One Night Memories [Bagian 2]

ONM Cover

©pict Park goo jilExoshidae fanfic and graphic

A/N : Cerita ini kembali lagi hoho maaf kalau ada yang menunggu lama^^ Boleh kali ya saya minta komentar dan like kalian setelah membaca cerita ini. Nggak cuman dari stat nya aja yang naik, bikin saya sedih karena itu jadi saya sedikit ogah-ogahan buat nge-update cerita ini.

Selamat membaca ya^^

Saat aku keluar dari kehidupannya, aku tidak pernah memikirkan kemungkinan bahwa mungkin saja di lain waktu kami akan bertemu dengan kondisi yang sama sekali berbeda. Aku tidak menolaknya ataupun menghindarinya. Aku hanya tidak ingin, bertemu dengannya kembali adalah pilihan buruk bagiku. Karena dengan begitu, sama saja aku kembali membuka luka lama yang telah aku tutup rapat-rapat.

Sahabatku pernah satu kali menyampaikan pendapatnya padaku, jika aku dan dia bertemu kembali di lain waktu, itu adalah takdir. Dan aku tidak mungkin menolaknya. Aku hampir tidak percaya saat ia terus merecokiku dengan kata-kata seperti itu. Tapi, saat ini keadaannya benar-benar tidak dapat aku terima dengan akal sehatku.

Kami bertemu lagi, di akhir musim semi. Ia terus mengatakan permintaan maafnya kepadaku. Aku sama sekali tidak bisa berkata apapun, hatiku sedikit bergetar dan terenyuh. Sepengetahuanku mengenai dirinya–dia adalah tipe orang yang tidak akan sudi meminta maaf sekalipun itu adalah kesalahannya yang paling besar. Dia tidak akan bertekuk lutut di hadapan orang itu, tidak ada emosi di wajahnya, pandangannya selalu tajam seolah-olah akan memakan orang yang berada di hadapannya secara hidup-hidup.

Tapi, aku memepertanyakan satu hal. Apa mungkin bisa seseorang yang sebegitu dingin dan kejam tiba-tiba merubah sikapnya menjadi seorang yang sedikit mempunyai hati dan perasaan? Dalam keadaan seperti ini, mungkin ya. Ia tertekan dengan segala beban yang di tanggungnya. Walau bagaimanapun, aku bukanlah seorang yang akan percaya begitu saja, butuh waktu untukku berpikir. Menentukan keputusan yang tepat agar tidak terjebak kembali ke lubang yang sama seperti sebelumnya.

Dia meringkuk di atas sofa, masih menggunakan pakaian terakhirnya. Jam sudah menunjukan pukul delapan lewat sepuluh malam. Berarti sudah lebih dari empat jam aku mengurung diri di dalam kamar. Aku tidak tahu kalau dia begitu gigih ingin meminta maaf kepadaku. Berjalan menuju jendela depan, aku mengintip dari celah-celah gordyn. Dan dugaanku tepat, ada mobilnya disana, dan pasti ada Jong Hyun didalamnya.

Aku bergegas menuju mobil pria itu dan mengetuk pelan jendela bagian kemudi. Tak berapa lama pintu terbuka dan menampakan sosok Jong Hyun dengan mata sembab khas bangun tidur. Aku masih sangat mengingatnya, asisten kepercayaan pria itu yang sangat setia.

“Bawa Kyu Hyun pulang, dia tertidur di dalam rumahku.” Kataku kemudian. Ia menggaruk tengkuknya sambil sesekali menguap.

“Baiklah.”

Kami berjalan ke dalam rumah dengan canggung. Tiba di dalam rumah, aku mengendikan daguku, mengisyaratkannya agar cepat-cepat membawa pria itu keluar dari rumahku. Jong Hyun mengangkat pria itu dengan sekuat tenaganya, agak sedikit limbung saat berjalan beberapa langkah. Aku mengikutinya sampai mobil, membukakan pintu mobil dan langsung masuk kembali kedalam rumah. Beberapa saat kemudian aku mendengar bunyi mobil menderu lalu lama-lama menghilang.

Kupikir saat ini bukanlah saat yang tepat untuk aku kembali lagi bertemu dengannya, memaafkan kesalahannya, dan menerimanya dengan lapang. Aku bukanlah orang yang benar-benar baik–maksudku aku tidak bisa menerima permintaan maafnya tanpa mempertimbangkannya. Aku merenggangkan ototku lalu masuk kedalam kamar untuk segera tidur.

****

“Tidak Yunho, jangan aku lagi. Kau masih punya Doo Joon untuk pergi kesana.”

“Hey, dia punya pekerjaan lain untuk di kerjakan.”

“Ya, dia punya pekerjaan lain. Demi Tuhan, kau kira aku tidak mempunyai pekerjaan lain juga?”

“Kau bisa meninggalkannya.”

“Tidak, Yunho. Aku tidak bisa. Titik.”

“Kau akan menyesal Tae Rin.”

My goodness, apa yang harus aku sesalkan? Tidak, tidak ada yang perlu aku sesalkan.”

“Aku atasanmu, tolonglah bertindak profesional. Ini tugas.”

“Tugas katamu? Kau lihat berkas-berkas sialan yang bertumpuk di mejaku, itu juga tugas yang harus aku selesaikan. Mengertilah, aku tidak ingin membuang waktuku hanya untuk memantau apa yang telah kau rubah disana.”

“Tae Rin.”

“Tidak Yunho, kalau kau ingin memecatku, pecat saja asal kau tidak menugaskanku ke perusahaan itu lagi.”

“Baiklah, baiklah..” Yunho menghembuskan napasnya kasar. “Kau disini saja, biar aku tugaskan Jae Hyun kesana.”

