My New Bad Neighbor [Chapter 4]

my-new-bad-neighbour-shynim

Credit Poster :

rosaliaaochaExoShidaeFFandGrapchics

Dalam hidupku, baru kali ini lah aku benar-benar melihat manusia gay di depan mataku. Rasanya, semua perasaan yang aku rasakan selama ini menguap begitu saja, seperti di tiup oleh angin muson, lalu benar-benar hilang sama sekali. Aku bisa apa saat laki-laki yang aku sukai ternyata gay dan aku harus melihatnya bertengkar dengan pasangannya setiap hari, selama dia menginap di apartemen Jung Kook.

Ada dua hal yang sangat kusesali saat ia berada disini. Pertama, aku menyesal karena sudah sangat senang sekali saat Jung Kook memberitahuku jika Jin akan menginap untuk beberapa hari. Namun, hanya dalam waktu kurang dari 2 jam aku harus menelan batu kerikil karena ternyata dia gay. Kalau aku tidak sesenang itu saat pertama kali Jung Kook memberitahuku, mungkin rasanya tidak akan seperti ini. Batu kerikil itu kecil dan menyakitkan.

Kedua, aku lebih-lebih menyesal karena harus berbaik hati dengan Jung Kook kalau-kalau akhirnya akan menjadi sebegini buruknya. Maksudku, ayolah–untuk apa aku berbaik hati padanya jika ia seperti ini padaku, semestinya ia sudah memberitahuku jauh-jauh hari mengenai disorientasi Jin, ‘kan?

Tapi, setelah aku pikir-pikir lagi, penyesalan sangat tidak ada gunanya. Lebih-lebih menyesal karena tindakan sendiri. Nah, selanjutnya apa yang dapat aku lakukan saat posisiku serba salah seperti ini?

Jadi ceritanya seperti ini, sudah beberapa hari ini pasangannya Jin terus menerus datang ke apartemen Jung Kook, setelahnya mereka bertengkar dan berakhir tanpa penyelesaian berarti. Nenek Go akan datang melerai mereka tapi akan angkat tangan beberapa saat kemudian. Mulut pasangan Jin sangat pedas. Pernah suatu hari saat aku baru saja pulang dari kuliahku, laki-laki itu berdiri menyender di depan pintu apartemen Jung Kook, lalu menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Aku hanya bisa menunduk dalam sambil sekonyong-konyong berlari kecil menuju apartemenku. Aku merasa pandangannya menusuk tulang punggungku dan sampai menembus ke sum-sum tulang belakangku.

Dan karena itu aku terus menggerutu sepanjang hari. Di maki oleh teman-temanku dan mengatai aku sebagai nenek-nenek karena gerutuanku yang tak kunjung berhenti. Mau bagaimanalagi, jika aku sudah terlanjur kesal, pasti akan seperti ini.

Aku berjalan perlahan menuju apartemen, menaiki tangga satu persatu dengan hati-hati. Aku mendapat firasat buruk lagi hari ini. Setelah sampai di ujung tangga, kulihat koridor apartemen terlihat sepi. Tidak seperti beberapa waktu lalu. Lantas aku mulai berjalan dengan tenang menuju pintu apartemenku. Mengeluarkan kunci dari tas, dan lagi-lagi harus memerlukan waktu ekstra karena terselip diantara banyak barang lainnya. Aku merutuki kecerobohanku yang satu ini.

“Hye Hwa!!!”

“Oh astaga.” Aku terkesiap dan membalikan badanku, jantungku berpacu dengan cepat karena terkejut. Dan aku menemukan Jung Kook disana, dengan cengiran lebarnya. Menutup mataku, aku mencoba menormalkan detak jantungku kembali.

“Mau apa kau?” Tanyaku sedikit sarkatis.

Ia menurunkan sedikit senyumnya, aku menjadi merasa tidak enak hati. Kupikir aku sudah terlalu kasar kepadanya. Aku membalikan badanku kembali, mengambil kunci yang sudah kutemukan dan segera membuka pintu.

