My New Bad Neighbor [Chapter 3]

my-new-bad-neighbor

A/N : Disini aku mengungkapkan rahasia Jin. Jangan marah ya ><

Oke enjoy! 😀

 

Sampai saat ini aku bersyukur karena Tuhan telah mempertemukanku dengan Jung Kook. Walaupun baru saja ada kesepakatan antara aku dengannya beberapa hari lalu, ia langsung menepati janjinya. Kalau semudah ini aku bisa berdekatan dengan Jin, seharusnya aku memerlakukan Jung Kook lebih baik lagi dari awal pertemuanku dengannya.

Sudah beberapa hari ini Jung Kook tidak mengacau seperti biasanya. Seharusnya aku tenang karena aku mendapatkan perasaan damaiku kembali seperti sebelum Jung Kook menjadi tetanggaku. Tapi, untuk kali ini rasanya aku merasa sunyi yang mencekam. Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Aku segera menggelengkan kepalaku, mengenyahkan berbagai pikiranku tentang Jung Kook.

Aku duduk bersila di atas ranjang sembari melanjutkan pekerjaanku yang tertunda. Membuat sebuah hadiah untuk Jin dan juga Jung Kook. Oh ya Tuhan, kenapa harus Jung Kook lagi-Jung Kook lagi. Kapan sih aku berhenti memikirkannya?

Memfokuskan diriku kembali, menyulam sapu tangan yang akan ku berikan untuk mereka. Rencana hari ini sangat membuatku bersemangat, terlebih lagi karena Jin akan menginap di apartemen Jung Kook untuk beberapa malam. Oh! Siapa juga yang tidak akan senang saat akhirnya aku bisa berdekatan dengan pujaan hatiku. Kejadian ini akan sangat langka, mungkin akan kuabadikan dalam memoriku selamanya.

.

.

.

Atau mungkin tidak…

Ya Tuhan, aku baru tersadar sekarang. bagaimana aku bisa melupakan fakta kalau mereka adalah saudara sepupu? Tidak ada perhitungan terlebih dahulu. Seharusnya aku sadar. Ya Tuhan ya Tuhan ya Tuhan. Aku segera menormalkan wajahku kembali atas reaksiku barusan. Aku harus terlihat cantik dan menawan.

“Hi!” Sapaku setelah menempatkan bokongku yang indah diatas sofa yang masih terlihat steril. Dalam pandanganku.

“Wah kau bawa makanan ya?” Tanya Jung Kook. Ia langsung menghambur ke arahku dan langsung membawa kotak bekal yang aku bawa ke arah dapur.

Perasaanku gelisah. Canggung. Jung Kook meninggalkanku berduaan dengan Jin. Koreksi -maksudku dengan Jin yang kembali terlelap dengan bantal –Oh astaga! itu bantal Hello Kitty!

Bagaimana bisa lelaki yang aku sukai tertidur dengan bantal Hello Kitty! Ya Tuhan. Sudah berapa kali aku menyebut namaMu hari ini. Rasanya kepalaku akan pecah seketika. Aku bukanlah orang yang menyukai kekacauan. Oh lihatlah tempat ini, sangat berantakan sekali. Walaupun apartemenku terlihat berantakan karena di penuhi barang-barang setidaknya apartemenku tidak pernah terlihat seperti ini. Oh ada yang aneh disini, kenapa ada pakaian dalam pria? Ya Tuhan itu pakaian dalam pria!!! Aku segera berlari menuju dapur, menghampiri Jung Kook.

“Oh! Hai Kim! Kemarilah ini sangat lezat!” Serunya seketika aku tiba di dapur. Berbeda dengan ruang tamu, sepertinya dapur ini terlihat lebih bersih. Kecuali tempat sampah yang di penuhi bungkusan kemasan makanan instan. Oh aku melupakan tujuanku kesini. Mengambil tempat di samping Jung Kook, aku memandandangnya dengan tatapan mengintimidasi.

“Jelaskan kepadaku!” Kataku tegas, jelas, dan datar.

“Apa yang harus dijelaskan? Oh ya Tuhan, aku belum makan dari malam. Terimakasih kepiting kecapnya, Lezat sekali.” Jung Kook membawa wadahnya ke wastafel dan mencuci tangannya yang di penuhi kecap. Tunggu. Dia menghabiskannya sendiri!

