Daddy and Me [2]

daddy and me

A/N : Nggak ada speech khusus. Happy reading^^

Marc yang ku ketahui selama beberapa bulan ini adalah sosok Ayah yang payah dan kaku. Tapi yang kulihat sekarang berbanding terbalik dengan apa yang aku lihat beberapa bulan yang lalu. Marc sebagai Ayah yang baru mengenal aku –sebagai anaknya belum lama ini terlihat begitu menyenangkan –saat kami memasak berdua di dapur.

Malam ini Na Ra Eonni akan datang –sesuai dengan permohonanku kepada Marc. Marc terlihat serius dengan masakannya. Tiba-tiba saja memori beberapa tahun lalu terlintas di pikiranku, Aku merindukan Ibu. Saat aku baru memasuki sekolah menengah pertama, aku meminta diajarkan memasak –karena sialnya di sekolahku ternyata ada pelajaran tata boga. Ibu mengajariku berbagai cara dalam memasak. Aku yang saat itu buta sama sekali tentang memasak, mulai tertarik dengan segala hal tentang masakan.

“Ae ra-ya, kau sudah selesai?” Sahut Marc menyadarkanku dari lamunan.

Aku menggeleng sebagai jawaban. Memasak dengan Ayah tidak buruk juga, pikirku. Aku kembali tenggelam dalam kegiatan memasakku, memotong beberapa sayuran untuk dibuat salad. Aku mempunyai rencana yang sudah kususun bersama dengan teman-temanku. Entah kenapa, aku sangat bersemangat untuk menjodohkan Na Ra Eonni dengan Marc.

TING

Tiba-tiba saja kudengar suara bel, itu pasti Na Ra Eonni. Aku berkata pada Marc agar aku yang membukakan pintunya, dan Marc mengangguk setuju. Aku segera melepas apronku dan menata kembali pakaianku yang sedikit kusut. Na Ra Eonni datang lebih awal dari yang ku kira, kulihat arlojiku baru menunjukan pukul tujuh kurang lima belas menit.

Aku membuka pintu dengan sangat hati-hati, mencoba bersikap semanis mungkin kepada tamuku. Saat pintu sudah benar-benar terbuka –aku melihat Na Ra Eonni, ya dia berada di sana –Tapi tidak sendiri, di belakangnya ada Hayoung. Wajahku berubah masam seketika saat pandanganku terarah kepadanya. Dengan gaya angkuhnya dan pakaian yang serba terbuka –disamping walaupun ia memakai Coatnya. Tetap saja, pakaiannya dapat terlihat jelas olehku. Pandanganku beralih kepada Na Ra Eonni dan langsung tersenyum kepadanya, aku mempersilahkannya masuk. Ku tebak ia sangat tidak suka dengan keberadaan Hayoung disana. Ia memasang senyumnya dan menyerahkan Coatnya kepadaku –sambil menggosok-gosokan telapak tangannya karena kedinginan. Sementara Hayoung masih berdiri di depan pintu dengan wajah cemberutnya.

“Sebaiknya kau ijinkan dia masuk, dia tamumu juga, kan?” Tiba-tiba saja Na Ra Eonni bersuara.

“Tidak, aku tidak mengundangnya.” Celetukku.

“Ayo, kita masuk, di luar sangat dingin.” Aku pun menuntun Na Ra Eonni untuk masuk kedalam rumah.

“Ya anak kecil! Ini semua salahmu! Mana Kyu Hyun-ku!” teriak Hayoung dengan suara penuh amarahnya padaku.

Aku berbalik, ingin menumpahkan segala emosiku padanya. Lalu, aku merasakan sebuah tangan hangat yang menahan siku lenganku. Aku menengok ke arahnya. Na Ra Eonni mengisyaratkan kepadaku untuk tidak membalasnya. Aku memejamkan mataku dan menghembuskan napasku. Lalu, aku segera menatap Hayoung –dengan wajah memerahnya.

“Dengar, aku tidak merasa mengundangmu malam ini, Ayah pun begitu. Jadi kumuhon kepada anda untuk pergi dari sini, sekarang juga.” Tekanku padanya.

Ia mendengus, “Ayah? Aku sangat meragukan kau adalah anak Kyu Hyun. Siapa kau? Tiba-tiba saja mengatur Kyu Hyun untuk menjauhkanku. Aku lebih mngenal Kyu Hyun dibanding Kau.”

“DIAM.” Teriakku. Aku sudah tidak tahan dengan wanita jalang ini. Aku benar, kan? Tentang persepsiku mengenai dia. Untung saja Ayah segera memutuskannya.

“Anda sungguh tidak mempunyai sopan santun, ya?” Sindirku.