Aku menghela napasku, lalu membungkuk hormat kepada Yunho. Meninggalkan ruangannya yang penuh sesak. Aku tidak bisa berlama-lama di dalam sana dalam suasana seperti ini. Aku tidak tahu tujuannya menugaskanku kesana untuk kali ini. Untuk mengontrol keadaan disana, kataya. Demi Tuhan, asistennya tidak hanya aku. Kenapa sekarang aku merasa ia mempunyai maksud lain?

 

****

“Kyu Hyun, para pemegang saham bersikeras untuk membahas hal ini.”

“Bukankah aku pernah sekali menyampaikannya pada mereka?” Tanya Kyu Hyun, bermaksud menolaknya.

Jong Hyun menggeleng, “Tidak bisa, mereka sepertinya sudah sepakat, kalau tidak mereka akan menjual sahamnya,” Jong Hyun menghela napas, “…pikirkan ini baik-baik Kyu Hyun. Kita tidak mungkin terus seperti ini. Walau bagaimanapun juga mereka berhak tahu.”

Kyu Hyun tercenung, masalah baru telah naik ke permukaan. Ia tidak tau harus melakukan cara apalagi agar perusahaannya kembali stabil seperti beberapa minggu yang lalu. Jiwanya perlahan-lahan menjadi rapuh, penyesalan mendominasi perasaannya belakangan ini. Ia tidak siap untuk jatuh miskin. Belum lagi, jika ia mengingat beberapa hari yang lalu saat dirinya berkunjung ke rumah Tae Rin, rasanya ia hampir tidak mempunyai harga diri sama sekali.

Walau banyak bisikan dalam pikirannya untuk terus bertahan, tetapi bisikan itu semua semakin lama semakin terkubur jauh. Saat ini ia pesimis, dalam hidupnya ia tidak pernah seperti ini, ia selalu ambisius dalam berbagai hal.

Ia menghela napas, lagi dan lagi hari ini. Kali ini ia tidak ingin jadi pengecut.

Lantas kemudian ia menyetujuinya dan akan melangsungkan rapat pemegang saham besok. Ia tahu jika ia tidak akan bisa menghindari hal ini sebagai pemilik perusahaan.

****

Aku menghela napasku lagi, entah sudah keberapa kalinya hari ini. Kulihat suasana kantor sudah sepi. Bahkan Jae Hyun, salah satu rekanku sudah tidak menampakkan batang hitungnya lagi sejak ditugaskan Yunho ke kantor sialan itu. Hanya ruanganku yang lampunya masih menyala. Yunho juga sudah pergi makan malam dengan Go Ram beberapa jam lalu. Doo Joon juga sedang tidak ada di Seoul. Aku menyandarkan tubuhku, melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul delapan malam.

Seharusnya aku sudah pulang sejak empat jam yang lalu. Namun karena kekerasan kepalaku, aku bertahan disini. Berusaha menghilangkan pikiranku tentang lelaki itu yang baru-baru ini muncul kembali. Oh, rasanya pekerjaanku sudah terselesaikan dengan baik hari ini. Aku merenggangkan tubuhku. Menguap dan segera bangkit dari tempat duduk. Kurasa hari ini cukup sampai disini.

Aku melangkahkan kakiku keluar dari elevator dan bertemu Jin Gu, security yang berjaga setiap malamnya. Aku mengangguk sambil tersenyum saat kami bersitatap.

“Baru akan pulang, bu?” sapanya ramahnya.

“Yah begitulah. Selamat malam Jin Gu,” kataku.

Aku berjalan keluar gedung, berhenti di sebuah halte dan menunggu taksi kosong. Sambil sesekali memainkan ponselku, mengobrol dengan Yunho melalui aplikasi snapchat. Ia baru saja mengirimkan fotonya bersama Go Ram. Ah, sial dia sudah melamarnya. Aku mengembangkan senyumku. Kalau saja tadi aku tidak marah dengannya, mungkin saja aku sudah melayangkan beberapa pertanyaan tentang acara lamarannya yang tidak ku ketahui. Besok, aku yakinkan pada diriku. Besok aku akan memberondongnya dengan pertanyaan.

Sorot lampu mobil menyadarkanku. Didepanku sudah ada mobil Range Rover, perlahan-lahan kaca mobil itu turun. Oh, double sial, geramku.

“Tae Rin-ssi,” panggilnya.

Aku mendongak dengan enggan, mencoba tetap bersikap sopan.

“Ya,” jawabku.

Ia mengembangkan senyumnya, lalu mengendikan dagunya menyuruhku masuk. Aku secara spontan menggeleng. Tidak, tidak ada lagi hal-hal yang seperti ini, tegasku dalam hati.

“Ayolah,” mohonnya.

Aku melihat ke sekeliling. Jalanan masih ramai, banyak mobil dan taksi yang lewat. Lalu aku melihat taksi medekat ke halte. Aku mengisyaratkan taksi itu mendekat ke arahku melalui ayunan tanganku.

Aku mempercepat langkahku menuju taksi, sedikit sulit karena high heels yang aku pakai. Aku segera membuka pintu penumpang taksi, tapi beberapa saat kemudian pintu itu tertutup. Ada tangan yang mencekalku, aku mendongak dan menemukannya disana. Dengan sedikit tidak enak hati aku membuka kembali pintu taksi itu dan mengatakan permintaan maaf karena tidak jadi menaikinya.

Setelah taksi itu pergi, aku menghempaskan tanganku. Tidak suka dengan genggamannya, tidak suka karena ia sudah membuatku merasakan gelenyar aneh itu lagi. Ia satu-satunya lelaki yang ingin aku jauhi untuk saat ini.