“Jung Kook! Aku tidak bilang kalau itu semua untukmu!” Emosiku sudah tak tertahankan lagi. Sungguh, aku rasa aku akan mati muda.

“Kau tidak bilang padaku, jadi aku habiskan. Sudahlah, Jin bisa memesan makanan, kan? Kau tidak perlu mengkhawatirkannya Kim Hye Hwa.”

“Jung Kook, aku benar-benar bersumpah akan menghabisimu. KEMARILAH KAU SAEKKIYA!!!”

Aku menerjang Jung Kook, menarik rambutnya sampai kurasa rambutnya bisa saja rontok karena ulahku, siapa peduli? Lelaki ini sudah sangat kurang ajar sekali, jadi biarkan aku memberikan pelajaran untuknya. Aku berusaha memukul tubuhnya dengan tanganku, sampai-sampai…..

“Bisakah kalian melakukannya di kamar? Aku butuh tidur.” Jin dengan tampang kusutnya sedang berdiri di ambang pintu dapur. Melihatku yang sedang menindih Jung Kook. Tidak, ya Tuhan. Kau salah paham Jin. Aku bangun dan merapihkan pakaianku yang kusut, menundukan kepalaku beberapa derajat. Aku yakin wajahku pasti memerah. Sialan kau Jung Kook.

“Terimakasih Jin, wanita ini beringas sekali.” Itu suara Jung Kook. Demi Tuhan, rasanya aku ingin menjambak rambutnya lagi.

Kulihat Jin mengibaskan tangannya, seperti tidak peduli dengan ucapan Jung Kook barusan. Lalu ia meninggalkan tempat ini dan aku mendengarkan pintu yang di buka lalu di tutup kembali, ku rasa Jin pergi ke kamar. Aku mengalihkan perhatianku kembali kepada Jung Kook. Ia sedang mengaca. Mencoba membenarkan rambutnya yang kusut akibat ulahku.

Mendekatkan diriku padanya, aku berdeham. Mencoba mengalihkan perhatiannya padaku.

“Kukira aku mendengar darimu jika Jin akan datang menginap hari ini.” Ucapku membuka kesunyian. Ia mengangguk membenarkan, masih berkutat pada rambutnya.

“Lalu kenapa dia ada disini pagi ini?”

“Bukankah lebih cepat lebih bagus?”

Dalam hati aku membenarkan ucapannya. Tapi, aku sudah kepalang emosi saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Jika Jin datang hari ini, dengan sifat normalnya, mungkin saja kejadian tadi tidak akan terjadi dan tidak seharusnya dia melihatku bertengkar dengan Jung Kook.

Jung Kook melangkah meninggalkan dapur, menuju ruang tamu. Lalu menyalakan televisi. Aku mendengus, Lelaki ini sangat tidak menghargaiku sama sekali. Tidak seharusnya ia meninggalkanku saat kami sedang berbicara.

“Kau. Bisakah kau lebih menghargai seorang wanita, Jeon Jung Kook?”

“Oh kau seorang wanita, ya?”

“Kau meledek!”

“Tidak, aku hanya mencoba mengetahui kebenaran.”

“Kau tahu dengan jelas kalau aku ini wanita.”

“Oh benarkah?”

“Ya! Kau perlu bukti? Lalu untuk apa kau menciumku kalau aku ini bukan wanita.”

“Boleh, coba buka bajumu. Apa? Kau bilang apa? me… apa?”

“Ya! Dasar tidak waras. Aku bilang kau menciumku! menci…”

“Kau mecoba memancingku!” Ya Tuhan, kenapa aku bodoh sekali.

“Dan kau terpancing.” Balasnya.

Aku menghentakkan kakiku kesal. Ya Tuhan, aku ingin menangis rasanya.

“Ya! Bisa tidak sih kalian diam? Aku bilang aku butuh tidur.” Tiba-tiba Jin sudah ada di depanku dengan wajah lelahnya. Oh terkutuklah kau Jung Kook, Kasian sekali Jin. Karenamu dia selalu terganggu.