“Maaf,” kataku, lalu segera menutup pintu dan masuk kedalam.

Aku masih berdiri di belakang pintu, berdiam diri untuk beberapa saat, menyandarkan diriku disana. Sampai aku mendengar suara dari luar, tidak hanya seorang, tapi beberapa orang. Aku mengeryit, tidak asing dengan suara-suara itu. Aku mencoba menempelkan telingaku, ingin mendengarkan lebih jelas.

“Bagaimana?” tanya seseorang.

“Apanya yang bagaimana? Aku semakin terlihat bodoh, kau tahu?” Itu suara Jung Kook, aku mengenal suaranya.

Lalu aku mendengar derap langkah menjauh, suara mereka semakin samar hingga aku mendengar suara pintu tertutup. Rasa penasaranku bangkit, ada apa sebenarnya? Kenapa perasaanku tidak enak seperti ini?

****

Aku terus membalikan halaman buku, pikiranku terus di penuhi dialog Jung Kook dengan seseorang yang tak kuketahui kemarin. Aku merutuki suasana perpustakaan yang sepi sehingga membuatku terus memikirkan hal ini.

“Hye Hwa-ya kau melamun,” seru seseorang kepadaku.

Aku mengengokan kepalaku kesamping dan menemukan sahabatku yang sedang menempatkan bokongnya di sebelahku. Aku mengendikan bahu, berusaha tidak memerdulikannya. Aku sedang malas berbicara, lebih-lebih ia melihat aku yang sedang melamunkan Jung Kook. Bisa mati jika aku memberitahunya.

“Mau?” tawarnya. Menyodorkan sebungkus permen lollipop merah jambu padaku. Aku mengambilnya tanpa berpikir dua kali.

“Terimakasih,” sindirnya. Aku berusaha bersikap tak peduli lagi. Aku sudah bilang kalau aku sedang tidak mood mengobrol.

“Bicara, dong. Aku bosan,” gerutunya.

“Kau mendiamkanku semenjak tadi, memangnya aku punya salah padamu?” Wajahnya memelas, sambil mengembut permen lollipopnya.

Kudengar helaan napasnya, kasihan juga dia, pikirku.

1 menit… 2 menit… 3 menit….

Demi neptunus, aku tidak bisa seperti ini terus-menerus.

“Yoon Hye-ya!!!!!” seruku agak manja.

“Jadi, sudah mau bicara, ya?” katanya agak lesu.

Aku mengangguk mengiyakan. “Aku punya masalah, besaaaaar sekali.”

“Sebesar apa?” tanyanya santai.

“Sebesar.. bokong dosen Nam.” Kami terkikik geli bersamaan.

“Jangan bercanda, aku serius,” omelnya, masih tetap tertawa.

“Aku juga serius Yoon Hye.”

Kini aku diam, tidak tahu harus mulai darimana. Aku mendongak saat sesuatu menyentuh bahuku lembut, mendongak dan melihat senyuman Yoon Hye, ia mengangguk, berusaha meyakinkan aku.

Aku menghela napas. “Kamu tahu Jin? Kim Seok Jin, senior kita.”

Ia mengangguk antusias saat mendengar nama itu, aku memutar bola mataku. “Dia tampan,” serunya.

“Dia gay,” tukasku cepat.

Mulutnya membeo dalam sepersekian detik saat aku memberitahunya.

“Kau serius? Maksudku, kau benar-benar serius? Jin gay?” Mulutnya masih menganga, hampir tak percaya.

“Seratus persen serius,” aku menepuk bahunya sambil mengisyaratkan padanya agar tetap merahasiakan hal ini, “kau bisa, kan?”

Ia mengangguk, merespon kalimatku.

“Dan… Yoon Hye, aku pikir aku tidak bisa menyukainya lagi.”

“Apa? Tunggu, kau menyukainya?” pekik Yoon Hye.

