One night Memories [Bagian 1]

ONM Cover

©pict Park goo jilExoshidae fanfic and graphic

©SHYNIM’s present

 

Saat waktunya tiba aku yakin pasti kau akan menyesal

Tidak perlu kembali kepadaku

Aku tidak membutuhkan cintamu lagi

Jangan mencariku

Jangan menemuiku

Karena yang kutahu kau tidak pernah menginginkanku

 

~~~~

 

“Kau bisa pergi dari sini mulai besok, atau kau mau sekarang? Terserah saja, aku sudah tidak membutuhkanmu.”

 

Ucapan itu yang selalu ada di pikiranku. Ucapan dari pria itu yang tidak mungkin aku lupakan. Dengan seenak hatinya memerlakukan sorang wanita dengan kasar. Aku tahu dia seorang pria yang mempunyai banyak kekuasaan, tapi apakah dia mempunyai hati untuk sekedar memahami perasaanku? Aku tinggal dengannya selama 3 tahun karena sebuah perjanjian, kami tidur sekamar walau tidak pernah melakukan hal-hal apapun.

 

Dia tidak tahu, dan kurasa dia tidak akan pernah tau. Pria sialan yang memanfaatkan status lajangku untuk dinikahinya sebagai istri palsu. Tujuannya hanya untuk menutupi hubungan gelapnya dengan seorang wanita, istri dari temannya sendiri. Aku tidak terlalu terkejut saat mengetahuinya, aku tahu pria ini sudah tidak waras saat memintaku menjadi istri palsunya. Namun setelah wanitanya bercerai dengan suaminya, ia memintaku pergi, sesuai perjanjian kami.

 

Saat ini aku sudah pergi darinya, dari kehidupannya. Kupikir aku tidak memiliki perasaan apapun padanya, tapi ternyata aku salah, perasaan menjadi istrinya selama 3 tahun membekas di hatiku. Aku sudah mencoba menghapusnya, menghapus dia dari pikiranku, tapi tidak bisa. Aku payah saat menyangkut soal perasaan.

 

Tapi setidaknya saat ini aku hidup lebih baik. Walaupun hanya hidup sendiri di kota besar ini. Aku melamar ke sebuah perusahaan besar sebagai seorang sekretaris, Berbekal ijazah sarjanaku, aku pun melamar dan menyerahkan CV-ku –selepas aku pergi dari rumahnya. Walaupun aku mendapat bayaran besar dari pria itu, aku tahu aku harus hidup mandiri tanpa tergantung pada uangnya. Aku mencoba hidup normal seperti sebelum bertemu dengan pria itu.

 

Dan kini, terhitung hampir 1 tahun aku menjadi sekretaris sekaligus asisten pribadi dari seorang CEO yang memiliki perusahaan multinasional, derajatnya sedikit lebih tinggi di atas pria itu. Dia tampan dan mengagumkan. Pangeran tampan dari keluarga chaebol Jung. Aku tidak bisa berkilah dan membohongi apa yang aku lihat dengan mengatakannya tidak menarik di mataku. Dia sangat menarik dan seksi, obviously. Tapi, hal-hal seperti itu sama sekali tidak mengubah apapun. Maksudku, aku akui aku tertarik sebagai wanita normal, tapi tetap aja itu semua tidak mengubah perasaanku padanya sama sekali. Sial, aku ingin sekali melupakannya.

 

“Melamun lagi.” Sahut seseorang, menyadarkanku dari lamunan. Aku tersenyum samar, selalu seperti ini keadaannya. Dia datang saat aku sedang melamun. Siapa lagi kalau bukan atasanku.

 

“Aku sedikit bosan.” Aku menguap dan merenggangkan otot-otot badanku.

 

“Kau berkata seperti itu pada atasanmu sendiri? Eiss.” Gerutunya, lalu duduk di kursi sebelahku.

 

“Seharusnya kau bersyukur aku ini jujur.” Kataku. Aku beryukur karena atasanku sangat terbuka dan tidak membatasi hubungan kami. Tidak kaku dan canggung, Dia memerlakukanku seperti sahabatnya sendiri.

 

“Ingin makan malam bersama?” ia melihat arlojinya. “Jam kerja akan habis 5 menit lagi.” Lalu ia berdiri, melangkah menuju ruangannya.

 

“Bersiaplah.” Katanya sebelum pintu tertutup.

 

“Jung Yunho, kau tahu aku sudah lapar dari tadi –Ah Tuhan memberkatimu, pak.” Gumamku sambil membereskan tempat kerjaku.

 

~~~~

 

“Kau yakin hanya memesan itu?” Kataku setelah mengatakan semua pesanan kepada seorang waitress.

 

Ia mengisyaratkan semuanya sudah cukup kepada waitress lalu waitress itu pamit permisi. Aku memutar bola mataku jengah. Selalu seperti ini, aku yang memesan banyak dan dia selalu memesan sedikit. Aku terlihat seperti wanita rakus saja.

 

“Aku tidak terlalu lapar.” Kilahnya. Ia menyusuri matanya ke penjuru restauran ini lalu melambaikan tangannya, menyapa kenalannya mungkin.

 

“Kau ini, bisa tidak dengan alasan lain? Kau ini harus menjaga kesehatan, makan yang banyak agar tidak sakit.” Gerutuku. Dia hanya tertawa menanggapi gerutuanku.

 

“Kau seperti ibuku, kau tahu?”

 

“Kau menyamakanku dengan ibu-ibu?” Aku mendengus.

 

“Tidak, eiss kau ini selalu saja sensitif. Maksudku kau ini perhatian sekali seperti ibuku.”

 

“Aku kan sekretarismu, kalau kau sakit aku yang akan terbebani.”