“Ada apa sebenarnya?” bentakku padanya.

Ia menajamkan matanya padaku, sedikit membuatku menciut.

“Kau. Pulang. Denganku,” tekannya.

Aku terkekeh, “jangan membuat drama, aku ingin pulang.”

“Kau yang membuat drama, cukup ikuti perintahku. Kau pulang denganku malam ini,” katanya memaksa.

Aku mendengus, memangnya dia pikir dia ini siapa?

“Apa urusanmu denganku?” kataku dengan menatap matanya langsung, “kau bukan siapa-siapaku. Tolong, berhentilah mengangguku.”

Ia tersenyum getir lalu mengangguk. “Aku memang bukan siapa-siapamu. Kau benar.”

Aku meninggikan senyumku saat ia berbalik, berjalan menjauhiku. Lalu tiba-tiba ia berbalik lagi ke arahku dengan langkahnya yang lebar. Aku sedikit meringis melihat wajahnya yang keras, menahan amarah.

“Kau memang bukan siapa-siapaku saat ini, dan aku pun sebaliknya untukmu,” katanya setelah sampai di depanku, lalu ia mengangkat daguku. Matanya sayu, menatapku setengah memohon.

“Tae Rin.. maafkan aku, aku tahu aku salah di masa lalu,” ia mengusap pipiku lembut, “tapi.. izinkan aku memperbaiki kesalah itu.”

****

“Jadi apa kabarmu?” tanyanya sekali lagi.

Aku memutar bola mataku, lebih memilih melihat ke luar jendela mobil dibandingkan menjawab pertanyaannya untuk yang kali ketiga. Ia terkekeh, aku tidak tahu bagian mana yang lucu. Aku tetap mengabaikannya.

“Kita makan dulu, bagaimana? Kau belum makan, kan?” usulnya.

Aku hanya mengangguk menanggapi usulannya. Tidak ingin banyak bicara. Aku menatap nanar pantulan wajahku di kaca. Aku kembali bersamanya, bertemu dengannya. Laki-laki yang sangat ingin aku lupakan. Tapi, walau bagaimanapun aku tidak berhak marah secara terang-terangan kepadanya. Perjanjian kami dulu merupakan kesepakatan bersama.

Lalu kalimat tajamnya terngiang lagi di benakku. Tidak, aku juga berhak marah, ia tidak mempunyai hati, batinku. Kalau ia mempunyai hati, setidaknya dulu ia bisa berbasa-basi padaku.

“Melamunkan apa?” tanyanya.

Aku mengangkat bahuku acuh. Ku katakan sebelumnya, aku tidak ingin menanggapinya.

“Ayo turun.” Ia mengintruksiku.

Aku mengikutinya, dan tercengang saat melihat restoran di depanku. Aku mencekal lengannya, membuat ia menaikan satu alisnya, bingung.

“Kenapa?” tanyanya lembut.

Aku menggeleng, “kita makan di tempat lain saja.”

“Tapi…,”

“Di tempat lain atau tidak sama sekali,” ancamku.

Ia luluh, lalu membawaku kembali ke mobilnya. Sebenarnya, dia sadar atau tidak, sih. Lalu aku tersadar, ia tidak mungkin mengingatnya.

Kami melanjutkan perjalanan dalam diam. Kali ini entah kenapa, ia juga tutup mulut. Tidak seperti beberapa saat lalu. Ia fokus dengan jalanan, seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Kyu Hyun-ssi…,” panggilku.

Ia tersentak, tersadar dari lamunannya. Lalu tersenyum ke arahku. Nah, aku benar saat ia sedang memikirkan sesuatu, kan?

“Ya Tae Rin,” jawabnya.

Aku menggigit bibir bawahku. “Oh, jangan lakukan itu.” serunya.

Aku mengernyitkan dahiku. Melakukan apa? Aku tidak merasa melakukan apapun.

“Apa maksudmu?”

Ia menghela napasnya. “Jangan menggigit bibirmu.”

Aku tergelak, namun tak berani tertawa. Apa yang salah saat aku menggigit bibirku? Hal itu adalah suatu kewajaran, mengingat seluruh orang pasti pernah menggigit bibirnya sendiri. Lalu aku terkesiap, teringat Mr. Grey. No! teriakku dalam hati. Kyu Hyun bukan Mr. Grey. Mr. Grey akan merasa bergairah jika melihat Ana menggigit bibirnya. Konyol, Kyu Hyun tidak mungkin seperti itu.

Tapi, mungkinkah setiap laki-laki seperti Mr. Grey? Termasuk Kyu Hyun? Aku menepis pikiranku. Itu hanya karakter dalam novel Tae Rin, batinku bersuara.

“Kau seperti Mr. Grey,” gumamku.

Tiba-tiba ia menepikan mobilnya, lalu memandangku intens.

“Percayalah, apa yang kau baca tentang karakter Grey, ada dalam diriku. Aku laki-laki dan dia pun begitu. Jadi, berhenti menggigit bibirmu seperti Ana,” Tegasnya.

Mobil kembali berjalan. Aku tergelak sekali lagi, tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Mungkinkah? Oh mungkin saja, E . L James pasti tahu benar karakter seorang pria bagaimana saat membuat karakter Grey.

“Berhentilah,” geramnya.

Aku semakin tertawa, mendapati diriku seperti ini membuatku bingung sendiri. Bebebrapa saat yang lalu aku marah dengannya, sangat marah. Namun saat tahu fakta kalau dia –well, mungkin saja membaca Fifthy Shades Of Grey, membuatku lebih tergelak.