Aku tergagap, matilah sudah, aku menyimpan perasaan ini dari jauh-jauh hari. Bodohnya aku yang tidak pernah menceritakan ini kepada Yoon Hye.

“Aaa… bagaimana ya? Ehm…” Aku masih kehilangan kata-kata, lalu ia menepuk bahuku.

“Sudahlah, tidak apa-apa. Tapi yang jelas jangan sekali-sekali kau berpikir untuk tetap menyukainya. Gay… masih terdengar tabu,” jelasnya.

Aku mencebikan bibirku, enak sekali menyuruhku untuk menghilangkan perasaan sukaku terhadap Jin selama ini. Dia pikir itu mudah?

Tapi, aku juga mengamininya, gay masihlah tabu untuk diterima dalam lingkungan masyarakat.

Lalu aku mengangguk lesu. “Kurasa kau benar,” aku menghembuskan napasku. “Mau ke book fair?” tawarku.

Dan dibalas anggukan antusias oleh Yoon Hye. Kami selalu bersemangat kalau menyangkut buku.

****

“Ya Tuhan, nenek… seharusnya nenek meminta bantuan laki-laki yang berada di apartemen ini. Kalau begitu kan tidak harus susah-susah mengangkat ini ke lantai atas,” omelku pada nenek Go. Habis dia sok sekali ingin membawa box pakaian ini seorang diri, ke lantai atas pula.

“Sebenarnya kau berniat membantuku atau tidak, sih?” omelnya balik.

Aku meringis. “Tentu saja aku berniat, tapi setidaknya kan nenek tidak perlu kesusahan begini,” belaku.

Aku tergopoh-gopoh mengangkatnya, menaiki undakan tangga yang lumayan banyak. “Memangnya isinya apa sih, nek? Tidak mungkin kalau pakaian akan sebegini beratnya… ouch!” Aku melepaskan tanganku dari pegangan saat dirasa tanganku menjadi kebas. Sakit sekali.

“Ya ampun Hye Hwa… kau tidak apa-apa?” Pekik nenek Go dengan histeris.

Lalu aku mendengar langkah kaki terburu-buru yang berasal dari lantai atas dan bawah. Aku hanya menggeleng dan memberi isyarat jika aku baik-baik saja. Beberapa orang terlihat khawatir dengan raut wajah penuh tanda tanya, penghuni apartemen ini keluar semua, tak terkecuali Jung Kook.

“Ada apa nek?” Seru paman Choo dari bawah.

Nenek terlihat cemas dan memberitahunya jika kami sedang mengangkat box miliknya yang super berat. Tahu-tahu saja Jung Kook sudah berada di dekatku, mengambil alih box itu dari tanganku lalu mengangkatnya menuju kamar nenek Go.

“Lain kali sebaiknya nenek memberitahu kami. Kasihan Hye Hwa, tubuhnya kecil begitu,” sahut Tae Il dengan wajah sama cemasnya.

“Iya, aku tahu aku salah. Sudahlah, tidak usah cemas, biar aku yang mengobati Hye Hwa,” seru nenek Go. Perlahan-lahan kumpulan orang mulai menghilang. Aku dan nenek Go naik ke lantai atas, dan menemukan Jung Kook di ambang pintu kamar apartemen nenek Go.

“Terimakasih Jung Kook,” kata nenek Go.

Ia hanya mengangguk sambil tersenyum seperti biasa. Lalu ia mengambil tanganku, menghantarkan gelenyar-gelenyar aneh dalam tubuhku.

“Tanganmu membiru,” katanya. Buru-buru aku menarik tangaku, detak jantungku terus berpacu dan pipiku memanas.

“Biarkan saja.”

“Aku yang akan mengobatinya,” sahut nenek Go. “Mari Hye Hwa, masuk ke dalam.”