Ia menaikan sebelah alisnya, wajahnya makin memerah. Jelek sekali.

“Sekarang, aku minta anda segera pergi dari sini sebelum–“ Tiba-tiba saja sebuah suara memotong kalimatku. Itu Ayah.

“Sebelum aku menyeretmu dengan tidak sopan.”

Ayah emm maksudku Marc, ya tuhan lidahku selalu terasa keseleo saat memanggilnya Ayah. Dia sangat keren. Aku menggigit bibir dalamku untuk menahan tawaku yang siap keluar. Kulihat Hayoung segera pergi dengan taksi yang menunggunya sedari tadi. Baguslah, enyah saja kau selamanya dari pandangan kami.

“Ayo kita masuk ke dalam, makanannya sudah siap.” Ayah berjalan mendahuluiku dan Na Ra Eonni setelah kepergian wanita gila itu.

Aku mengangguk lalu dengan semangat menyeret Na Ra Eonni menuju ruang makan.

~~~~

“Maaf untuk ketidaknyamanannya,” Ayah menatapku dengan tajam. “Tentang kejadian tadi, itu diluar dugaanku.” Sesalku kepada Na Ra Eonni.

“Tidak apa-apa, aku bisa memakluminya.” Na Ra Eonni tersenyum kepadaku.

Ayah menggeser kursinya –sedikit merapat ke meja. “Ayo, kita berdo’a terlebih dahulu.”

“Aku yang memimpin!” seruku.

Ayah mengangguk dan segera memejamkan matanya, begitupun Na Ra Eonni.

“Tuhan, terimakasih untuk hari ini, terimakasih atas segala berkah yang Kau limpahkan kepada kami, dan terimakasih untuk segala lindunganMu kepada kami, Amin.”

Kami pun segera makan dengan perasaan khidmat dan tenang. Ayah terlihat lebih diam dibanding sebelumnya saat kami makan. Mungkin ini karena pengaruh dari Na Ra Eonni, ayah terlihat sangat canggung sekali.

“Na Ra Eonni! Terimakasih sudah datang!” Kataku. Mencairkan suasana yang canggung.

“Tidak masalah.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Ayah masih ingat guru Kang, kan?” Tanyaku.

“Ya.” Ayah menjawab sambil terus menatap piringnya. Padahal ia hanya memutar-mutar garpunya saja. Ya Tuhan, kasihan sekali dia, bagaimana bisa ia bersikap seperti itu di hadapan seorang wanita.

“Ayah,” aku memanggilnya sekali lagi. “Aku akan menginap di rumah Soo Jung malam ini.”

Ia mendongak, menatapku. “Hanya berdua?” Tanyanya.

Aku menggeleng, “Ada Jiyoung, Dena, dan Jieun juga.”

“Oh, kukira kau tidak terlalu dekat dengan Dena.” Sahut Na Ra Eonni.

“Ya, kami baru saja menjalin pertemanan.” Kataku menjawab keterkejutan Na Ra Eonni.

“Ya Tuhan, bagaimana mungkin seperti itu.” Timpal Ayah.

“Ya! Maksudnya apa?” Tanyaku.

“Eiss kau ini, cepat marah sekali.”

“Dia masih remaja, tentu saja emosi nya masih labil.” Na Ra Eonni terkikik saat mengatakannya. Aku makin cemberut.

Ayah juga tertawa, ia kelihatannya senang sekali. “Kau memang remaja labil, ayo turunkan bibir bebekmu itu.” Aku berjengit, belum reda kemarahanku, ia semakin memperparahnya saja.

“Ah Ayah!!!!!” Teriakku.

Ayah mengelus rambutku dengan sayang, “Sudah-sudah, habiskan saja makananmu.”

~~~~

“Ae Ra!” Panggil Na Ra Eonni, kami sedang di kamarku. Aku sedang merapihkan baju dan beberapa keperluan lainnya untuk menginap di rumah Soo Jung.

“Ada apa Eonni?” Aku duduk di kasurku. Na Ra Eonni sedang melihat-lihat kamarku.

“Ibumu cantik sekali. Rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat.”

“Benarkah?” Aku bangun mengampirinya.

“Dimana?”

Ia mengendikan bahunya. Kami terdiam beberapa saat. Na Ra Eonni sedang mengamati beberapa fotoku dengan Ibu.

“Amy!!!” Ayah memanggilku dari bawah. Aku segera keluar kamar dan menyembulkan kepalaku dari pagar pembatas.

“Ada apa?” Ku lihat ia sedang menonton televisi.

“Soo Jung menelepon.” Sahutnya.

“Oh!” Aku segera turun kebawah, berlari dan mengambil telepon rumah yang ada di samping Ayah. Aku sedikit menjauh dari Ayah.