 

“Eiyy jahat sekali.” Ia memukul kepalaku, aku meringis kesakitan. Sialan, boss ini seenaknya saja memukul kepala orang.

 

“Jangan memukul kepalaku, ini aset.” Omelku sambil mengusap kepalaku.

 

Ia tertawa makin kencang, sial.

 

“Sudahlah.” Aku bersedekap, lalu mengalihkan wajahku darinya.

 

“Ya! sikap seperti apa itu, sopan sekali.” ledeknya.

 

“Diam Yunho.”

 

Kami terdiam beberapa menit, sibuk dengan kegiatan masing-masing. Pria ini sebenarnya mempunyai kekasih, Han Go Ram namanya. Aku bertemu dengannya beberapa kali di kantor saat ia mengunjungi Yunho untuk makan siang bersama. Wanita anggun dengan segala kesederhanaannya. Aku menyukai pasangan manis ini, kadang Yunho meminta saranku untuk beberapa hal mengenai kekasihnya. Semua orang tahu kalau Yunho adalah pria romantis. Aku merasa iri untuk itu.

 

Lalu aku pun mengingat sesuatu yang akan kutanyakan padanya. “Yunho-ya.” Panggilku, sontak ia mendongakkan kepalanya, memandangku dengan penuh tanda tanya.

 

“Kapan kau akan melamarnya? Maksudku, kau akan melaksanakan pertunangan dekat-dekat ini, kan?” wajahnya memerah, aku tahu dia malu. “Lamar dia, kau sudah cukup matang untuk menikah.”

 

“Begitu ya?” gumamnya. Ia menggaruk-garuk tengkuknya, selalu seperti itu saat ia merasa gugup. Aku tahu kebiasaannya.

 

“Kenapa? Aku akan membantumu.” Tukasku.

 

“Sebenarnya aku sudah merencanakannya, tapi….” Ia menatap mataku, tatapannya penuh kekhawatiran.

 

“Aku takut ia menolaknya.” Lanjutnya dengan hembusan nafas yang keras.

 

Aku menggeleng tak percaya, apa yang perlu ia khawatirkan? Aku tahu Go Ram sangat menunggu Yunho melamarnya. Oh aku tahu, mereka sama-sama pemalu. Yunho akan sangat merasa gugup saat di dekat Go Ram, memang tidak selalu, tapi itulah yang aku tangkap saat melihat kebersamaan mereka.

 

“Kau bercanda! Setiap wanita sangat berharap jika kekasihya melamar dia secepatnya. Dia pasti tidak akan menolak.” Jelasku.

 

“Kau harus melaksanakannya secepatnya.” tambahku. Menggenggam tangannya, bermaksud meyakinkannya. Dia tersenyum sambil mengangguk.

 

“Aku akan memberitahu aboenim dan eommonim kalau begitu.” Katanya sambil mengeluarkan ponselnya.

 

“Nah, ini Yunho yang aku kenal.”

 

~~~~

 

“Saya sudah mengatur jadwalnya, siang ini di hotel Hilton.” Kataku pada Yunho. Saat ini ada rapat di ruangannya. Membahas mengenai perjanjian yang akan dilangsungkan dengan Blue Sky. Co. Ltd. Aku sempat mendengar tentang perusahaan itu sebelumnya, banyak gosip tentang kebangkrutan perusahaan itu. Terjadi pailit di dalamnya, oleh sebab itulah terjadi perjanjian ini.

 

“Baiklah, saya rasa ini semua sudah cukup.” Ucap Yunho mengakhiri rapat.

 

“Oh ya satu lagi wakil Direktur Yang, siapkan semuanya. Jangan ada yang terlewat,” Intruksi Yunho. “Anda ikut saya membahas perjanjian ini nanti siang.”

 

Setelah semua petinggi keluar, aku menghampiri Yunho dengan membawa secangkir kopi untuknya. Ia tampak masih berkutat dengan berkas-berkas yang ada di hadapannya. Lalu, aku menaruh cangkir kopi itu di mejanya.

 

“Kenapa wakil direktur harus ikut?” Tanyaku tanpa menutupi rasa penasaranku.

 

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, ada Doo Joon dibaliknya, pria itu melangkah masuk. Menghampiri meja Yunho, dia salah satu orang kepercayaan Yunho.

 

“Bagaimana?” Tanya Yunho setelah mengetahui keberadaan Doo Joon.

 

Doo Joon membungkuk sedikit, menghormati Yunho, lalu ia menyerahkan sebuah amplop kepada Yunho. “Itu yang kudapatkan kemarin dan tadi pagi.”

 

Yunho Membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya, aku tahu itu lembaran-lembaran foto. Yunho tampak mengamati sambil mengerutkan dahinya. Lalu menghembuskan nafas kasar. Ia memasukannya lagi selepas melihat semuanya, aku tidak bisa melihat dengan jelas foto apa yang di lihatnya. Mereka sedang merancakan sesuatu tanpa sepengetahuanku.

 

“Kalian menyembunyikan sesuatu dariku?” Kataku sambil melipat tanganku di dada.

 

Doo Joon lah yang meresponku sementara Yunho masih terdiam. “Tanyakan saja pada atasanmu itu.”

 

Aku beralih pada Yunho, ia menyenderkan tubuhnya pada kursi. “Yunho!” Seruku.

 

Ia hanya menggumam menanggapi seruanku. Akupun beringsut kearahnya dan segera mengambil amplop itu. Ia ingin menghalangi tapi tak kalah cepat dariku. Aku yang sudah kepalang penasaran segera membuka amplop itu dan mengeluarkan lembaran foto-foto yang terdapat di dalamnya.

 

Aku tidak bisa berkata apa-apa saat melihat semua lembaran foto itu. Ada perasaan kecewa, sedih, dan tak bisa tergambarkan lagi rasanya. Aku tahu aku pernah menceritakan masa laluku padanya, namun tidak secara mendetail.

 

“Jelaskan padaku.” Kataku pada mereka.

 

Aku melangkah menuju sofa yang tak terletak jauh dari tempatku berdiri, lalu mendudukinya. Mereka mengikutiku dan menempatkan diri dekat denganku.

 

“Maafkan kami Rin-ah.” Ucap Yunho sambil menggenggam tanganku.

 

“Aku melakukan ini untukmu… kami melakukan ini untukmu.”

 

“Saat kau bercerita padaku tentang pria itu, aku sempat meragukannya. Yang aku tahu dia sangat berwibawa dan bijaksana. Oleh sebab itu aku menyuruh Doo Joon untuk menyelidikinya. Ini semua diluar dugaanku. Walaupun kau bilang kau tidak tahu nama perusahaannya, aku sudah tahu dengan mendengar namanya saja. Nanti siang kita akan bertemu dengannya membahas perjanjian itu. Dan aku membutuhkan wakil direktur Yang untuk menemaniku.”

 

Dia menatapku dengan hangat. “Aku tidak mungkin membuat sahabatku terluka dengan bertemu pria itu.”

 

Aku tersanjung, tentu saja. Pria ini sangat mengkhawatirkanku rupanya. Tapi aku tahu cepat atau lambat pasti aku akan bertemu dengannya.

 