Nenek Go terlebih dulu masuk dan segera disusul olehku. Jung Kook mengikuti dari belakang. Aku tidak tahu apa maunya, jelas ia sangat sangat ingin tahu urusanku.

“Duduk Hye Hwa. Aku akan mengabil air dingin untuk mengompres lukamu.”

Aku mengangguk dan segera duduk di sofa yang terlihat nyaman. Nenek Go tinggal seorang diri, dulu saat pertama kali aku pindah kesini, suaminya dalam kondisi yang memprihatinkan, penyakit stroke dan diabetes. Beberapa bulan berselang ia dipanggil yang Maha Kuasa. Anaknya sesekali datang untuk menengok nenek Go.

“Kemarikan tanganmu,” Perintah nenek Go. Aku mengulurkan tanganku, yang sudah membengkak, karena mengangkat beban yang begitu berat dan terjepit beberapa kali.

Nenek Go dengan tenang mengompres tanganku lalu membalurkan salep secara lembut.

“Lain kali jangan sok.” Sebuah suara mengintrupsi ketenangan.

Oh, aku lupa masih ada Jung Kook disini. Ia bersender di dinding dengan tangan terlipat di depan dada, tersenyum geli melihatku yang sedang di obati oleh nenek Go.

“Jangan ikut campur,” geramku.

Ia memutar bola matanya. “Hanya menasehati,” katanya.

“Tidak sopan,” gumamku.

“Kalian selalu saja bertengkar,” sahut nenek Go sambil tersenyum geli. “Nanti-nanti kalian bisa jatuh hati satu sama lain.”

Aku hampir terbahak mendengarnya. Sambil menggeleng-geleng membayangkan. Ah, membayangkannya saja tidak mungkin.

“Tidak mungkin.”

“Mungkin saja,” ucapnya berbarengan denganku.

Aku memelototinya, ia mengendikan bahunya acuh. Aku berusaha tidak memedulikannya. Beralih kembali kepada nenek Go, ia memijat tanganku. Sedikit nyeri, tapi rasa sakitnya sedikit berkurang.

“Aku rasa tanganku terkilir juga,” kataku padanya.

Ia membelalak, “Oh sayang, maafkan aku.”

Aku menggeleng sambil tersenyum. “Tak apa, mungkin besok aku akan ke dokter.”

“Hye Hwa,” panggil Jung Kook. Aku mendongak, ia berada di depanku, wajahnya tak terdefinisi.

Ia berjongkok, mengambil tanganku yang berada di genggaman nenek Go. Meraba-raba, dan membuat gelenyar itu muncul kembali. Aku berusaha menormalkan detak jantung sialan ini.

“Sebaiknya kau antar Hye Hwa ke klinik, rumah sakit, atau ke dokter manapun. Ya Tuhan, Hye Hwa sayang… itu pasti sakit,” cemas nenek.

“Tidak perlu. Ayo ke apartemenku, kurasa aku bisa mengobatinya.” Jung Kook berdiri menggenggam tanganku yang satunya.

“Terimakasih nenek Go,” Katanya sambil menyium pipi nenek.

“Cepat obati dia,” perintah nenek Go dengan raut cemasnya.

Sesampainya di apartemen Jung Kook, ia mendudukanku di salah satu sofa vintage nya. Ruangan ini jauh lebih rapih daripada beberapa waktu lalu. Tidak ada barang-barang yang tercecer di lantai, juga makanan yang berserakan. Ruangan ini lebih nyaman dan bersih.

Ia kembali dengan membawa perban dan obat-obatan yang tidak ku ketahui. Mengurus tanganku dengan telaten, dan membuat jantung ini kembali berpacu dengan cepat. Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, berusaha mengenyahkannya dalam pikiranku. Aku memikirkan hal-hal lain yang dapat mengalihkan perhatianku tentang dia.

Tahu-tahu saja tanganku sudah di perban sangat rapi. Mengerutkan keningku, sedikit takjub bahwa seorang Jung Kook bisa melakukan hal-hal seperti ini, benar-benar di luar perkiraanku. Ia merapihkan alat-alatnya kembali.