“Kau sudah ada di depan?”

Ya! Cepatlah, aku bersama Min Yi.

“Ya!! Ku kira si bawel itu tidak ikut.” Sahutku sedikit kesal.

Aku mendengarnya Ae Ra-ya.

Aku meringis, wajahku memanas saat ku dengar suara Min Yi di seberang sana.

“Tunggu aku, lima menit lagi, aku akan mengambil tasku di atas.”

Cepatlah.

Telepon dimatikan oleh Soo Jung. Aku berlari ke atas dan masuk ke kamarku. Ku lihat Na Ra Eonni sedang memainkan ponselnya.

“Ada apa?” Tanya Na Ra Eonni.

“Soo Jung Di depan. Emm…” Aku menimbang, aku harus mengatakannya sekarang atau nanti. “Eonni, Ayah akan mengantarmu.”

“Apa?” Matanya terbelalak. “B–Bagaimana bisa?”

Aku segera lari menjauh dari Na Ra Eonni. Menghampiri Ayah dan mengatakan kepadanya jika ia yang akan mengantar Na Ra Eonni pulang. Reaksinya jauh berbeda dari Na Ra Eonni. Dia terlihat lebih santai dari yang ku duga sebelumnya. Setelah itu, aku segera melesat keluar rumah dan menemukan mobil Soo Jung yang terparkir di depan.

“Bagaimana?” Tanya Soo Jung saat aku baru saja mendudukan bokongku di jok belakang –sementara Min Yi dan Soo Jung berada di depan.

“Kita tunggu, apa yang akan terjadi.” Jawabku.

“Berapa lama?” Soo Jung mencebikan bibirnya, aku tahu ia paling tidak suka menunggu.

“Begini saja,” aku memajukan tubuhku kedepan. “Aku tahu kau malas sekali menunggu, tapi nanti akan ku berikan sebuah hadiah untukmu.” Aku tahu, ini adalah cara yang tepat untuk merayu Soo Jung.

“Ya! Bagaimana denganku?” Timpal Min Yi dengan wajah masam.

Menghembuskan nafasku lalu menyenderkan tubuhku ke belakang, aku pun memejamkan mataku. Memikirkan apa yang akan ku berikan kepada Min Yi. Kenapa sih Soo Jung harus membawa Min Yi juga? Gadis itu merepotkan sekali.

“Baiklah, bagaimana kalau aku beri kalian 2 tiket vip untuk acara fanmeeting Winner?” Tawarku.

JINJJA?!” Teriak mereka bersamaan. Soo Jung segera menggenggam tanganku, lalu berkali-berkali mengucapkan terimakasih. Begitupun dengan Min Yi yang terus mengoceh tentang member Winner; Jin Woo, Mino, dan Seung Yoon. Aku bisa apa? Mereka ini Fangirl Freak.