“Tidurlah lagi, aku akan menyelesaikan ini secepatnya.” Kata Jung Kook. Ia mendorong Jin agar masuk kembali ke kamar. Lalu ia menghadap ke arahku.

“Apa?” Kataku angkuh.

Jung Kook menghampiriku dan duduk tepat di sebelahku.

“Dengar, ini di luar perkiraanku. Jin datang malam-malam sekali, kondisinya kacau. Aku menyarankanmu agar kau berhenti menyukainya.”

“Kenapa? Berikan aku alasan yang jelas.”

“Tidak, kau pasti akan sangat terluka.”

“Apa? Katakan padaku, aku janji aku tidak akan menangis.”

Jung Kook terlihat menghembuskan nafasnya berat, jujur saja saat ini aku sangat cemas sekali. “Kau pasti tidak akan percaya.” Gumamnya, namun masih terdengar olehku.

“Katakan Jung Kook!” Paksaku.

“Jin memiliki disorientasi seksual,” aku tercekat, sedikit tidak percaya dengan apa yang barusan aku dengar. “Dia gay.”

Aku makin tidak percaya. Mungkinkah itu? Tapi… dengan siapa?

“Kau serius?”

Jung Kook mengangguk. Matanya menyiratkan padaku jika inilah keputusan finalnya. Aku harus menjauhi Jin karena ia gay, Jin tidak mungkin mendekatiku atau bahkan menyukaiku. Karena dia menyukai lelaki.

“Aku masih tidak percaya.”

“Kau harus percaya.”

Aku menggeleng, menepuk-nepuk pipiku. Bisa saja ini mimpi, kan?

“Aku punya rahasia besar.” Kata Jung Kook.

“Apa?” Tanyaku.

“Kau ingin mengetahuinya?” Pancingnya. Aku benci mengakui ini, tapi aku penasaran apa rahasianya. Lalu aku pun mengangguk.

Jung Kook merebahkan tubuhnya di sofa, menjadikan tangannya sebagai bantalannya lalu memejamkan matanya.

“Nanti saja aku beritahu, situasinya belum tepat. Aku ingin tidur.”

Aku memukul kakinya yang berada di sampingku. “Pemalas, ini sudah siang. Ayo bangun.”

Aku berdiri, bersiap kembali ke apartemenku yang damai.

“Aku pulang, antarkan tempat makannya setelah kau cuci bersih.”

Dan aku hanya mendapat gumaman dari Jung Kook.