~~~~

 

Sudah lebih dari sepuluh menit Yunho tiba, tapi tidak ada tanda-tanda kalau orang yang ditunggunya akan datang. Diam-diam Yunho meremehkan orang itu. Dan merasa terhina karena dialah yang harus menunggu sementara orang itu yang membutuhkannya –datang terlambat. Lima menit berselang barulah pintu terbuka menampakan sosok orang yang sudah ditunggunya sejak tadi. Lalu mereka berjabat tangan.

 

“Selamat siang, silahkan duduk.” Yunho mempersilahkan tamunya untuk duduk. Senyum terus terukir di wajahnya, namun tidak dengan tamunya. Ia merutuki tamunya dalam hati karena masih bersikap sombong setelah apa yang dialaminya dengan memasang wajah super datar. Sebenarnya disini siapa yang sedang membutuhkan bantuan, pikir Yunho.

 

“Baiklah kita akan membahasnya sekarang.” Ucap Yunho membuka pertemuan mereka.

 

Yunho membuka beberapa lembar map yang di bawanya sementara wakil direktur Yang menjelaskan isi perjanjian itu. Setelah semua isinya dibacakan, Yunho menilik reaksi dari pria didepannya. Tidak ada reaksi berlebih selain mata yang sedikit dinaikan.

 

“Bagaimana? Apa ada yang ingin di tanyakan? Ada yang kurang jelas mungkin?”

 

Yunho sangat tahu jika pria itu tidak mempunyai pilihan lain mengenai perjanjian ini. Ia harus menerimanya atau ia akan kehilangan perusahaannya. Licik memang, tapi menurut Yunho hal itu adalah ganjaran yang sangat pas untuknya. Tak lama setelah beberapa pembicaraan yang mereka lakukan, pria itu menandatanganinya dan pergi meninggalkan tempat itu setelah berpamitan pada Yunho dan wakil direktur Yang.

 

“Bukankah umur dia sama dengan anda pak? Kasihan sekali, dia masih muda tapi sudah seperti ini.” Ujar wakil direktur Yang. Yunho hanya bisa menyunggingkan bibirnya menanggapi ucapan wakil direktur Yang.

 

“Dan sikapnya itu terlalu tidak sopan.” Tambah wakil direktur Yang.

 

Yunho terkekeh, “Jatuh dan bangun sudah sangat biasa di dunia ini. Saat ini ia harus jatuh dahulu, ia harus di ingatkan, karena ia sudah lama berada di atas, dan lupa daratan.”

 

Wakil direktur Yang mengangguk membenarkan. “Benar, seperti kata orang bijak. Ayah bekerja keras, anak yang melanjutkan, dan cucu yang menghancurkan. Kurasa kata-kata itu benar.”

 

“Yah kita lihat kedepannya, seperti apa kerja dari seorang…” Ia berhenti sebentar, melihat tanda tangan pria itu.

 

“Cho Kyu Hyun.” Lanjut Yunho.

 

Wakil direktur Yang lalu bangkit dan pamit kepada Yunho karena ada urusan lain. Yunho masih berkutat dengan pikirannya selepas wakil direktur Yang pamit, dan tahu-tahu saja ponselnya berbunyi. Tidak berpikir dua kali ketika ia melihat id pemanggil yang tertera di layarnya.

 

“Ya sayang.” Jawab Yunho sumringah.