“Baiklah gadis-gadis. Sekarang kita lihat apa yang akan terjadi.” Kataku menyudahi pembicaraan mereka yang sudah membuat telingaku panas.

~~~~

Suasana berubah menjadi sangat canggung sepeninggalnya Ae Ra dari rumah. Na Ra tidak tahu harus berbuat apa selain duduk di sofa sambil memainkankan ponselnya, sementara Kyu Hyun menyibukan dirinya dengan membuat kopi di pantry. Menurutnya, kopi mungkin saja dapat mencairkan suasana mereka yang canggung. Diam-diam, ia melongokan kepalanya ke arah tempat Na Ra duduk.

Ia tahu dengan jelas jika anaknya mencoba untuk menjodohkan dirinya dengan Na Ra. Menurutnya, tindakan Ae Ra begitu transparan –dapat di lihat dengan jelas. Ia merasa tidak enak dengan guru Kang. Terlebih kalau dilihat-lihat guru Kang ini masih terlihat sangat muda. Buru-buru ia menyudahi membuat kopinya dan bergegas menghampiri Na Ra yang kelihatannya sudah sangat bosan.

“Ini, guru Kang.” Kata Kyu Hyun sambil menyodorkan secangkir kopi hitam ke arah Na Ra.

“Ah ya.. Terimakasih.” Na Ra membungkukan sedikit tubuhnya, lalu segera mengambil cangkir yang di sodorkan Kyu Hyun.

“Bagaimana sikap Ae Ra disekolah, guru Kang?” Tanya Kyuhyun. Ia mengambil tempat duduk tidak terlalu jauh dari Na Ra, membungkukan tubuhnya sambil sesekali menyeruput kopi yang berada di genggamannya.

“Tidak buruk.” Sahut Na Ra cepat.

“Ia termasuk anak yang pintar,” lanjutnya, “hanya saja…”

Na Ra menganggungkan ucapannya. Kyu Hyun menatap Na Ra, ingin mendengarkan kelanjutan ucapan Na Ra.

“…hanya saja?” Tanya Kyu Hyun kemudian.

“Ia sepertinya membutuhkan teman curhat.” Tambah Na Ra

“Bukankah temannya banyak?” Tanya Kyu Hyun lagi.

Lalu cepat-cepat Na Ra menyahut kembali. “Ia butuh orang dewasa untuk mendengarkannya.”

“Sejujurnya ia sempat kesal pada tuan.”

Kyu Hyun menaikan sebelah alisnya, mencoba mencerna ucapan Na Ra. Na Ra mencoba menatap Kyu Hyun, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberi tahu Kyu Hyun mengenai Ae Ra. Inilah tugasnya sebagai guru.

“Ae Ra membutuhkan waktu anda lebih banyak. Ia kesepian, baru beberapa bulan yang lalu ia kehilangan Ibunya, ‘kan?”

Kyu Hyun tenggelam dalam pikirannya. Benar. Ia terlalu menghabiskan waktunya untuk bekerja. Hanya sedikit waktu yang ia sisihkan untuk anaknya. Lalu Kyu Hyun berdeham, menggaruk tengkuknya.

“Saya… Jujur saja, saya belum terbiasa.” Ucap Kyu Hyun.

“Saya tahu, Ae Ra sudah bercerita semuanya.”

Kyu Hyun menatap Na Ra. Kenapa anaknya sangat dekat dengan guru ini? Apa yang menyebabkan mereka sangat dekat? Oh Kyu Hyun baru ingat kalau anaknya ingin mejodohkannya dengan Kang Na Ra. Sebelumnya, Hayoung tidak begitu dekat dengan Ae Ra. Tentu saja, karena kepribadian Na Ra dan Hayoung sangatlah bertolak belakang. Pantas saja Ae Ra dekat sekali dengan guru ini. Tapi, Kyu Hyun merasakan perasaan yang asing. Na Ra mengingatkannya dengan Tae Rin. Mereka hampir sama, dalam segi kepribadian.

“Sepertinya anak saya sudah banyak merepotkan guru Kang.” Kyu Hyun terkekeh.

“Apa yang sudah Ae Ra ceritakan kepada anda?” Tanya Kyu Hyun.

“Semuanya, termasuk mantan kekasih anda.” Jawab Na Ra sambil tertawa kecil.

Kyu Hyun mebelalakan matanya. “Benarkah?”

Na Ra mengangguk. “Yang tadi itu, ‘kan?”

Wajah Kyu Hyun langsung memerah padam saat Na Ra semakin memperjelasnya.

“Saya hanya berharap anda lebih mengerti Ae Ra kedepannya. Anda pasti akan terbiasa dengan kehadirannya. Lagipula…” Na Ra berusaha tersenyum lebih lebar lagi, “ darah lebih kental daripada air, kan? Anda pasti akan segera memahami Ae Ra secepatnya.”

Kyu Hyun mengangguk. Mungkin apa yang dikatakan guru Kang ada benarnya juga. Ia hanya perlu merasa terbiasa. Seiring berjalannya waktu pasti ia akan segera memahami anaknya. Ia merutuki dirinya sendiri yang sudah sangat payah menjadi seorang ayah.

“Baiklah, terimakasih atas nasihatnya. Mari saya antar pulang.” Kyu Hyun segera bangkit dari duduknya, begitupun dengan Na Ra.

“Ah, sini. Saya akan taruh cangkirnya ke dapur terlebih dahulu.” Kata Kyu Hyun.

Ia menghampiri Na Ra, berniat mengambil cangkir Na Ra. “Tidak, biar saya saja.” Tolak Na Ra saat Kyu Hyun akan mengambil gelasnya. Tapi, yang terjadi, Kyu Hyun tak sengaja menumpahkan isi cangkirnya dan membuat baju Na Ra kotor.

“Ya Tuhan! Maafkan saya guru Kang.” Pekik Kyu Hyun, ia langsung berlari mengambil tissue kering dan tissue basah. Sedikit kesulitan karena ia sangat panik dan terburu-buru.

“Ini.” Kyu Hyun menyodorkan beberapa tissue kering kepada Na Ra sementara ia membersihkan beberapa bagian yang terkena tumpahan kopi di baju Na Ra dengan tissue basah.

“Tak apa, ya ampun Tuan Cho! Anda sangat berlebihan.” Nara terkikik geli melihat reaksi Kyu Hyun yang sangat khawatir. Lalu Kyu Hyun bangkit, berlari menuju kamarnya. Na Ra masih membersihkan tumpahan kopi di bajunya, cukup banyak yang tertumpah sampai-sampai tissue yang di berikan Kyu Hyun menjadi warna hitam semua. Na Ra merasa dirinya bau kopi sekarang.

Tahu-tahu Kyu Hyun sudah berdiri di depannya dengan memegang baju bersih. “Ini, pakai ini. Aku tidak tahu ini akan muat di tubuh anda atau tidak. Setidaknya, anda tidak akan bau kopi.”

Na Ra mengambilnya sambil mengucapkan terimakasih, menanyakan dimana tempat yang bisa ia gunakan untuk mengganti baju. Beberapa menit berselang, Na Ra keluar, Ia tampak cantik dengan balutan baju yang di berikah Kyu Hyun padanya.

“Kyu Hyun-ssi.” Panggil Na Ra. Kyu Hyun sedang mengelap tumpahan kopi di lantai, lalu ia mendongak saat seseorang memanggilnya. Ia tersenyum. “Not Bad.” Katanya.

Na Ra menyengir, “Sepertinya baju ini sudah lama sekali, ya?” Tanyanya kemudian.

 

Kyu Hyun mengampiri Na Ra, lalu mengangguk membenarkan. “Baju milik Ibunya Ae Ra, syukurlah itu pas untuk anda.”

“Besok akan saya berikan kepada Ae Ra setelah saya cuci.”

“Tidak perlu, simpan saja.” Kyu Hyun berjalan menuju nakas dan mengambil kunci mobilnya.

“Ayo saya antar anda pulang.” Ucap Kyu Hyun sambil berjalan menuju pintu, dan langsung diikuti oleh Na Ra.