“Apa sih yang kau ketawai?” ia menaikan alisnya penasaran, lalu tak berselang lama ia ikut tertawa.

Mobilnya berhenti, tepat di depan ada sebuah tenda. Jadi, dia mengajakku makan di tenda pinggir jalan?

“Kau serius?” Aku menatapnya tak yakin.

Ia mengangguk, “ayo turun, sepertinya tidak masalah.”

Aku menurut dan mengekorinya. Suasana di dalam tenda terlihat lengang, tidak terlalu banyak yang makan dan minum disini. Cukup membuatku menarik napas lega. Sebenarnya, apa yang aku khawatirkan?

Oh, tentu saja Kyu Hyun. Mungkin saja seseorang mengenali Kyu Hyun, seorang pengusaha yang hampir bangkrut dan mencemoohnya. Aku menggeleng sekali lagi, seharusnya kebiasaan menonton drama harus ku kubur. Efeknya terlalu berbahaya terhadap pikiranku.

“Mau memesan apa?” katanya sambil memanggil seseoran pelayan.

“Apa saja, atau samakan saja sepertimu.” Aku menenggelamkan kepalaku di kedua tanganku yang terlipat di atas meja. Kepalaku terasa berat dan pusing.

“Baiklah, kami memesan jjangmyun dan soda, ehm dan satu lagi.. telur gulung.” Katanya kepada pelayan.

Hanya ada keheningan saat kami menunggu pesanan datang. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku masih menenggelamkan kepalaku, terlalu pusing untuk diangkat. Efek kelelahan yang timbul akibat bekerja terlalu keras sampai malam.

“Kau kenapa?” tanyanya dengan nada khawatir.

Aku menggeleng, dan mengacungkan jempolku. Bahwa ‘aku-baik-baik-saja’ kepadanya.

“Benar?” tanyanya sekali lagi.

Aku menggumam, tak berniat menyuarakan suaraku.

Pesanan kami datang setelah beberapa menit menunggu. Perutku bergejolak saat mencium harum makanan lezat. Aku baru teringat kalau hari ini aku baru memakan roti isi coklat untuk sarapan.

Aku menegakan kepalaku, mencomot telur gulung dan meamakannya. Lalu, aku mulai kalap dengan memakan jjangmyun-ku secara menggebu-gebu. Tidak peduli kalau ada Kyu Hyun di depanku. Peduli setan, perutku sedang mengamuk saat ini, batinku.

“Berhenti melihatku dan mulailah memakan makananmu pak,” kataku ketus.

****

Aku mendengar ponselku berdering, aku mengabaikannya dan lebih memilih memejamkan mataku lagi. Bergelung di bawah selimut hangat nan tebal. Lalu ponsel itu bedering lagi, aku menggapai jemariku mencari-cari ponselku. Namun tidak ada. Aku terpaksa membuka kedua mataku, dan bangun terduduk di atas kasur empuk.

Aku masih mendengar suara Sara Bareilles mengalun indah. Aku tergopoh-gopoh menghampiri tasku yang berada di atas sofa. Sambil memijit kepalaku yang luar biasa pusing. Suara itu hilang lalu muncul lagi, aku mendapatkannya. Mengernyit saat melihat caller id yang tertera. Untuk apa Yunho meneleponku pagi-pagi? Batinku.

“Ya, halo,” jawabku setelah menerimanya.

“Demi Tuhan Tae Rin! Apa yang kau lakukan dengan tidak menjawab teleponku?”

“Ini masih pagi Yunho, jangan marah-marah,” kataku.

Lalu suara makian itu terdengar lagi. “Pagi? Kau sinting! Lihat jam Tae Rin, ada apa sebenarnya dengan dirimu? Ya Tuhan..,” Yunho terdengar menghembuskan napasnya frustasi, “..kutunggu tiga puluh menit lagi dikantorku, segera!”

Terdengar suara umpatan sebelum sambungan telepon itu terputus. Aku mengernyitkan dahiku, masih setengah sadar saat Yunho mengomeliku dengan serentetan kalimat penuh emosinya. Lalu aku melihat jam dinding di kamarku, jam sepuluh. Shit! Umpatku dalam hati.

Aku bergegas menuju kamar mandi, mencuci wajahku lalu menggosok gigi. Setelah itu berlari menuju lemari, memilih pakaian kerja dengan asal. “Sial,” umpatku lagi. Hari ini tidak ada berendam dan sarapan.

Aku mengecek kembali barang-barang di dalam tasku. Melihat schedule di i-pad untuk hari ini. Double sial, hari ini Yunho ada rapat jam setengah sebelas. Aku memakai high heelsku dan menyapukan bedak sedikit. Lalu beralari keluar rumah dengan tergopoh-gopoh, mengabaikan kepalaku yang berdenyut-denyut menahan sakit. Aku menaiki mobilku hari ini. Aku melihat kaca spion untuk membetulkan penampilanku lalu menyapukan lipstic sekiranya.

Aku sampai kantor tepat jam sepuluh lebih empat puluh menit. Teleponku sudah berdering sejak tadi. Tak sempat ku angkat karena terburu-buru. Aku memencet angka 20 di lift, langsung menuju ruang rapat. Sebelumnya aku menelepon Jae Hyun untuk mengambil materi rapat hari ini di meja kerjaku.

Aku mengetuk ruang rapat dan menunduk beberapa derajat saat beberapa mata melihat ke arahku. Wajahku memanas, aku tidak pernah telat sebelumnya. Aku terus menggumamkan kata maaf dan segera menuju bangku kosong, tempatku.

****

“Kau mabuk?” tanya Yunho penuh selidik.