 

~~~~

 

“Aku tidak tahu jika dampaknya akan secepat ini.” Ujar Jong Hyun frustasi. Ia melihat ke arah Kyu Hyun yang tidak bergeming dari posisinya. Wajahnya juga tidak menunjukan reaksi apapun.

 

Sementara Kyu Hyun, dia tahu jika keputusannya ini akan berdampak besar terhadap karyawan perusahaannya. Beberapa pegawai yang di anggap tidak kompeten di pecat dan digantikan dengan beberapa orang dari perusahaan GTI Group. Baru saja kemarin ia menandatangani perjanjian itu, dan hari ini perubahan besar terjadi di dalam perusahaannya.

 

Ia tidak bisa berbuat apapun selain melihatnya. Ia tidak bisa mengajukan protes atau mengubah perjanjian yang telah disepakati. Biarlah seperti ini dulu sampai ia bisa memulihkan keadaannya setelah ia bangkit lagi, pikirnya. Yang terpenting saat ini perusahaannya tidak jadi mengalami kebangkrutan dan pemutusan hubungan kerja secara sepihak pada seluruh karyawannya, dan ia masih bernafas lega karena perusahaan ini masih miliknya.

 

“Kenapa kau diam seperti ini Kyu Hyun-ah? Lakukanlah sesuatu.” Emosi Jong Hyun.

 

Kyu Hyun mendongak menatap Jong Hyun, “Bukankah kemarin kau ikut bersamaku dan melihat perjanjian itu?”

 

“Kita hanya perlu bersabar Jong Hyun-ah.” Tambahnya.

 

Pundak Jong Hyun melesu, lalu ia melangkah menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya begitu saja. Mengusap wajahnya frutasi, Jong Hyun sama sekali tidak bisa menerima kejadian ini. Terlebih ada seorang gadis yang di sukainya turut di pecat hari ini.

 

“Kau masih pemimpinnya, kan?” Jong Hyun melihat Kyu Hyun, berharap Kyu Hyun masih bisa menggunakan segala kekuasaannya untuk mengatasi kejadian ini.

 

“Walaupun aku pemimpinnya atau bukan, perjanjian tetaplah menjadi perjanjian. Mereka sudah menyuntikan dana yang besar untuk perusahaan ini. Ambil positifnya Jong Hyun-a, setidaknya kita tidak bangkrut.”

 

“Ini sama sekali tidak bisa kuterima.” Gerutu Jong Hyun.

 

Well, kau harus menerimanya. Mulai sekarang kita harus kerja keras untuk membayar semuanya.” Kyu Hyun berjalan menuju mejanya, merenggangkan ototnya lalu mulai berkutat dengan pekerjaannya.

 

Saat-saat seperti ini yang Kyu Hyun sesali adalah kebodohannya yang terlalu terjerat dalam sebuah pesona. Pesona wanita yang seharusnya ia sadari dari awal jika itu adalah hal yang terburuk dan terhina untuk dilakukannya. Dulu saat ia menjalani hubungan itu ia tidak pernah memikirkaan hal lain selain ingin hidup bersama wanita itu –yang belakangan ia ketahui sebagai pengkhianat dan senjata paling ampuh yang di gunakan sahabatnya untuk membuatnya jatuh. Ia baru menyadarinya saat ini, dan ia sangat menyesal. Belum lagi dengan ulahnya dahulu untuk membuat seorang gadis menjadi istri palsunya. Ia benar-benar menyesalinya dan terus menghujat dirinya akan hal bodoh itu.

 

Dan ia tahu, ini adalah balasan yang setimpal untuk ulahnya. Ia hampir bangkrut dan kehilangan perusahaan yang sudah dirintis sejak kakeknya masih memimpin. Dia tidak bisa membayangkan reaksi kakek dan ayahnya jika mereka masih hidup.

 

~~~~

 

“Apa ini tidak terlalu kejam?” Tanyaku kepada Yunho. Aku bisa mendengar Yunho terkekeh di sebrang sana. Kami sedang terhubung melalui telepon. Ia menugaskanku untuk memantau langsung pergantian beberapa pegawai di Blue Sky Co. Ltd. Aku merutuki atasanku itu di sepanjang jalan. Jelas-jelas dia tahu masa laluku seperti apa, aku tidak tahu apa yang ada di kepalanya saat itu dengan menugaskanku ke perusahaan ini.

 

Hal pertama saat melihat beberapa karyawan yang di pecat, keluar dengan beruraian air mata adalah sisi lain dari Yunho. Maksudku, saat ini ia tidak memiliki rasa kemanusiaan. Dan ia hanya terkekeh saat aku tanya seperti itu.

 

“Kau akan terkejut jika aku berikan profil mereka.” Kata Yunho dengan masih terkekeh. Bertepatan pada saat itu, ada seseorang melemparku dengan telur. Aku hanya bisa meringis karena lemparannya mengenai kepalaku.

 

“Pergi dari sini! GTI Group sialan! Kalian tidak memiliki rasa kemanusiaan kepada kami! Ya Tuhan! Beraninya kalian memecat kami!” Seru seorang wanita yang melemparku dengan telur, ia menangis dengan histeris.

 

Aku masih bisa mendengar suara Yunho mengkhawatirkanku di sebrang sana, aku hanya bisa mengatakan aku baik-baik saja lalu mematikan sambungan telepon. Aku tidak menyadari jika sudah ada beberapa satpam di depanku. Membentengiku dari serangan orang-orang yang tidak terima atas pemecatannya.

 

“Kalian iblis! Tidak seharusnya kalian memerlakukan kami seperti ini!” Kini sudah banyak orang-orang yang mengikuti wanita tadi untuk menuntut haknya. It’s tottaly horrible! maksudku, mereka bisa saja melempar lebih banyak telur kepadaku, karena hanya akulah perwakilan GTI Group disini. Aku memahami perasaan mereka, demi Tuhan aku sangat marah kepada Yunho saat ini.

 

Tiba-tiba saja semua mantan karyawan itu semakin marah dan meledak-ledak, aku tidak tahu apa penyebabnya. Mereka melempar telur-telur itu lebih banyak, beberapa mengenaiku, tapi aku tahu kali ini bukan aku sasarannya. Aku menengokan kepalaku kebelakang, dan menemukan pria itu. Berdiri tanpa bergerak, seperti siap menerima berbagai bentuk hujatan dan serangan dari beberapa mantan karyawannya.