~~~~

Omo.. omo.. omo.. mereka keluar.” Pekik Soo Jung, ia sedikit senang karena akhirnya orang yang mereka tunggu-tunggu keluar juga, anak ini sudah mengomel sejak tadi karena ayah dan guru Kang tidak kunjung keluar.

“Lihat! Ayahmu membukakan pintunya, romantis sekali.” Kali ini Min Yi dengan suara cemprengnya.

Aku memutar bola mataku, mereka sangat berlebihan. Hal-hal seperti itu sangat biasa, maksudku itu sudah menjadi kewajiban seorang laki-laki, ‘kan? Membukakan pintu mobil untuk seorang wanita. Walau bagaimanapun, apa yang aku lihat saat ini sangat membuatku senang. Lebih-lebih sikap Ayah yang baik dengan guru Kang.

“Ayo, kita ikuti.” Perintahku kepada Soo Jung, Ia langsung mengerti dan mengikuti mobil ayahku. Kami perlu berhati-hati agar tidak di curigai ayah.

“Kita harus ceritakan ini pada yang lain sesampainya di rumah Soojung.” Seru Min Yi girang. Ratu gossip ini harus diberi peringatan dahulu.

“Tapi ingat, jangan dilebih-lebihkan.”

Ia mengangguk dengan antusias. Aku kembali mengamati mobil ayah. Menebak-nebak apa yang sedang mereka bicarakan.

~~~~

“Omong-omong tuan Cho, aku belum mengucapkan terimakasih atas makan malam –malam ini. Terimakasih, makanannya sangat lezat.” Ucap Na Ra.

“Ehm bisakah kita bicara tidak formal? Aku merasa sedikit risih,” Kyu Hyun terkekeh, “panggil namaku saja, bagaimana? Na Ra-ssi?”

“Ah ye… Kyu Hyun-ssi.” Jawab Na Ra sedikit canggung.

Mereka terdiam, fokus dengan pikirannya masing-masing. Lalu Na Ra melihat Kyu Hyun, pria disampingnya masih terlihat muda, walaupun sudah mempunyai anak gadis. Diam-diam Na Ra mengagumi sosok pria disampingnya. Wajahnya tampan –dengan mata coklat yang tajam, hidungnya yang bangir, dan bibirnya yang penuh.

Ia tidak bermaksud lancang dengan melihat wajah wali muridnya. Tidak ada satupun wanita yang akan menolak ketampanan pria ini. Beruntung Ibu Ae Ra mendapatkannya, pikir Na Ra.

Kyu Hyun menengokan kepalanya sebentar ke arah Na Ra, membuat Na Ra buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain. Wajahnya menghangat karena malu. Ia terus menghembuskan napasnya, jantungnya berdebar tidak karuan.

Ia mendengar Kyu Hyun menggumamkan sesuatu, tapi tidak bisa di tangkap oleh pendengarannya.

“Na Ra-ssi.” Panggil Kyu Hyun.

Na Ra menengok, “Ya?”

“Apa Ae Ra sudah memberitahumu kalau ia ingin pergi pada hari ulang tahunnya…. bersamamu.” Tanya Kyu Hyun, ada sedikit keraguan di kalimatnya.

“Ulang tahunnya minggu depan, tepat lima belas tahun. Ia memintaku mengajakmu bersama kami.”

“Ye… a–apa ? denganku juga?” Na Ra tertawa hambar, “itukan acara keluarga.” Lanjutnya sambil mengibaskan tangannya.

“Ae Ra ingin kau ikut.” Tegas Kyu Hyun.

Na Ra merenung, semakin lama ia terlalu masuk kedalam kehidupan muridnya. Tapi, ia terlalu menyayangi Ae Ra. Mereka dekat, dan Na Ra tahu –ia tidak akan bisa menolak permintaan Ae Ra.

“Baiklah, kapan dan dimana?” Putus Na Ra.

Kyu Hyun langsung menyahut, “Kami akan menjemputmu.”