Aku gelagapan, Yunho tidak pernah menyukainya saat aku mabuk. Karena dia tahu, aku tidak pernah bisa mengontrol diriku saat mabuk.

“A-aku.. a.. aku tidak,” dustaku.

Yunho yang sedang berjalan, berhenti seketika. Dia menghadap padaku dengan berkacak pinggang. Seperti seorang ayah yang siap memarahi putrinya ketika ketahuan mabuk.

“Jujur saja,” tegasnya.

Aku semakin menundukan kepalaku, hampir tidak berani saat di tatap Yunho seperti itu.

“Tae Rin..,” ujarnya dengan lembut.

Kemudian aku mendongak, menatap wajah lelahnya karena rapat selama 2 jam. Aku mengangguk, menciut di bawah intimidasinya yang dominan. Aku takut saat Yunho menunjukan peringainya.

“Bagus sekali.” Ia memejamkan matanya.

“Dengan siapa?” tanyanya.

Aku menggenggam lengannya dan membawanya menuju lift. Aku tidak ingin membahasnya di koridor kantor, sementara banyak tatapan penasaran yang di layangkan beberapa karyawan kepada kami, seakan-akan kami sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Sial, dia hanya atasanku dan sahabatku.

“Mari membahasnya selagi makan siang,” kataku setelah kami memasuki lift.

“Ku harap kau menjelaskannya secara men.de.tail,” tegasnya dengan penekanan.

****

Kami menunggu pesanan makanan kami, Yunho terus saja menatapku dengan pandangan menyelidik. Aku semakin menciut saja. Sial, aku tidak ingin terintimidasi seperti ini.

“Ayo, buku mulut manismu dan ceritakan kepadaku,” ia menyandarkan tubuhnya sambil bersidekap, “..jangan ada satupun yang terlewat.”

Aku menghembuskan napasku kesal.

“Begini.. tadi malam aku selesai jam delapan dan bertemu Kyu Hyun di halte saat aku sedang menungu taksi. Diam jangan menyelaku Yunho,” aku menutup mataku, “..dia menawariku tumpangan, namun aku menolak, lalu ia memaksa. Aku tidak punya pilihan lain dan menurut. Kami makan malam bersama. Aku meminum beberapa tengguk soju dan tidak sadar setelahnya.

Tiba-tiba saja aku sudah berada di atas kasurku dan menerima panggilanmu Yunho. Sungguh, aku hanya.. ehm melepas stress,” jelasku panjang lebar.

Ia terdengar khawatir sekaligus tertarik. Ia mendekat ke arahku, ingin menanyakan sesuatu. Namun kemudian di intrupsi oleh pelayan yang mengantarkan pesanan kami.

“Kau.. tidak apa-apa?” tanyanya setelah pelayan pergi.

Aku mengerutkan dahiku, aku tidak apa-apa. Tidak ada yang salah dengan tubuhku. Aku yakin Kyu Hyun laki-laki yang bertanggung jawab.

“Aku baik, sungguh,” yakinku padanya.

“Dia tidak menyakitimu, kan?” tanyanya retoris.

Aku tergelak, Yunho mengkhawatirkanku lebih-lebih daripada aku yang mengkhawatirkan diriku sendiri. Aku cukup tersanjung untuk itu. Lantas aku meminum Blueberry float yang ku pesan.

“Benar kau baik-baik saja? Maksudku, dia adalah laki-laki yang menyakitmu di masa lalu. Aku tidak ingin kau tersakiti lagi untuk kedua kalinya Tae Rin,” ujarnya.

Aku menggeleng, “Tidak, ayolah jangan bahas ini. Kita makan saja, aku belum sarapan.”

“Omong-omong, makanan ini, kau yang bayar, ya? Kau kan bos ku,” ucapku.

Dia melempar tissue-nya ke arahku. Aku tergelak sekali lagi, dia bisa menjadi sahabat dan bos dalam sekali waktu. Ah, sekelebat bayangan melintas di otakku. Aku hampir lupa menanyakan lamarannya kepada Go Ram kemarin.

“Jadi sekarang giliranmu,” kataku sambil tersenyum. “Bagaimana makan malam romantismu dengan Go Ram, kau tidak masuk ke celana dalamnya, kan?” godaku.

****

Kyu Hyun membolak-balikan kertas yang ada di hadapannya dengan gusar. Sudah berjam-jam ia duduk disini, berniat fokus kepada pekerjannya, namun tidak bisa. Bayangan perempuan itu terus meracau tentang dirinya di masa lalu, mmenuhi pikirannya sepanjang hari ini.

Ia tidak sanggup mendengarnya lagi. Tidak sanggup mengingatnya lagi. Lalu, ia tahu, mengalihkan perhatiannya kepada pekerjaan tidak akan mampu menghapus bayangan Tae Rin yang memakinya dalam keadaan mabuk. Kyu Hyun terenyuh sekaligus teriris melihat bagaimana kekacauan Tae Rin semalam.

Rasa bersalah yang semakin lama mendominasi hatinya seolah membuat dirinya terlalu desperate dan terus menerus merutuki dirinya. Bagaimana mungkin ia tidak menyadari perlakuan dan kata-kata kasar yang ia layangkan untuk Tae Rin waktu itu? Tae Rin hanya seorang perempuan malang. Dan terjebak oleh lai-laki bejat macam dirinya.

“Aku membencimu Kyu Hyun-ssi, kau menghancurkan hidupku.”

“Kalau saja aku tidak bertemu denganmu, aku tidak mungkin seperti ini. Disini, rasanya sakit sekali,” ujar Tae Rin sambil menunjuk dadanya.

“Aku minta maaf Tae Rin, sungguh aku benar-benar menyesal,” sesal Kyu Hyun.