 

Tak lama beberapa personil keamanan mengamankan pria itu dan mengusir para penuntut –pergi dengan sedikit ancaman. Lobby gedung ini kembali damai seperti beberapa menit sebelumnya, hanya tersisa beberapa pecahan telur dan baunya yang menyengat. Aku masih berdiri di tempatku, mengelap tubuhku yang di penuhi telur dengan tissue. Aku tidak tersadar saat ada seorang yang amat ku kenal berdiri di depanku. Aku tahu dia adalah orang kepercayaan pria itu. Dia mengatakan jika atasannya menginginkanku keruangannya. Aku tidak bisa menolak dan langsung menyetujuinya begitu saja.

 

Jantungku berdetak sangat kencang di perjalanan menuju ruangan pria itu. Ini akan menjadi pertemuan pertama kami setelah tidak bertemu selama kurang lebih 1 tahun. Setelah kami berpisah, dia tidak pernah menghubungiku –begitupun sebaliknya. Aku tahu jika tidak ada alasan lagi untuk kami saling berhubungan satu sama lain. Dan kini kami akan bertemu lagi dalam status yang berbeda.

 

Aku memasuki ruangannya setelah Jong Hyun memersilakanku masuk. Jantungku semakin berdetak kencang saat melihat ia dengan balutan kemeja berbeda dari yang terakhir aku lihat. Ia sudah berganti pakaian, sementara aku belum. Dia berbalik badan dan menyerahkanku sesuatu.

 

“Miss Kim, ini. Bergantilah, aku rasa kau sudah tidak nyaman dengan pakaian itu.” Katanya sambil menduduki sofa.

 

“Kau bisa berganti disana.” Ia menunjukan arahnya padaku, aku mengikutinya. Sedikit terkejut dengan diriku sendiri karena begitu mematuhi perintahnya.

 

Setelah berganti pakaian yang lebih layak aku menghampirinya, ia sedang bergelut dengan tab-nya di tempat yang sama saat aku pergi meninggalkannya untuk berganti pakaian. Ia menyadari kehadiranku lalu menaruh tabnya di meja dan memersilakan aku untuk duduk.

 

“Maafkan atas kejadian tadi.” Katanya membuka suara.

 

“Ini bukan sepenuhnya salah anda Tuan.” Jawabku sungkan.

 

“Ya, seharusnya saya memberitahu mereka tentang hal ini. Tapi saya tidak menyangka pemecatan ini akan terjadi secepat ini.” Dia sedikit menyindir dalam kata-katanya. Aku semakin tidak enak hati dan terus merutuki tindakan Yunho.

 

Aku sedikit tekejut saat ponselku berbunyi, buru-buru aku mengangkatnya setelah meminta izin terlebih dahulu.

 

“Tae Rin-ah! Bagaimana? Kau baik-baik saja? Aku dengar ada penyerangan oleh karyawan-karyawan yang dipecat.” Kata Yunho dengan begitu cepat sampai-sampai aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

 

“Aku baik-baik saja. Nanti aku jelaskan setelah aku tiba kantor.” Jawabku lalu mematikan sambungannya.

 

Aku berdeham, mencairkan atmosfir yang tercipta. “Omong-omong, terimakasih pakaiannya.”

 

“Aku senang itu cukup di tubuhmu, Tae Rin-ssi.”

 

Aku sedikit meremang saat ia menyebut namaku. Kukira ia akan lupa namaku dan tidak mengenalku. Ternyata dugaanku salah besar, sangat-sangat salah.

 

“Kita bertemu lagi, Tae Rin-ssi.” Ucapnya dengan suara rendah.

 

~~~~

“Seharusnya kau menyahut atau menjawabku Kim Tae Rin! Ya Tuhan aku seperti orang idiot saja berbicara denganmu.” Doo Joon terus menggerutu sedari tadi karena aku mendiamkannya. Selepas keluar dari perusahaan Kyu Hyun –Oh! Tidak aku tidak ingin menyebut namanya. Sebaiknya aku memanggilnya dengan sebutan lain, orang sombong, ya mungkin sebutan itu pas untuknya.

 

Orang sombong itu mengingatkanku akan kejadian beberapa tahun lalu. Sampai saat ini aku berharap Tuhan menghapus memoriku mengenai dirinya. Aku sama sekali tidak ingin mengingatnya, karena terkadang saat mengingatnya membuat hatiku seperti diremas-remas. Sakit sekali saat mengingat perasaanku dahulu kepadanya bertepuk sebelah tangan. Hanya aku yang merasakan sakit ini hingga sekarang, menanggung segala beban perasaanku sendiri.

 

“Sudahlah, lebih baik kau kerja lagi sebelum Yunho mengamuk.” Sinisku. Aku tidak ingin diganggu untuk saat ini. Aku sudah cukup pusing dengan mengingat pertemuanku dengan orang sombong itu satu jam yang lalu. Ditambah omongan Doo Joon yang tidak tahu dimana akhirnya. Dia ini suka sekali berbicara –yang tidak jelas.

 

Aku melangkah menuju elevator. Bergegas pulang setelah meminta izin kepada Yunho. Awalnya aku tidak yakin ketika meminta pulang lebih awal kepada Yunho, tapi ia langsung menyetujuinya. Hari ini ia terlihat sangat berbeda, maksudku ia berbeda dalam arah yang lebih positif. Auranya terpancar dan berseri-seri dengan rona merah di kedua pipinya, seperti anak kecil. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi padanya, tidak ada waktu untuk penasaran dan mengulik apa yang terjadi. Mungkin besok –setelah mood-ku kembali normal seperti sebelumnya.

 

Melangkahkan kakiku keluar dari elevator, dengan lunglai aku berjalan di antara orang-orang sibuk di perusahaan ini. Rasanya hari ini tubuhku sedikit lebih berat untuk dibawa berjalan. Lelah dan lemas, mendominasi tubuhku. Aku tidak tahu kalau efek yang timbul akan seperti ini.

 

“Tae Rin-ssi!” Aku membalikan badanku setelah mendengar ada yang menyahut namaku. Hwang Yu Ji dari bagian informasi, meyerahkan sebuah paket, yang sialnya berat untuk aku bawa.

 

“Seseorang menitipkannya beberapa menit yang lalu.” Katanya.

 

“Siapa? Laki-laki atau perempuan?” Tanyaku penasaran.

 

“Laki-laki berjas hitam. Dia bilang kau mengenalnya.”

 

Aku mengerutkan alisku, rasa penasaran mendominasiku saat ini. Kalau orang itu mengenalku kenapa tidak langsung menghubungiku? Aku pun mengucapkan rasa terimakasihku kepada Yu Ji. Dan segera bergegas menuju mobilku. Aku akan membukanya di rumah, putusku.

 