~~~~~

“Ya Tuhan…. Ayahmu benar-benar laki-laki bertanggung jawab, ya.” Ujar Min Yi.

Aku tersenyum melihat tindakan Marc –ehm maksudku ayah. Ia sangat gentleman, i’m serious. He’s just too flawless.

I exactly wondering about how’s Na Ra Eonni feeling when dad treat her like that way.” Seruku tanpa menutupi rasa senangku melihat mereka.

Yeah, i want to have a boyfriend like that.” Balas Soo Jung.

“Myung Soo selalu menunggumu Soo Jung-ah.” Celetuk Min Yi dan langsung mendapat pukulan dari Soo Jung di kepalanya.

Aku tertawa melihat mereka, Min Yi benar. Myung Soo, anak dari kelas 1-2, menyukainya sejak pertama kali kami masuk sekolah. Malangnya dia karena Soo Jung mengidam-idamkan Lee Jong Hyun, teman kakak Min Yi.

“Yang benar saja, aku tidak menyukainya. Ah andai saja Jong Hyun Oppa memerlakukanku seperti itu.”

“Tidak akan, aku jamin.” Min Yi melipat tangannya di depan dada sambil memandang Soo Jung dengan sorot tajam.

“Ya! Ada apa denganmu!” Soo Jung tidak terima. Kedua temanku ini bisa saling berbaikan dan bermusuhan dalam waktu singkat, aku tidak terlalu peduli dengan mereka. Mengalihkan pandanganku kembali, kulihat Ayah masih mengobrol dengan Na Ra Eonni, tak berapa lama ayah memasuki mobil dan Na Ra Eonni melangkah memasuki rumahnya setelah ayah pergi.

Maldo andwae! Tidak mungkin.” Tahu-tahu saja Soo Jung sudah menangis sesunggukan sambil menutup wajahnya. Aku memandang Min Yi, ia mengedikan bahunya dan mengabaikanku, bersender di jok mobil dan memasang earphone di kedua telinganya. Aku memutar bola mataku, bahkan kejadiannya tidak lama saat aku mengalihkan perhatianku dari mereka. Tahu-tahu saja Soo Jung sudah menangis, harus menunggu sampai ia berhenti menangis –baru mobil ini bisa jalan.

Aku mencoba mencari akal, merayu Soo Jung. Karena tidak mungkin kami tetap disini, teman-teman kami yang lain sudah merengek –kapan kami akan tiba di rumah Soo Jung. Mereka memenuhi grup Kakaotalk dengan berbagai ancaman. Oh–kalau tidak salah terakhir kali mereka memperdebatkan Lee Jong Hyun. Ah pasti Min Yi menceritakan sesuatu kepada Soo Jung.

Saat aku masih berpikir, aku melihat siluet tubuh pria keluar dari rumah Na Ra Eonni. Itu Kang Min Hyuk, aku baru bertemu dengannya sekali. Ah –aku tahu bagaimana meredakan tangisan Soo Jung –yang kini makin memekikan telingaku.

“Soo Jung-ah, apa kau tahu kalau Na Ra Eonni memiliki adik laki-laki yang sangat tampan, lihat.” Aku menengokan kepala Soo Jung dengan kedua tanganku. Ia melihat Min Hyuk, dan matanya langsung membelalak seketika. Ia mencengkram tanganku dengan sangat kuat.

“Kenalkan aku padanya, kumohon.” Pekiknya antusias.

Aku memang selalu mempunyai berbagai akal untuk merayunya, dan selalu berhasil.