“Aku begitu menyedihkan, ya? Simpan kata maafmu itu..” napas Tae Rin terengah-engah, “aku.. aku tidak tahu harus apa saat ini, Kyu Hyun, kau datang dan pergi seenak jidatmu, dasar laki-laki payah.”

Kyu Hyun tersenyum getir, dirinya memang payah. Payah karena sudah buta dengan keberadaan Tae Rin yang jelas-jelas saat itu sangat perhatian padanya. Ia menenggelamkan wajahnya di tumpukan berkas yang harus ia pelajari. Lalu suara pintu diketuk menyadarkannya.

“Masuk,” serunya.

Jong Hyun masuk dengan membawa secangkir teh hangat untuk Kyu Hyun, lalu menaruhnya di atas meja kerja Kyu Hyun. Dirinya sedikit meringis melihat atasannya yang begitu menyedihkan.

“Teh untuk memulihkan pikiranmu yang kusut,” kata Jong Hyun.

“Terima kasih,” gumam Kyu Hyun.

Jong Hyun mengangguk, lalu mengambil tempat duduk di atas sofa. Ia menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata. “Kau terlihat kacau hari ini,” gumam Jong Hyun.

Kyu Hyun mengusap wajahnya, lalu meminum teh yang di bawa Jong Hyun untuknya.

“Aku benar-benar menyakitinya Jong Hyun,” lirih Kyu Hyun.

Jong Hyun terduduk. “Siapa? Tae Rin?” tanyanya penasaran.

Kyu Hyun mengangguk lesu.

“Dia benar tersakiti olehku,” Kyu Hyun menengadahkan kepalanya, “aku brengsek, Jong Hyun-ah.”

Jong Hyun berdecak, sudah tau telah menyakiti seorang perempuan. Tapi, Kyu Hyun masih saja ingin kembali kepadanya. Kyu Hyun gila karena perasaan bersalahnya, batin Jong Hyun.

“Lupakan Kyu Hyun, kau bisa memperbaikinya,” usul Jong Hyun.

“Siapapun tahu aku harus memperbaikinya,” sinis Kyu Hyun.

Tahu-tahu saja Kyu Hyun bangkit, menyambar kunci mobilnya dan berjalan keluar kantor. Tujuannya hanya satu, Tae Rin. Hanya perempuan itu yang ada dalam pikirannya saat ini.

“Kau tak bisa melakukannya Kyu Hyun,” pekik Jong Hyun sambil mengahalangi jalan Kyu Hyun.

“Kenapa?” Kyu Hyun mendengus. “Aku akan memperbaikinya sekarang.”

Jong Hyun menggeleng, “kau tidak berpikir akan memaksanya lagi, kan? Demi Tuhan Cho Kyu Hyun! Gunakan pikiranmu! Jangan bertindak ceroboh dan seenaknya,” emosi Jong Hyun, lantas meninggalkan Kyu Hyun sendiri ke ruangannya.

Jong Hyun menghentak-hentakan kakinya kesal. Ia mendudukan dirinya di atas bangku kerjanya, memijit kepalanya yang berdenyut-denyut. Ia tidak pernah tahu apa yang ada di dalam pikiran Kyu Hyun. Seharusnya laki-laki itu sadar, Jong Hyun ingin sekali memukul kepala Kyu Hyun untuk menyadarkannya. Kyu Hyun tidak pernah bisa berpikir secara dingin. Selalu dengan emosi yang membara.

Jong Hyun terkekeh geli. Ingin memperbaikinya? Dengan emosi yang tinggi? Sama saja dengan bunuh diri. Tae Rin tidak mungkin menerimanya kembali. Diam-diam perasaan bersalah kembali menyelimuti hatinya. Jong Hyun terkekeh lagi, seharusnya dulu ia tidak membantu Kyu Hyun mendapatkan Tae Rin.

Tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka. Kyu Hyun berdiri di ambang pintu ruangannya dengan wajah memelas. Ia menghelas napas lagi, Kyu Hyun sangat keras kepala. Membuatnya ikut memutar otak agar Tae Rin bisa memaafkan Kyu Hyun sekaligus dirinya. Agar Kyu Hyun dapat menebus kesalahannya.

“Jong Hyun-ah,” lirih Kyu Hyun. Ia menghampiri Jong Hyun lalu bersimpuh di bawah kakinya.

“Kumohon Jong Hyun.. kumohon, bantu aku. Aku tidak ingin terus seperti ini.” Kyu Hyun terisak.

Jong Hyun tidak pernah berpikir kalau kejatuhan Kyu Hyun saat ini akan begitu rumitnya. Kyu Hyun terkena karma. Sudah hukum alam.

“Jong Hyun.. aku ingin kembali dengan Tae Rin, menyusun hidup dan hatiku kembali,” isak Kyu Hyun.

“Kumohon.. bantu aku,” lirihnya sekali lagi.

Jong Hyun menggeleng, tidak ada lagi Kyu Hyun yang dingin dan menakutkan. Oh, saat ini bahkan ia rela bersimpuh untuk memberinya pertolongan. Jong Hyun tidak tega, hatinya sesak melihat sahabat sekaligus mentor hidupnya menjadi seperti ini.

“Bangun Kyu Hyun,” seru Jong Hyun. Ia membangunkan Kyu Hyun lalu menggiringnya menuju sofa kecil di ruangannya.

“Tenangkan dirimu dulu,” ucap Jong Hyun lembut.

Kyu Hyun menurut, menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum bicara panjang lebar dengan Jong Hyun. Ia yakin keadaannya saat ini sangat mengenaskan. Peduli setan, ia ingin mengobati hatinya, pikirnya.

