat seperti itu oleh murid-murid?” Ae Ra berbisik kepadaku dan menunjuk beberapa murid yang terlihat memandang kami dari kelas. Aku terkekeh lalu merangkul anakku.

 

“Ayah sudah biasa. So, take it slow, baby.” Aku mengedipkan mataku padanya. Ae Ra bergestur seolah-olah akan muntah, tapi aku makin gemas dengan anakku sendiri.

 

“Sudah tidak usah malu, memangnya ayah terlalu memalukan untukmu?” Aku mencubit pipinya yang memerah, kalau seperti ini aku jadi mengingat ibunya. Hah… teringat lagi.

 

Ia langsung gelagapan. “Bukan.. bukan itu maksudku, ayah.”

 

Aku terkekeh lalu kami berhenti di depan kelasnya. “Oke, oke. Sekarang masuk dan jadilah anak baik.” Aku mendorong tubuh Ae Ra ke dalam kelas sampai ia duduk di bangkunya. Lalu aku menaruh tasnya di atas meja. Ae Ra masih mencebik sambil melipat tangannya di depan dada.

 

Lantas aku menyium pucuk kepalanya dan menepuk-nepuk kepalanya dengan sayang. “Sudah, jangan seperti itu. Ingat minggu depan, oke?” Aku mencoba merayunya. Dan tiba-tiba saja mood-nya berubah, menjadi lebih cerah, secerah sinar matahari pagi. Ae Ra tersenyum dan mengangguk antusias.

 

“Oke, oke aku tidak akan mengambek lagi. Sudah sana, nanti ayah terlambat kerja.” Ae Ra mendorong-dorong tubuhku keluar. Aku hanya bisa tertawa, sementara teman-temannya menatap kami dengan pandangan geli.

 

See you at home, sweetheart.” Aku melambaikan tanganku padanya, ia juga melambaikan tangannya.

 

See you at home, daddy.”

 

Aku berjalan menjauh dari kelasnya, dan berbelok ke ruang guru. Aku ingin menemui guru Kang terlebih dulu. Tidak ada maksud untuk menggoda guru itu saat hari masih pagi seperti ini. Hanya saja aku ingin berbicara sesuatu dengannya mengenai Ae Ra.

 

Aku melihat guru Kang di mejanya, tampak serius menekuri beberapa kertas ulangan sambil mengernyitkan dahinya beberapa kali. Dari tempatku saja dia sudah terlihat cantik dan memesona. Aku tersenyum tipis, lalu berjalan ke mejanya.

 

Aku berdeham. “Ekhm, permisi Na Ra-ssi.”

 

Sekilas ia seperti kaget, namun langsung berubah tenang saat ia melihat wajahku. Ia buru-buru membereskan mejanya dan menatapku langsung sambil mengangguk sekilas.

 

“Tuan Cho,” sapanya.

 

Aku mengangkat alisku saat mendengar sapaannya. “Bukankah kita sepakat untuk tidak bicara formal satu sama lain?”

 

Ia tersenyum canggung. “Ah.. maaf.” Aku mengangguk sambil melepas kancing jasku. Lalu ia memersilahkan aku untuk duduk di salah satu kursi putar milik rekannya.

 

“Bagaimana Ae Ra?” tanyanya. Terlihat sekali dia khawatir kepada anakku yang keras kepala itu.

 

“Baik, dia justru terlihat baik-baik saja.” aku mengerutkan dahiku, berpikir, mengingat kembali saat pagi tadi Ae Ra tidak terlihat seperti gadis remaja yang shock akibat melihat zombie–maksudku ya seperti Zombie, bukan zombie betulan.

 

Aku bisa mendengar ia menghela napas saat mendengarnya. “Syukurlah, aku senang mendengarnya.”

 

Aku mengangguk sambil tersenyum. “Aku harap dia memang baik seperti kelihatannya, tapi, aku berharap Na Ra-ssi tetap memantaunya. Aku sedikit khawatir dengan Ae Ra. Dia lebih tertutup soal perasaannya,” jelasku panjang lebar.

 

Ia hanya manggut-manggut. “Tenang saja, aku pasti selalu memantaunya.” Lalu ia tersenyum, membuat hatiku menyejuk.

 

“Baiklah, aku hanya ingin berbicara itu.” Aku berdiri, bersiap-siap pergi. Walau dalam lubuk hatiku, aku enggan untuk meninggalkan tempat ini. Tapi, aku tidak ingin kekanakan.

 

Ia mengangguk. “Hati-hati Kyu Hyun­-ssi,” katanya.

 

Rasanya hatiku membeku untuk sepersekian detik. Dia mengingatkanku untuk hati-hati. Aku girang sekali, seperti mendapat jackpot. Rasanya aku ingin mencium pipinya beribu-ribu kali. Tapi, aku hanya mengangguk sekilas dan berlalu dari sana. Shit, Kyu Hyun mulai jadi pengecut, aku mengerang dalam hati.

 

***

 

“AE RA!!!!”

 

“AMY!!!”

 

“HEY CHO!!!”