~~~~

 

“Aku sangat merasa bersalah padanya.” Ujar Jong Hyun.

 

“Terlebih aku,” Kyu Hyun menghembuskan nafasnya kasar. “Aku terlalu pengecut.”

 

“Tapi kau sudah mengalami kemajuan hari ini.” Seru Jong Hyun cepat.

 

Kyu Hyun meremas tangannya, menyalurkan perasaannya yang tidak bisa tergambarkan. Jong Hyun hanya ingin menghiburnya, pikir Kyu Hyun. Perasaan menyesalnya terlalu besar dan ia ingin memperbaikinya. Pikirannya baru terbuka semenjak ia jatuh. Hal pertama yang melintas di pikirannya adalah gadis itu, Kim Tae Rin. Gadis manis yang tidak sengaja ditemuinya. Ia akui saat itu pikirannya terlalu pendek untuk memikirkan dampak kedepannya. Ia terlalu bersenang-senang dan menghamburkan uangnya untuk hal yang tidak berguna.

 

“Kita ikuti dia.” Perintah Kyu Hyun.

 

~~~~

 

Aku merasa tak nyaman, sedari tadi bulu kudukku terus meremang. Ini aneh, tapi aku mencoba bersikap santai seperti biasanya. Aku memasukan mobil ke garasi rumahku, lalu menarik tuas rem dan mengganti penerselingnya kembali ke netral. Aku kembali melihat paket itu, dan langsung mengambilnya. Aku bergegas turun dan langsung melangkah memasuki rumah setelah mengunci mobilku.

 

Aku seperti merasa di intai, tidak berlebihan. Tapi itulah yang aku rasakan. Aku menaruh paket itu di ranjangku, mungkin akan ku buka setelah aku selesai mandi. Aku butuh menyegarkan pikiranku setelah kejadian hari ini.

 

Saat baru saja akan masuk kedalam kamar mandi –bel rumahku berbunyi. Aku mengenakan bathrobe dan segera melangkah kedepan. Bulu kudukku semakin meremang, sial. Ini tidak biasa. Ataukah ini efek karena ketakutanku? Yang benar saja, memangnya aku takut dengan apa?

 

Aku mengintip dari celah pintu, ada seorang pria dengan jas abu-nya berdiri membelakangi pintu. Aku menilik apa yang aku kenakan. Tidak mungkin aku membukakan pintu untuk seorang laki-laki dengan keadaan seperti ini, pikirku.

 

Saat aku ingin menutup kembali pintunya, kulihat ia berbalik dan melihatku. Aku terkejut, dan langsung cepat-cepat menutup kembali. Tapi, sialnya pria itu cepat sekali.

 

“Jangan ditutup.” Serunya, ia menahanku.

 

“Mau apa?” Aku tidak perlu berbasa-basi dengannya.

 

“Aku….” Ia berhenti, seperti sedang berpikir.

 

“Aku akan tutup pintunya, kerjaanku masih banyak.” Tukasku setelah tidak mendapat jawaban darinya.

 

Ia kembali menahannya saat aku kembali mencoba untuk menutup pintu. “Mari bicara, ijinkan aku masuk.”

 

Aku melihatnya, melihat pancaran matanya. Aku tidak bisa menduga apa yang ada di pikirannya saat ini. Ia sama seperti dulu. Memejamkan mataku, aku menghela nafas. Membuka pintunya lebih lebar dan mengijinkan dia masuk rumahku. Dia, si orang sombong yang tidak ingin aku ingat.

 

~~~~

Kami terdiam cukup lama, tidak ada pembicaraan. Ia seperti bisu, dan penuh dengan pikiran. Begitupun aku, aku terus bergelut dalam pikiranku. Memikirkan ini dan itu. Aku merutukinya karena masih belum membuka mulutnya untuk berbicara.

 

Dengan keadaan canggung seperti ini membuatku merasa tidak nyaman. Ditambah aku hanya memakai bathrobe yang membalut tubuhku. Kalau dihitung-hitung, ini sudah sepuluh menit berselang sejak aku memersilakan dia masuk dan mendudukan bokongnya dia sofa.

 

“Tae Rin­-ssi.” Panggilnya.

 

Aku mendongak, melihatnya yang sedang melihatku juga.

 

“Kau tinggal sendiri?” Tanyanya kemudian.

 

Aku mengangguk, “Ya, aku tinggal sendiri. Lagi pula tidak ada kerabat yang kupunya.”

 

“Oh.”

 

Lalu kami mulai terdiam lagi. Hening selama beberapa menit. Aku tidak tahu kenapa dia seperti ini. Aku diam-diam mengamatinya, ia lebih kurus dari yang terakhir aku lihat setahun yang lalu. Banyak rambut-rambut halus yang mulai tumbuh di sekitaran dagunya. Ia seperti tidak terawat, belum lagi kantung matanya yang menghitam sangat terlihat jelas. Apa kau lelah? Kau butuh istirahat… Kyu Hyun-ah.