Perlahan-lahan bahu Kyu Hyun mulai tenang, tidak ada guncangan. Suara isakannya lambat-lambat sudah tidak terdengar, Jong Hyun merasakan napas Kyu Hyun sudah mulai teratur selama sepuluh menit ia menunggu.

“Jadi..,” Jong Hyun bersuara, “kita mulai darimana?”

Kyu Hyun mendongak, merenggangkan ikatan dasi yang mencekik lehernya. Kyu Hyun berpikir, ia harus mulai dari mana?

“Menurutmu bagaimana?” timpalnya.

Kyu Hyun menyendandarkan tubuhnya, mengambil sebotol air mineral di atas meja lalu meneguknya dengan tidak sabar.

“Ada satu hal yang ingin aku tanyakan dulu padamu Kyu Hyun-ah,” ujar Jong Hyun gamang.

Kyu Hyun mengangguk, membiarkan Jong Hyun berbicara.

“Begini..,” Jong Hyun menghelas napas sekali lagi, “A-apa.. apa kau mempunyai perasaan terhadap Tae Rin?”

Kyu Hyun mengurut pelipisnya. Ia sudah memikirkan hal ini. Apakah ia mempunyai perasaan kepada gadis itu? Ia tak tahu. Ia ingin sekali menanyakannya pada Jong Hyun. Reaksi jantungnya ketika melihat Tae Rin pertama kali di kantornya dengan berlumuran telur. Lalu, ketika pertemuan-pertemuan mereka selanjutnya, ada yang tidak beres dengan jantungnya. Bagi Kyu Hyun, saat ini dunianya hanya Tae Rin. Tae Rin cantik saat ia pertama kali melihatnya tiga tahun silam, tapi menurutnya kali ini Tae Rin lebih-lebih cantik dan menawan. Apakah perasaan ini sebagai bentuk pelariannya terhadap Jo-A?

Kyu Hyun tidak tahu.

“Ada yang ingin aku tanyakan padamu,” kata Kyu Hyun serius.

Jong Hyun mengamati, siap mendengar segala perkataan Kyu Hyun.

“Jong Hyun.. disini, rasanya sakit sekali ketika melihatnya menangis,” Kyu Hyun menunjuk dadanya, “lalu hatiku berdebar saat melihatnya kembali. Perasaan apa ini? Aku tidak pernah merasakannya saat bersama Jo-A. Jangan tertawa Jong Hyun.” Kyu Hyun memandang Jong Hyun sengit saat Jong Hyun terlihat menahan tawanya.

“Tapi, aku tidak ingin mengatakannya sebagai perasaan bersalah walaupun memang ada perasaan itu saat bertemunya kembali. Jadi, Jong Hyun.. bisa kau jelaskan padaku?” tanya Kyu Hun memelas.

Jong Hyun memutar otaknya, mencoba merangkai kata-kata yang tepat untuk Kyu Hyun. “Begini.. bagaimana jika.. em hanya jika Kyu Hyun. Bagaimana jika kau melihat Tae Rin bersama pria lain?”

Kyu Hyun mendelik, Jong Hyun ini ajaib, membuat perasaannya jungkir balik hanya karena sebuah pertanyaan. Dadanya panas, membayangkan Tae Rin bermesraan bersama pria lain selain dirinya. Membayangkan tubuh Tae Rin di sentuh pria lain selain dirinya, ia marah dan ia tidak ingin berbagi.

Kyu Hyun menggeleng dengan tegas. “Aku tidak akan menerima hal itu.”

Jong Hyun tergelak, ia dapat menyimpulkan kalau Kyu Hyun sedang jatuh cinta kepada Tae Rin. Tidak bisa di pungkiri lagi. Jelas Kyu Hyun sangat terpesona dengan Tae Rin yang sekarang, sangat tipe Kyu Hyun sekali. Cantik, cerdas, dan mandiri.

“Baiklah, aku akan membuat janji dengan Tae Rin. Berusaha mengorek info kalau-kalau ternyata ia masih memendam perasaan padamu. Tapi, jangan patah hati kalau ia menolakmu Kyu Hyun-ah. Diam, jangan menyelaku, akan aku pastikan jika ia menerima permintaan maafmu.” Jong Hyun memandang Kyu Hyun tajam.

“Tapi.. aku ingin kembali dengannya,” sungut Kyu Hyun.

“Jangan kekanakan Kyu Hyun, berapa umurmu? Kau bisa melakukannya dengan perlahan,” kata Jong Hyun tegas.

“Tapi…” Kyu Hyun gamang. Bagaimana jika Tae Rin menolaknya? Membuat hatinya sakit lagi?

Kyu Hyun mendongak, Jong Hyun sudah berdiri dan membenarkan jasnya. “Aku akan membuat janji dengannya, jangan cemas.” Jong Hyun berlalu sambil menepuk bahu Kyu Hyun.

Kyu Hyun tersenyum kecut. Hanya karena seorang Kim Tae Rin, dirinya terlihat begitu desperate. “Apa yang kau lakukan padaku Tae Rin?” gumam Kyu Hyun sambil menerawang jauh.

****

Untuk : Taerin Kim

Perihal : Bertemu?

Tanggal : 14 April 2014 13:10

Dari : Jonghyun Lee

Selamat siang nona Kim. Bisakah kosongkan jadwal anda hari sabtu mendatang? Ada suatu hal yang ingin saya bicarakan dengan anda.

Terima kasih.

Jong Hyun Lee, Kyu Hyun Cho’s personal assistant, Blue Sky. Co. Ltd

Aku terus membaca e-mail ini berulang kali. Untuk apa Jong Hyun mengajakku bertemu? Apakah ada sesuatu hal yang penting? Aku terus menggigit bibirku. Membalasnya tau tidak? Apakah harus? Batinku gamang.