“Jangan heran begitu, aku mahasiswa kedokteran,” katanya sambil bangit berdiri. Lalu menghilang menuju dapur.

“Ini.” Ia menyodorkan segelas air putih kepadaku. Menerimanya dengan kikuk lalu menggumamkan kata terima kasih, entah ia mendengarnya atau tidak.

Jug Kook sudah duduk di sebelahku. Menyenderkan kepalanya pada sandaran sofa, menengadah menatap langit-langit kamar. Aku mengikutinya. Merilekskan tubuhku barang sejenak.

“Aku tidak tahu kau mahasiswa kedokteran,” kataku.

Ia terkekeh, “Memangnya tidak kelihatan, ya?”

Aku menggeleng, bukannya tidak kelihatan. Tapi, tidak cocok, erangku dalam hati.

“Kupikir kau mahasiswa seni atau… sastra barangkali? Tapi aku salah rupanya.”

“Seperti itu ya?” gumamnya muram.

“Hei, seni juga tidak buruk,” kataku, berusaha tidak menyinggung hatinya, walau bagaimanapun ia telah berbaik hati padaku hari ini.

“Memang, tapi… apa aku benar-benar tidak terlihat seperti calon dokter?” ia tertawa. “Padahal aku sedang menyelesaikan skripsiku.”

Aku terbelalak, tak percaya jika ia sudah akan lulus kuliah.

“Kau tidak membual, kan?” tanyaku ragu.

Ia menengokan kepalanya ke arahku, lalu mencubit hidungku. “Untuk apa aku membual, tidak, kali ini aku serius dengan ucapanku.”

“Ah, aku masih memiliki 2 semester lagi,” erangku.

Ia terkekeh geli, “semangat!”

Aku mencebikan bibirku. Aku benar-benar ingin lulus dengan cepat, mencari kerja dan hidup dengan nyaman. Banyak yang ingin aku capai saat lulus kuliah nanti.

Keheningan menyergap kami. Tak ada yang bersuara, aku bisa mendengarkan helaan napasnya di sebelahku. Jam dinding terus berdetak tik tok tik tok dan seakan lupa bahwa hari sudah semakin larut. Aku menguap, merenggangkan otot tubuhku, helaan napas Jung Kook seperti sebuah nyanyian tidur, menghantarkan aku tenggelam ke alam mimpi.

****

Aku mencium bau aneh, mataku masih terpejam. Merasakan tubuhku sakit dan pegal-pegal. Ada sesuatu yang menekan perutku, membuatku kesulitan bernapas. Mencoba menggesernya, tapi tidak bisa. Sangat berat, ugh aku masih ingin tidur. Lalu aku mencoba menendang-nendangkan kakiku ke segala arah, suara pekikan terdengar. Buru-buru aku membuka mataku dan duduk.

Kepalaku pening, bangun tiba-tiba dan berusaha menyesuaikan cahaya terang yang menusuk mataku. Aku mengerjap beberapa kali, lalu yang pertama aku lihat adalah Jung Kook. Duduk dengan mengusap bokongnya, meringis kesakitan sambil terus mengumpat.

Aku tergelak, ternyata yang aku tendang adalah Jung Kook.

“Kenapa ketawa? Bantu aku,” sengitnya.

Aku menggeleng, kembali merebahkan tubuhku. Seingatku, aku tertidur di sofa, tapi sekarang aku ada di atas karpet bulu-bulunya Jung Kook. Menggeliatkan tubuhku, meringkuk dan mencoba tidur kembali.

Tak lama, aku mencium bau itu lagi. Membuka mataku, aku melihat kaki Jung Kook menari-nari di depan wajahku. Jadi, bau tadi berasal dari sini, pikirku.

Aku mengambil kakinya, menariknya hingga terjatuh.

OUCH!!!” pekiknya.