 

~~~~

 

“Pagi sekali.”

Baru saja aku keluar dari kamar apartemenku, aku sudah di kejutkan dengan keberadaan Jung Kook yang sialnya juga baru saja keluar dari apartemennya.

“Aku ada kelas pagi ini.” Kataku sambil memasukan kunci ke dalam tas. Jung Kook mengangguk, ia berjalan beriringan denganku.

“Pergilah bersamaku. Kebetulan aku juga akan ke kampus hari ini.”

“Aku tidak bisa berlama-lama.” Kataku, menolaknya secara halus.

Tiba-tiba saja Jung Kook menggenggam tanganku dan membawaku berlari. “”Kalau begitu cepatlah.”

“Hei jangan membuat keributan!” Itu suara nenek Go. Aku hanya bisa menundukan kepalaku beberapa derajat untuk menyampaikan perasaan menyesalku.

“Lihatlah, kau akan membuat semua penghuni gedung ini marah.” Kataku, sembari berusaha memukul tangannya yang menggenggam tanganku dengan sangat erat. Lalu Jung Kook berhenti. Kami sudah berada di parkiran.

“Biar saja. Cepat pakai helmnya.” Jung Kook memberiku sebuah helm, yang langsung aku pakai. Ia pun begitu.

“Sudah?” Tanyanya setelah ia memakai helmnya sendiri.

“Bagaimana mengaitkan ini? kaitan helm-mu berkarat begini eiss.” gerutuku karena tak kunjung bisa mengaitkan kaitannya.

“Ini bukan helm-ku. Kemarilah, biar aku kaitkan.”

Aku mendekat ke arahnya, “Bagaimana bisa? Kau mencuri helm ini ya?”

Ia hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu, mencoba mengaitkan kaitan helm yang kupakai. Oh, ya Tuhan kenapa jantungku harus berdebar saat tangannya tak sengaja menyentuh wajahku. Aku bergerak gelisah, tak bisa memfokuskan pandangan mataku.

“Selesai.” Jung Kook meninggalkanku dan menaiki motornya. “Ayo naik.” Katanya. Melihatnya seperti ini malah membuat jantungku makin berdebar, ia terlihat lebih manly. Jangan salahkan mataku, ia memang terlihat seperti itu. Ragu-ragu aku menaiki motor Jung Kook. Terakhir kali ia membawaku menggunakan motornya, ia sangat tidak waras, cepat sekali.

“Pegang pinggangku jika tidak ingin jatuh.” Intruksinya. Tentu saja aku tidak mau, aku bisa memegang yang lain. Seperti yang berada di belakangku, misalnya. Pegangan ini cukup kuat juga. Aku akan bertahan seperti ini. Harga diriku terlalu tinggi sebagai wanita.

.

.

.

“Jung Kook! Pelankan sedikit motormu!” Omelku padanya. Tidak, aku tarik ucapanku beberapa menit yang lalu, aku tidak bisa bertahan. Sialan kau Jung Kook. Aku semakin mempererat pelukanku. Lelaki ini membawa motornya dengan sangat kencang. Jantungku rasanya ingin copot. Aku terus memejamkan mataku, berdo’a pada Tuhan agar jangan mengambil jiwaku dahulu. Aku masih mempunyai beberapa tujuan yang belum bisa ku capai.

Tiba-tiba saja motornya sudah berhenti, aku menghela nafas. Syukurlah aku masih hidup, apa sudah sampai?

Baru aku ingin membuka mataku, motor ini melaju kencang lagi, rupanya tadi hanyalah lampu merah. Kapan ini akan berakhir?

.

.

.

“Turunlah, sudah sampai.” Aku mendengar suara Jung Kook. Mencoba membuka mataku, aku melihat beberapa orang yang mulai memasuki gerbang. Sudah sampai, jadi aku simpulkan saat ini aku berada di depan gedung kampusku. Aku menghela nafas, lagi. Hari baru saja dimulai, tapi aku sudah dibuat menderita oleh Jung Kook.

Setelah turun dari motor, aku menyerahkan helm yang kupakai padanya. “Terimakasih atas tumpangannya.” Ucapku sinis.

“Tidak masalah.” Jung Kook tersenyum.

“Aku yang mempunyai masalah.” Gumamku.

“Kemarilah.” Jung Kook melambaikan tangannya padaku. Ia masih berada di atas motor.

“Kau akan bertemu Jin hari ini, jadi rapihkanlah sedikit rambutmu.” Tahu-tahu saja Jung Kook menyentuh rambutku, merapihkannya dengan lemnut. Membuat jantungku bereaksi lagi.

“Ti-tidak usah, biar aku saja.” Ucapku sedikit gelagapan. “A-aku masuk dulu, dah.”

Aku berlari, menepuk-nepuk pipiku yang kurasa memerah. Tidak, ini hanya sebuah reaksi alami, karena Junf Kook seorang pria. Yah, pasti begitu. Aku terus mencoba menyangkalnya, dan melupakannya.

.

.

.

Aku tidak bisa melupakannya, sampai saat ini.

Aku mencoba melanjutkan memakan ramyun instan-ku. Tidak ada apa-apa yang bisa ku masak di kulkasku. Jadi, aku hanya memasak ini sebagai pengganjal perutku.

‘Lihatlah perubahannya, sangat sempurna kan?’ Ucap seorang wanita yang berada di acara televisi.