Aku memajukan tubuhku, menggapai mouse dan mengklik tanda balas, bersiap menulis balasan untuk pesan Jong Hyun. Kalau pertemuan ini menyangkut pekerjaan akan aku terima. Aku akan menanyakannya nanti ke Yunho.

Untuk : Jonghyun Lee

Perihal : Pertemuan

Tanggal : 14 April 2014 14:00

Dari : Taerin Kim

Selamat siang Jong Hyun-ssi, kebetulan saya tidak memiliki janji pada hari sabtu. Kirimi saya alamatnya.

Tae Rin Kim, Yunho Jung’s personal assistant, GTI Group

Aku buru-buru keluar dari ruanganku dan bergegas menemui Yunho. Aku memberi isyarat lirikan mata kepada Jae Hyun ‘apa-ada-tamu?’ yang dibalas anggukan olehnya. Aku meluluhkan bahuku. Mencoba berjalan kembali ke ruanganku.

“Kenapa kembali lagi?” tanya Jae Hyun sambil menaikan sebelah alisnya.

Aku berbalik dan bersedekap. “Katamu ada tamu?”

Ia terkekeh dan berbisik, “ada Go Ram.” Katanya

Mataku berbinar, jadi ada Go Ram? Sial mereka tidak mengajakku mengobrol. Aku terlalu senang dengan kabar yang kudapat dari Yunho kemarin. Mereka akan melangsungkan pernikahan pada musim panas, tidak terlalu lama lagi. Sial, sedikit lagi ia akan menyandang status baru sebagai suami terseksi se-Korea selatan.

Aku menghambur ke ruangan Yunho. Tanpa mengetuknya terlebih dahulu, biarkan saja, lupakan sopan santun dan tata krama. Aku ingin menanyakan beribu pertanyaan pada Go Ram.

Langkahku terhenti, mereka seperti salah tingkah dan berusaha membenahi penampilannya. Ups, aku salah masuk, pikirku. Sepertinya aku menjadi pengacau acara ciuman mereka.

Wajah Go Ram tertutup rambut, ia menunduk malu. Yunho memegang pinggangnya dengan sayang. Sial, sial, sial, aku iri melihat keromantisan mereka.

“Hai,” sapaku pada mereka. Yunho mengerutkan dahinya.

“Pengacau,” desisnya. Aku hanya memberinya senyuman manis.

“Go Ram, kemari. Aku ingin bertanya.” Aku mengayunkan tanganku menyuruh Go Ram mendekatiku.

“Tidak boleh, keluarlah. Nanti saja bertanyanya,” kata Yunho sinis.

Aku mendengus, “Gila kau Yunho, ini masih jam kantor. Untung aku yang masuk.”

Yunho terkekeh, lalu memandang Go Ram dengan sayang. “Kau mau mengobrol dengannya?” tanya Yunho pada Go Ram lembut, membuat aku mengulum senyum.

Go Ram mengangguk lalu melepas pelukan Yunho pada pinggangnya. Ia berjalan ke arahku dengan anggun. Wanita ini memang dilahirkan untuk terlihat cantik dan anggun, pikirku.

Aku menarik tangannya. “Rammie-ah bagaimana kalau kita belanja?” usulku.

Sejenak ia berpikir sambil sesekali melirik Yunho yang duduk menanti jawabannya. Go Ram mengangguk, “usul yang bagus, tapi apa tidak apa-apa saat jam kantor seperti ini kau pergi?”

Aku mengendikan bahuku. “Tunanganmu bos-nya. Kurasa tidak masalah,” kataku dengan seringaian.

Yunho mendelik ke arahku, membuat aku mengacungkan kedua jariku membentuk huruf ‘v’.

“Tunggu dulu, ada yang ingin aku sampaikan pada bos-ku.” Aku meninggalkan Go Ram dan berjalan menuju meja kerja Yunho. Sekilas aku mengangguk hormat. Walau bagaimanapun dia tetap bos-ku. Sementara Yunho memberiku tatapan ‘apa-yang-kau-lakukan’.

Aku menyuruhnya mendekat lalu membisikan sesuatu. “Apa ada masalah dengan Blue Sky?” bisikku.

Ia menggeleng lalu mengernyitkan dahinya atas pertanyaanku barusan. Aku mengendikan bahuku dan menggeleng. “Aku mendapat e-mail dari asisten pribadinya Kyu Hyun, ia mengajakku bertemu sabtu ini,” jelasku.

“Benarkah?” katanya terkejut.

Aku mengangguk, “akan aku ceritakan nanti.”

Ia mengangguk paham lalu dia menyerahkanku sebuah kartu platinum. Ah, senang sekali rasanya. Karena mengajak tunangannya ia menitipkanku sebuah kartu ajaib.

“Belikan apa saja yang dia inginkan,” katanya disertai senyuman.

Aku memutar mataku, berjalan kembali ke arah Go Ram yang menunggu dengan sabar. Menggapit lengannya dan berjalan keluar ruangan Yunho. “Akan kupastikan calon istrimu ini senang,” teriakku di barengi cekikikan Go Ram.

****

To be continue

Advertisements

2 responses to “One Night Memories [Bagian 2]

  1. aaa kyuhyun kenapa nyeselnya baru sekarang pas udah mau bangkrut lagi. penasaran apa aja yg jonghyun mau bilang ke taerin

  2. Yunhoooo kerennnn dsiniii
    Kyuuu perjuanganmu akan panjang sptnyaaaa

Suka? Isi kolom di bawah ini ya^^ thanks~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s