“Makanya, jangan mengusili orang. Kakimu bau,” kataku.

Aku bangkit berdiri, dan teringat kalau tangan kananku terperban. Aku sedikit meringis mengingat kejadian semalam. Pergelangan tanganku masih terasa ngilu walau tak begitu terasa.

“Kakiku tidak bau,” sungut Jung Kook tak terima.

Aku mendengus. “Cium saja sendiri.”

Aku mengambil tasku, lalu berjalan menuju dapur. Tenggorokanku kering sekali, aku butuh air. Kulihat Jung Kook benar-benar mencium kakinya lalu mengernyit begitu selesai.

****

“Hei, mau kemana?” tanya Jung Kook.

Aku mengendikan bahuku, tidak tahu juga akan kemana hari ini. Biar saja kakiku melangkah sesuai kata hatiku. Terlalu jenuh berada di dalam sini seharian.

“Ke toko buku, mungkin,” jawabku acuh.

“Aku ikut, ya?” katanya.

Aku menggeleng, tidak untuk kali ini. Aku tidak ingin di ganggu Jung Kook.

“Memangnya kau tidak punya kehidupan lain selain mengekoriku?”

Jung Kook tersenyum tipis. “Tidak, aku tidak akan menggangumu kali ini.”

Aku mengamatinya. Wajahnya terlihat penuh harap. Tapi pendirianku masih tetap, tidak untuk hari ini.

“Tidak Jung Kook, aku hanya ingin sendiri,” tolakku sekali lagi.

Jung Kook menghela napas, mengacak rambutnya dan mendesah frustasi. Lalu ia mendongak, menatapku intens. Aku hampir-hampir tidak punya keseimbangan saat ia menatapku seperti itu.

“Kita buat kesepakatan Hye Hwa,” katanya pelan.

Aku mengernyit, sedikit bingung dengan ucapannya.

“Apa?” tanyaku.

“Masih ingat tempo lalu kau memintaku untuk membantumu melupakan Jin?”

Aku mengangguk, “Lalu?”

“Aku akan melakukannya,” ucapnya yakin. “Aku akan membuatmu berpaling dari Jin dan menyukaiku.”

Aku membelalak, “Tidak Jung Kook, aku hanya mengatakan untuk melupakan Jin, bukan justru menyukaimu.”

Ia terdiam, pikiranku menjadi kalang kabut. Tidak mungkin, sampai kapanpun aku tidak mungkin bisa menyukai Jung Kook. Aku tidak ingin, hanya tidak ingin.

“Satu bulan Hye Hwa, hanya satu bulan.”

Aku duduk, mencengkram tali tasku. Aku tidak bisa berpikir dengan baik saat ini. Satu bulan katanya. Hanya satu bulan, bukan waktu yang lama untukku. Aku terus meyakinkan hatiku. Aku tidak mungkin menyukai Jung Kook selama satu bulan.

Aku mendongak, menatapnya yang masih terlihat berharap. Kemudian aku mengangguk, ia mengembangkan senyumnya. Aku menggigit bibirku, bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah aku sudah tepat mengambil keputusan.

“Aku akan ikut denganmu hari ini, kau sudah setuju, kan? Mulai hari ini aku akan membuatmu menyukaiku dan melupakan Jin,” katanya mantap.

Aku mendesah pasrah, ia langsung menarikku keluar apartemen. Jantungku berdebar lagi saat tangan Jung Kook menyentuhku. Tidak Hye Hwa, ini hanya reaksi alami, batinku.

Jung Kook akan mulai membuatku menyukainya. Satu bulan, Tuhan percepatkan satu bulan itu, mohonku dalam hati.

 

tbc

 

Advertisements

One response to “My New Bad Neighbor [Chapter 4]

  1. haii.. aku mau tanya yang my new bad neighbor chapter 8 dan selanjutnya boleh dikasih tau link nya…

Suka? Isi kolom di bawah ini ya^^ thanks~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s