“Cih, apa yang perlu di banggakan dengan wajah operasi seperti itu.” Gerutuku.

“Buat apa mereka mengubah penampilannya kalau gennya masih tetap sama. Lihat saja nanti kalau dia punya anak akan seperti apa. Mereka sudah gila ya.”

Tiba-tiba saja televisinya mati. “Kalau begitu tidak usah di tonton.”

“Oh ya Tuhan kau mengagetkanku.”

Jung Kook berdiri di dekat sofa. Lalu duduk di atas sofa itu. Lelaki ini hobi sekali keluar-masuk apartemenku secara diam-diam. Awas saja, nanti akan ku pasangkan password untuk pintuku.

“Bisa tidak sih kau masuk secara baik-baik?” Gerutuku. Aku bangkit dari dudukku, membuang bungkusan ramyun yang sudah habis.

“Kau tidak punya makanan, ya?” Bukannya menjawab, ia malah balik bertanya padaku.

“Aku tahu, pasti kau ingin meminta makanan, kan?” Tebakku. Ini pasti benar dan tidak meleset.

“Bingo!”

Nah, aku tidak pernah salah.

“Aku hanya punya ramyun. Ini akhir bulan, persediaan bahan makananku habis. Memangnya kau tidak bisa masak atau memesan makanan, ya? Selain meminta makanan padaku.”

“Kenapa tidak beli?”

Lagi, ia tidak menjawabku dan terus melontarkan pertanyaan lagi.

“Bisa tidak sih kau jawab dulu pertanyaanku?”

“Jadi, kau ingin aku menjawabnya?”

Oh, cukup sudah. Aku tidak mau memuntahkan makanan yang sudah ku telan dengan berdebat dengan Jung Kook.

“Lupakan.” Aku mengibaskan tanganku tak peduli.

“Aku punya bahan makanan di dalam kulkasku, kalau ada yang kurang kita bisa membelinya. Aku tidak bisa memasak, jadi bisakan kau memasak untukku?”

Aku berhenti, niat ingin meninggalkan Jung Kook kedalam kamar segera aku urungkan. “Uangku menipis. Baru ada awal bulan depan. Jadi, aku tidak mungkin berbelanja.” Kataku.

Jung Kook mendekat, mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa dolar won. “Pakai uangku.” Ia menyerahkan uang itu padaku. Ku lirik dompetnya, tebal sekali. Dengan beberapa kartu kredit dan ATM di dalamnya, dompetnya juga bagus, pasti mahal.

“Bawakan dulu bahan-bahan yang ada di kulkasmu. Setidaknya kalau cukup kita tidak perlu membelinya lagi.”

Akupun berlalu pergi meninggalkannya kedalam kamarku.

“Tunggu, akan kuambilkan!” Teriaknya sambil berlari pergi keluar.

.

.

.

Aku selalu membeli bahan-bahan yang sekiranya akan cukup untuk aku makan sebulan kedepan. Mengandalkan berbagai promo yang berada di supermarket. Sangat untung untukku yang seorang mahasiswi.

Aku sudah tau tidak ada yang benar dalam hidup Jung Kook disamping dompetnya yang tebal. Oh apa ada hubungannya dengan dompet itu. Sial, kenapa aku jadi mata duitan begini, sih. Salahkan Jung Kook untuk itu. Dia ingin pamer padaku kalau uangnya banyak? Aku tau aku ini hanya seorang mahasiswi melarat yang pas-pasan. Oh setidaknya jalan pikiranku selalu benar.

Aku harus pergi ke supermarket bersama Jung Kook karena omong kosongnya yang mengatakan bahwa ia mempunyai bahan makanan di dalam kulkasnya. Ternyata tidak. Ia hanya memiliki timun, kimchi, dan lobak.

“Bagaimana dengan kiwi? sehabis makan sangat baik untuk makan buah-buahan, kan? Wah ini segar sekali.”

Aku memutar mataku, jengah dengan sifat Jung Kook yang menyebalkan.

“Untuk apa kau menanyakan saranku? Kan kau sendiri yang mempunyai uangnya.”

“Oh kau benar, baiklah aku akan membeli ini.” Jung Kook memasukan kiwi itu kedalam troli.

Kami melanjutkan jalan lagi. Aku sudah memasukan berbagai bahan makanan ke dalam troli. Ku yakin itu semua akan cukup untuk sebulan. Aku tidak perlu khawatir akan kekurangan uang karena ku yakin uang Jung Kook sangat banyak.

“Kau perlu apa lagi?” Kataku, sembari melihat-lihat berbagai produk-produk yang di tawarkan. Seorang pramuniaga menghampiriku, ia menawarkan buah jeruk sebagai tester.

“Wah segar sekali.” Kataku setelah mencobanya.

“Anda bisa memilihnya di sana nona.” Pramuniaga itu menunjukan tempat jeruk-jeruk itu.

“Ahh~” Aku mengangguk, lalu menghampiri tempatnya.

“Ambil saja jika kau suka.” Saran Jung Kook.

Aku menggeleng, “Tidak, aku tidak punya cukup uang.”

“Aku yang akan bayar.”

Aku menimbangnya. Mencoba berpikir-pikir, sebuah tawaran yang bagus.

“Baiklah jika kau memaksa.” Aku menyengir. Ia terlihat senang sekali saat aku menyetujuinya. Lalu ia menyerahkanku sebuah plastik untuk jeruk-jeruk itu.

 