 

Hatiku terasa lebih sakit dari sebelumnya. Melihat ia tak terawat seperti ini, kelelahannya, dan keputusasaannya. Rasanya air mataku akan tumpah. Ya Tuhan, aku masih mencintai pria di depanku ini. Tapi aku bisa apa? Dari awal aku bertemu dengannya, aku hanyalah orang asing yang masuk kedalam kehidupannya –karena sebuah perjanjian.

 

“Kau ingin mandi?” Tanyanya, ia menilik bathrobe yang aku kenakan. Wajahku memanas, ya Tuhan ini sungguh tidak etis.

 

“Aku baru akan masuk ke kamar mandi saat kau membunyikan belnya.” Tukasku dengan wajah memanas.

 

“Oh.” Ia mengangguk, melihat kesekeliling rumahku dan menatapku kembali.

 

“Ada kamar kosong?”

 

“Ya… A-a-apa?” Kagetku, untuk apa ia menanyakan kamar kosong.

 

“Aku ingin menginap disini, bolehkah?” Ijinnya padaku.

 

“Untuk apa? Kau punya tempat tinggal, kan?”

 

Ia mengangguk, lalu menundukan kepalanya. “Aku hanya… membutuhkan teman untuk di ajak mengobrol setiap harinya. Akhir-akhir ini aku sangat tertekan. Eh aku tidak bermaksud untuk curhat. Hanya saja… Kau tahu Jong Hyun sangat berisik, aku tidak mungkin berbicara dengannya.” Jelasnya panjang lebar.

 

Aku terdiam sebentar, memikirkan segala kemungkinan yang terjadi jika ia menginap. Dalam lubuk hatiku, melihat ia yang saat ini tampak berubah –tidak seperti satu tahun yang lalu, membuat hatiku bergetar. Namun jujur saja, semuanya membuatku pening. Jika ia menginap, aku tidak akan mungkin bisa melupakannya. Saat dia tidak ada saja, aku mati-matian menahan rinduku padanya. Jika ia tinggal untuk beberapa hari, kemungkinan aku melupakannya akan sangat-sangat kecil.

 

Untuk apa ia kembali lagi kepadaku jika hanya akan membuatku semakin mencintainya dan sulit untuk melupakannya, itu persepsiku. Aku bukan barang mainan, kan? Tiba-tiba saja logika ku bersuara. Ya, aku bukan barang mainannya. Ia tidak perlu kembali lagi, dia tidak boleh ada di sekitarku. Bukannya kau sudah mencoba membencinya, Tae Rin. Suaraku dalam hati.

 

Aku mengangguk, berusaha membuat benteng tak kasat mata di dalam tubuhku sendiri untuknya. Dia tidak boleh disini, hanya tidak boleh. Lalu aku berusaha menatapnya, ia terlihat tenang sekali.

 

“Tidak.” Kataku mantap.

 

“Kenapa?”

 

“Kenapa kau bilang? Tiba-tiba saja kau datang kepadaku seperti ini, bertingkah baik seolah-olah tidak ada apapun.” Kataku sedikit sinis.

 

Wajahnya terlihat memerah. Aku melipat tanganku di depan dada, menunujukan padanya, kalau aku sudah cukup tangguh. “Apa tujuanmu sebenarnya, Kyu Hyun-ssi?”

 

“Kenapa kau berusaha baik kepadaku, setelah…. satu tahun lalu kau begitu jahat kepadaku.”

 

Rasanya tenggorokkanku begitu tercekat, aku tarik pemikiranku beberapa detik yang lalu. Aku tidak begitu tangguh. Sangat-sangat tidak tangguh.

 

Lalu ia menatapku dengan pancaran bersalah, “Dengar, aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita. Maafkan atas kebodohanku Tae Rin-ssi. Aku akui saat itu aku sangat gegabah dengan mengambil keputusan seenaknya. Maafkan aku.”

 

“Kau baru mengatakan maaf setelah satu tahun berlalu? Hah lucu sekali.”

 

“Aku… sangat menyesal. Tolong maafkan aku.” Ia beringsut ke arahku, turun kebawah dan menunduk dalam. Dadaku semakin terasa tertekan.

 

“Kau seharusnya bisa sadar lebih awal, kalau bukan karena faktor kejatuhanmu saat ini mungkin kau masih tetap angkuh Kyu Hyun-ssi.

 

“Aku tahu,” Ucapnya serak. “Aku menyesali kebodohanku, kesalahanku, dan keangkuhanku Tae Rin­-ssi.”

 

“Pulanglah.”

 

Melangkahkan kakiku ke kamar, menghindarinya adalah pilihan terbaik saat ini.

 

“Tae Rin, aku mohon.” Ia terus memanggilku. Aku tidak peduli dan terus melanjutkan jalanku, aku akan berendam. Aku mengunci pintu kamarku, dan berjalan menuju bathtube, membuka bathrobe-ku dan menenggelamkan diriku disana.