 

“SIAPA YANG KAU PANGGIL CHO?” Aku membalas teriakan temanku dengan jengkel. Selepas kepergian ayahku dari kelas, teman-temanku yang super idiot langsung berteriak histeris seperti kerasukan setan.

 

Min Yi meringis saat mendengar balasanku. Ia menggaruk-garuk tengkuknya. Aku memutar bola mataku jengah, si cerewet ini kadang merepotkan.

 

“Baru kali ini aku melihat seorang siswi sepertimu di antar sampai mejanya,” ucap Soo Jung dengan nada antusias.

 

Aku mendelik ke arahnya. “Itu pujian atau hinaan?”

 

Ia mencebik. “Setengah pujian, setengah hinaan.” Ia mengangkat bahunya.

 

Lalu Ji Young datang, memecah suasana tidak mengenakan tadi. “Sudah, sudah. Lebih baik kita mendengar Hot News Min Yi, dia janji akan cerita, kan?”

 

Aku langsung melunturkan wajah sangarku dan balik menatap Min Yi dengan tatapan penasaran akut. Aku tidak pernah sepenasaran ini mengenai gosip yang ia punya. Tapi, aku tidak bisa untuk tidak menghiraukannya, ini menyangkut kejadian kemarin kurasa.

 

“Ayo, cerita Min Yi,” rengek Soo Jung sambil menarik-narik baju seragam Min Yi.

 

Min Yi yang gerah sendiri langsung menepiskan tangan Soo Jung, membuat Soo Jung semakin mencebik seperti bebek.

 

“Baik, baik. Aku tidak akan mengulangnya, jadi pasang telinga kalian dengan baik, oke?” Kami serempak mengangguk. Min Yi mengisyaratkan kami untuk mendekat ke arahnya.

 

“Jadi, saat tadi pagi-pagi sekali aku baru datang ke sekolah, sekolah masih sepi sekali. Hanya ada aku dan beberapa kakak kelas. Lalu saat aku ingin ke toilet, aku melewati ruang pengawasan. Kau tahu kan? Tempat dimana kita melihat seluruh CCTV di sekolah ini?” kami mengangguk.

 

“Nah, aku masuk kesana. Kebetulan sekali pak Do memintaku untuk menjaganya selagi dia buang air kecil. Lalu aku iseng utuk memutar rekaman CCTV kemarin. Dan coba kalian tebak–“ Min Yi menggantungkan ucapannya, ia memandang kita satu-persatu. “–rekaman untuk kemarin tidak ada, alias di hapus!”

 

Mataku membelalak. “Tunggu, sekolah tidak mungkin menghapusnya, kan?” tanyaku.

 

Min Yi mengangguk. “Tepat Ae Ra! Sekolah tidak mungkin menghapusnya, dan aku sudah tanya kepada pak Do, dia hanya menggeleng dan menyangkalnya, dia malah menuduhku yang menghapusnya.” Min Yi memberengut.

 

“Nah, sementara kalian semua tahu, kan. Ruang pengawasan hanya ada dia saja. Jadi, aku menyimpulkan, kalau rekaman CCTV kemarin telah di hapus dengan sengaja,” lanjutnya.

 

“Sial, jadi kita tidak bisa melihat apa yang terjadi kemarin pada anak itu?” Soo Jung menggeram tertahan.

 

“Kurasa ini bukan hanya pembullyan biasa,” timpal Ji Young.

 

Aku mengangguk. “Aku akan menceritakannya pada Na Ra eonni.”

 

“Jangan dulu, Ae Ra,” tukas Min Yi.

 

Aku menaikan sebelah alisku. “Kenapa?” Tanyaku.

 

Min Yi menggeleng. “Sebaiknya kita selidiki dulu, kalau ada yang aneh-aneh baru kita beritahu pada guru Kang.”

 

Tiba-tiba saja ada suara lain yang menimpali pembicaraan kami. Kami menengok secara serempak, dan menemui Na Ra eonni yang sedang melihat kami dengan dahi mengkerut.

 

“Beritahu apa?”

 

kurasa wajah kami langsung pias saat kepergok seperti ini.

 

#####

 

tbc

Advertisements

4 responses to “Daddy and Me [3]

  1. Reblogged this on rissamelati88 and commented:
    hmm makin seru nih cerita kayanya bakalan ada detektif sekolah nih 😉
    aku makin suka sama ceritannya 😀 dan bikin nambah penasaran 🙂

  2. hmmm kayanya bakalan ada detektif sekolah nih 😉
    aku makin suka sama ceritannya dan bikin aku penasaran bangetjadinya 😉

  3. Comedy horor2 seruuuu gimana gitu~ ga sabar kelanjutannya. Cepet next yaaaa

  4. Yee akhirnya di post juga..

    aduhh mereka jadi main detektif2n begini…serem kalo itu bukan hanya bully bahkan sengaja melakukan kekerasan pada siswi itu…

    kyuhyun semakin lucu saja dengan sikapnya sama guru kang..hehehe ya kalo suka bilang saja suka…. gitu ajah repot. kekeke

Suka? Isi kolom di bawah ini ya^^ thanks~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s