~~~~

 

“Terimakasih untuk hari ini.” Kata Jung Kook.

Ia kelihatan kesusahan membawa empat kantung belanjaan. Jadi, aku berinisiatif mengambil salah satunya. Ia hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih sekali lagi.

“Jin masih menginap?” Tanyaku sambil menaiki undakan tangga.

“Ya, sampai tiga hari kedepan.” Jawabnya. Aku hanya bisa mengangguk menanggapi jawabannya.

“Kau masih menyukainya?”

Aku berhenti menaiki tangga. Apa aku masih menyukainya setelah tahu kalau Jin seorang gay?

“Aku tidak tahu.” Jawabku sambil mengendikan bahuku. Melanjutkan jalanku menaiki tangga, aku mendengar suara ribut yang berasal dari atas.

“Apa kau mengundang temanmu?” Tanyaku pada Jung Kook.

“Hah? Apa? Teman? Aku tidak mengundang siapapun.” Jung Kook mengerutkan keningnya bingung.

Semakin aku melanjutkan menaiki tangga, semakin aku mendengar suara ribut. Aku mempercepat langkahku, begitupun dengan Jung Kook. Saat aku sudah berada di ujung tangga, aku melihat Jin dengan seorang laki-laki sedang beradu argumen di depan apartemen Jung Kook.

Jung Kook menyingkirkanku agar memberi jalan untuknya. Ia berjalan menghampiri kedua laki-laki itu. Aku tidak bisa apa-apa selain melihat mereka.

“Dia harus pulang.” Tegas pria yang tidak kuketahui namanya.

“Aku tidak akan pulang.” Jin menyahut.

“Hyung kalian bisa membicarakannya besok.” Jung Kook melirikku di ikuti lirikan Jin dan pria asing itu. Lalu Jin masuk kedalam setelah melihatku.

“Aku pulang, bicarakan dengannya untuk segera pulang.” Pria asing itu berjalan ke arahku, sempat melirikku dengan tatapannya yang tajam. Dan ia berjalan berlalu.

Aku menghampiri Jung Kook. Ingin bertanya sesuatu. Apakah tadi itu kakak Jin? Tapi kulihat tidak ada kemiripan antara wajahnya yang bisa dikatakan mereka adalah saudara.

“Dia pasangan Jin.” Jelas Jung Kook tanpa kuminta. Aku membelalakan mataku. Sangat terkejut. Jadi, maksud pria tadi mengatakan Jin harus pulang itu apa? Mereka tinggal serumah?

Aku menekan dadaku. Merasakan jantungku seperti di remas-remas. Aku akui aku masih menyukai Jin, sampai saat ini.

“Kau harus berhenti menyukainya.” Aku mendongak menatap Jung Kook. Ia terlihat kecewa. Pancaran matanya padaku begitu tegas. Apakah harus?

Apakah aku bisa berhenti menyukai Jin?

Tapi, rasanya sakit sekali saat tahu Jin lebih menyukai sesama jenis. Apakah aku tidak cantik atau semacamnya? Rasanya harga diriku turun begitu saja. Aku akan berusaha melupakan perasaan sukaku terhadap Jin.

“Bantu aku melupakannya.” Kataku pada Jung Kook yang dibalas senyuman olehnya.

 

TBC

Advertisements

Suka? Isi kolom di bawah ini ya^^ thanks~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s