 

~~~~

“Jika kalian lihat –kalian pasti sangat iri!” Min Yi sedang menceritakan kejadian dua hari lalu kepada teman-teman perempuan kami. Sebelumnya saat kami tiba di rumah Soo Jung, ia juga bercerita dengan antusias dengan teman-teman kami. Sedikit menghibur mereka yang sudah lama menunggu.

“Aku juga ingin tahu.” Seru Tae Min, mencebikan bibirnya karena ia tidak bisa mendengar cerita Min Yi dengan jelas.

“Aiss kau ini laki-laki –anak laki-laki tidak boleh tahu. Sana menjauhlah.” Seru salah satu anak perempuan kepada Tae Min. Wajah Tae Min semakin mendung, lalu berjalan dengan gontai ke tempat duduknya.

Aku hanya bisa melihat mereka dari tempat dudukku. Tak berniat sama sekali mengikuti cerita Min Yi. Aku tahu ada sedikit bagian yang di lebih-lebihkan. Aku tidak masalah, aku cukup bangga dengan misiku ini.

Anak-anak kelas kami sangat menyayangi guru Kang, mereka sangat kompak saat aku mengatakan akan menjodohkan guru Kang dengan Ayahku. Aku juga senang karena banyak yang mendukungku. Tiba-tiba saja guru Kang masuk, ada anak laki-laki yang mengekorinya. Aku sempat mendengar desas-desus bahwa ada anak baru dikelasku.

“Selamat pagi anak-anak, hari ini kalian mendapatkan teman baru. Dia baru saja pindah dari Butan. Saya harap kalian memerlakukannya dengan baik.” Jelas guru Kang. Anak baru itu kelihatan sangat pendiam, cuek, dan santai. Aku tidak melihat ketegangan dalam dirinya, biasanya akan sangat tegang saat baru saja pindah sekolah.

Dia duduk di belakangku, setelah mengenalkan dirinya. Namanya Kim Han Bin, usianya lima belas tahun, wajahnya tidak terlalu buruk.

“Buka buku tugas dan catatan kalian, saya berikan waktu 10 menit. Saya akan mengadakan kuis.” Intruksinya, aku tersenyum senang, karena sudah menebak ini sebelumnya. Saat guru Kang keluar, anak-anak langsung mendesah gusar.

“Aku benci Kimia!” Seru salah satu anak dengan sedikit keputusasaan.

~~~~

“Hei, Han Bin. Butan itu dimana? Bagaimana orang-orangnya?” Saat ini anak baru itu sedang di kelilingi oleh beberapa anak yang penasaran. Sudah banyak pertanyaan yang terlontar, tapi anak baru itu sama sekali tidak menjawabnya. Dia angkuh dan sombong.

Yang ku tahu mengenai Butan, negara itu dilungkupi dengan kebahagiaan, dan kedamaian. Aku tidak tahu berapa lama ia tinggal disana, tapi ia sama sekali tidak mempunyai sopan santun. Saat aku bersekolah disini, setidaknya aku tidak sampai seperti itu. Aku masih mempunyai sopan santun dan tata krama saat seseorang bertanya sesuatu padaku.

“Ya! Jawablah pertanyaan kami, sombong sekali.” Tae Hyung lalu bergegas bangkit dan meninggalkan Han Bin.

“Berapa lama kau tinggal di Butan?” Kini Jong Suk yang bertanya, ia terlihat lebih kalem daripada Tae Hyung.

“Han Bin-ah kau bisa berbicara bahasa Butan?”

“Disana ada apa saja?”

“Apakah disana dingin?”

Aku menggebrak mejaku, merasa teganggu dengan tingkah anak-anak kelasku.

“Ya Ae Ra! Ada apa denganmu?” Seru Jun Hyung.

Aku menatapnya sengit, mereka sudah menggangguku sedari tadi. Walaupun aku diam, tapi aku mempunyai telinga untuk mendengar. “Apa susahnya kalian mencarinya di internet, pergilah dari sini. Aku sedang belajar.”

Mereka akhirnya pergi, aku mendengar desisan dari mereka. Seharusnya aku yang kesal karena diganggu mereka. Tahu-tahu saja ada yang menepuk bahuku. Aku menengok, ternyata anak baru itu.

“Apa?” Sengitku. Ia menarik tangannya, menggeleng lalu menempelkan headphone ke telinganya.

“Aiss aku bisa gila.” Aku bangkit dari tempat dudukku, berniat keluar dari kelas ini. Aku mendengar seruan Soo Jung, menanyakan kemana aku akan pergi. Aku menjawabnya tanpa berbalik.