 

~~~

A year ago

 

“Kau tidak perlu mengusikku. Lakukanlah apa yang harusnya kau lakukan.” Ia pergi begitu saja kedalam kamar setelah menyerahkan jas kerjanya padaku.

 

Tadi aku hanya bertanya padanya, kenapa ia pulang selarut ini. Sudah hampir tengah malam, dan dia baru saja pulang. Ku kira pekerjaannya tidak terlalu banyak karena baru saja menyelesaikan proyek besarnya. Aku sudah memasak banyak makanan dan menunggunya hingga saat ini. Aku agak kesal awalnya saat ia tak kunjung pulang. Tapi, saat mendapatinya masuk hampir tengah malam malah membuatku cemas. Memang ia terlihat baik-baik saja. Tapi, aku ini istrinya, walaupun hanya karena sebuah perjanjian konyol.

 

Aku melangkah menuju kamar, kulihat ia baru saja mematikan sambungan teleponnya saat aku tiba. Ia melihatku sebentar, lalu mengalihkan pandangannya lagi ke ponselnya. Ia hanya memakai Celana kerjanya –tanpa kemeja.

 

“Kau sudah makan?” Tanyaku.

 

“Ya.” Jawabnya singkat.

 

“Mau mandi?” Tanyaku lagi. Ia hanya melambaikan tangannya, seperti tidak ingin diganggu.

 

“Aku akan siapkan airnya.”

 

Aku melangkah menuju kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuknya. Kalau dipikir-pikir aku ini seperti pengasuhnya saja. Menyiapkan segala kebutuhannya. Aku mendengar pintu kamar mandi terbuka, lalu aku tersenyum saat melihat ia masuk.

 

“Airnya sudah siap.” Kataku. Aku buru-buru menuju ke pintu. Tapi ia malah mencegatku.

 

“Ada apa?” Tanyaku.

 

Ia membawaku mendekat ke arahnya, tahu-tahu saja ia mengecup bibirku beberapa kali. Aku tidak bisa menghindarinya. Ia semakin menciumku, aku tidak tahu ada apa dengannya. Kami tidak pernah berciuman, hingga saat ini ia menciumku. Ini ciuman pertama kami.

 

Lalu ia melepaskannya, aku baru tersadar, ia memeluk pinggangku. Wajah kami masih berjarak sangat dekat, aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Aku merasa seperti sedang di lihat olehnya, lalu aku memberanikan diriku melihatnya. Dan benar, ia sedang melihatku. Aku merasa wajahku semakin memanas.

 

Ia mengecup bibirku lagi. Lalu melepasnya, aku seperti… merasa kehilangan.

 

“A-a-ada apa sebenarnya? Kenapa kau menciumku?” Tanyaku kemudian.

 

“Ini hanya untuk terakhir kalinya,” Sahutnya cepat. “Aku sangat penasaran dengan bibirmu, sialnya aku yang membuat perjanjian itu jadi aku tidak mungkin melakukannya. Tapi, mungkin semua itu akan berakhir.” Ia terkekeh.

 

“Keluarlah, aku akan mandi.”

 

Aku menurut dan keluar dari kamar mandi. Menaiki ranjang dan berusaha melupakan kemungkinan yang muncul di kepalaku. Aku tidak tahu dengan jelas apa maksudnya barusan. Ada sesuatu yang tidak beres, dan membuatku sesak.

.

.

.

Aku bangun lebih awal, jam baru menunjukan setengah enam lewat sepuluh menit. Ia masih tertidur disampingku. Aku bangun dari ranjang dan menguncir rambutku. Menyiapkan sarapan dan kebutuhannya di pagi hari. Walaupun hanya sebuah perjanjian sebagai istri palsunya di hadapan publik. Tapi aku ini tetap istrinya. Bagaimana menjelaskannya –Ehm kami menikah pada tanggal 6 Mei 2011 di Seoul. Dihadiri beberapa kerabatnya dan orangtuanya. Tidak terlalu banyak memang yang datang. Dia mengenalkanku sebagai istrinya di hadapan orang-orang untuk menutui hubungan terlarangnya, hubungannya bersama istri dari temannya.

 

Rumit memang, tapi aku menikmatinya. Ia bertemu denganku di sebuah sekolah sekretaris yang aku ikuti. Dan kejadiannya terjadi begitu saja. Semakin lama aku hidup dengannya malah membuatku mempunyai perasaan lain terhadapnya. Ia tidak pernah membawa kekasihnya, ia cukup menghargaiku.

 

Aku menyadari keberadaannya dibelakangku. Ia baru saja bangun, mengambil air putih lalu meneguknya. Biasanya ia akan tidur lagi setelah ini, menunggu dibangunkan olehku. Tapi, dia berjalan ke arah pantry dan duduk di kursi. Ia mengamatiku lamat-lamat.

 

“Jo-A akan bercerai dengan Tae Jung.” Ucapnya.

 

Dan dari kalimat itulah aku tahu, aku harus pergi sesuai perjanjian ini. Inilah yang dimaksud dia semalam. Aku hampir menangis saat mengingat bagaimana ia menciumku dan memerlakukanku semalam.

 

“Kau bisa pergi dari sini mulai besok, atau kau mau sekarang? Terserah saja, aku sudah tidak membutuhkanmu.”

 

Lalu ia berjalan meninggalkanku seorang diri.

 

To Be Continue…

 

Advertisements

6 responses to “One night Memories [Bagian 1]

  1. kurg ajar si kyuhyun.. pas aj dy bangkrut kena karma.. skt rsny melht dy brkt2 kyk gt ma tae rin…

  2. kyuhyunn nappeun namja. kenapa setelah 1 tahun baru nyari taerin. gemes baca ceritanya

  3. Ya ampun kyu kejam bgt…udah gitu skr main muncul gitu aja setelah semua yg terjadi…huft..tak termaafkan.

  4. Bagus sekali Kyuhyun….
    Tidak berprsaan sekaliii….
    Jgn Mudah Tae Rin memafkn Kyuhyun, ksih dlu si Kyuhyun peljran….

  5. Kyuuuu tegaaaa -.-

  6. halo aku reader baru disini, salam kenal ya.

Suka? Isi kolom di bawah ini ya^^ thanks~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s