“Ke lubang kelinci.” Kataku.

~~~~

Aku membasuh wajahku, beberapa menit yang lalu aku baru saja bertemu dengan Na Ra Eonni. Ia menyetujuinya, padahal aku belum pernah menyampaikan hal itu padanya –belakangan yang kutahu ayah yang memberitahunya. Mood-ku kembali baik setelah mendengar hal itu. Aku mengeringkan tanganku dengan tissue dan bergegas kembali lagi ke kelas, jam pelajaran akan dimulai beberapa menit lagi.

Saat aku baru saja ingin membuka pintu toilet, salah satu pintu kabinet toilet terbuka. Aku membelalakan mataku, aku tidak tahu siapa dia, wajahnya ditutupi helaian rambut. Lalu anak perempuan itu merintih kesakitan, ada beberapa luka di tubuhnya. Saat aku melangkah mendekat untuk melihatnya. Ia mendongak, aku memekik, wajahnya dipenuhi beberapa luka dan darah terus mengalir dari hidungnya. Aku mencoba memapah dia keluar dari toilet ini. Ia sempat mengucapkan beberapa kata yang tidak dapat aku tangkap dengan jelas. Lalu tubuhnya ambruk, dia pingsan.

Tubuhku merinding, aku memencet speed dial 2, nomor Na Ra Eonni. Aku menjelaskannya dengan terburu-buru dan secara tak sadar aku terisak –aku ketakutan. Beberapa menit berselang Na Ra Eonni datang dengan beberapa guru lainnya dengan membawa tandu tadi ruang kesehatan. Aku langsung memeluk Na Ra Eonni dan terisak lebih kencang.

“Aku takut.” Ucapku dalam isakan.

 

To be continue

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

16 responses to “Daddy and Me [2]

  1. lanjutt syif ,cie cover hasil karya beberapa jam di laptop eke :v ahahaha

  2. muahahaha iya terimakasih untuk laptopmu ~,~

  3. Pengen cepet baca bagian hubungan kyuhyun dan nara semakin deket, cho kiyu cepatlah belajar jadi ayah yang bener, sebenernya sih pengen tau kisah kyuhyun sama taerin, kenapa dulu emaknya amy ninggalin kyuhyun ? semoga next part cepat keluar pengen tau kelanjutannya, oh iya suka deh sama gaya penulisan bahasa kakak author kkk~ segitu aja deh comment nya bingung mau comment apalagi ._.

  4. jd pnsrn ma kyuhyun n nara ntr gmn.. nae ra kykny menggebu2 deh pngn jdhkn ayahny.. pnsrn jg siapa cewek yg dtemukn nae ra d toilet?

  5. anyyeong aku reders baru 😉
    sebelumnya aku udah komen part 1 nya diblok sebelah

    ceritannya menarik banget dan yang paling aku suka itu ketika bagian amy dan kyuhyun 😉 pokoknya mah aku seneng bnaget deh bacanya 😉

  6. Halooooo author . Aku reader baru.. aku baca part 1 nya di fncff … kyu jadi good daddy ya disni kekekw
    Semoga aera berhasil buat kyu sama nara nikah.. dan singkirin si hyoung

  7. Halo^^ iya tapi dia masih baru jadi ayah xD

  8. itu kenapa temennya?penasaran jadinya. wuah kyuhyun berusaha jadi ayah yg baik dan semoga usahanya ae ra yg mau jodohin guru kim sama kyuhyun berhasil. next part jangan lama2 ya

  9. Siapa tu yg di kmr mandi dn.knpa? Ahh gak sbr nunggu moment.mereka jaln.bertigaa

  10. halo thor saya reader baru salam kenal ^_^. aku baca part 1nya di sjff ^_^, huaaa sumpah jadi penasaran banget sama momen mereka jalan” nanti, next part di tunggu ya thor semangat buat nulisnya ^_^

  11. Salam kenal juga^^ terima kasih 🙂

  12. kyuhyun kyknya ad rasa sm nara
    cptn married y
    ae ra jgn glak” y

  13. hai aku raider baru. penasaran sama cerita lanjutannya. salam kenal yaa
    sejauh ini ceritanya menarik apa lagi kyu jadi orang tua tunggal pokoknya di tunggu kelanjutannya ya 🙂

  14. hai aku raider baru salam kenal 🙂
    ceritanya seru usaha kyu buat jadi ayah baik nyentuh banget. di tunggu kelanjutannya ya 🙂

  15. inggarkichulsung

    Wah so sweet banget Kyu Appa memperlakukan guru Kang dgn baik, so gentle, pantas saja Ae ra pgn bgt menjodohkan guru cantiknya Nara dgn Appa nya sendiri, siapa ya anak perempuan yg pingsan td dan knp bs luka2 itu krn siapa, ditunggu kelanjutannya chingu

  16. eonni bikin kyuhyun nikah sma na ra dongggg…
    kyu nya msih mlu” pdhal ska…
    next part eonn

Suka? Isi kolom di bawah ini ya^^ thanks~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s