SILENCE (Ficlet)

silence cover

“A single person is missing for you, and the whole world is empty.” ― Joan Didion, The Year of Magical Thinking

Sudah berapa lama aku disini?

Sudah berapa lama aku diam tanpa bergerak?

Sudah berapa lama aku menutup mulutku tanpa berbicara?

… Sudah berapa lama aku menunggumu?

~~~~

Sunyi yang kurasa kini berbanding terbalik dengan memori beberapa bulan lalu. Kau ada disampingku, saat itu. Sekarang aku sendiri. Tidak, aku tidak sendiri. Kau akan pulang dan ada di sisiku lagi, kan? Hidupku berjalan dengan tidak semestinya. Aku akan menunggumu pulang. Kau berjanji untuk pulang. Itu yang kau bilang padaku terakhir kali. Aku… akan tetap menunggumu. Kau akan pulang dan kembali padaku, seperti beberapa bulan lalu. Aku merindukan pelukanmu, pelukan hangatmu yang menenangkan. Aku terus bergelut dalam pikiranku, kau pasti kembali, kau tidak pernah ingkar dengan ucapanmu. Aku sangat tahu dirimu melebihi siapapun. Tapi, kenapa aku sulit memercayainya?

A Few Months Ago

“Bisakah kau kesini? sekarang juga! Cepat! Tolong!” Baru saja aku mengangkat panggilan Pat saat tiba-tiba suara Pat dengan penuh kecemasannya menyuruhku datang dengan cepat ke lokasinya. Aku tidak memikirkan apa-apa selain menuruti perintah Pat saat ia memutuskan teleponnya secara sepihak bahkan sebelum aku berbicara. Beberapa menit kemudian Pat mengirimiku pesan singkat, alamat dia berada saat ini. Dengan terburu-buru aku menuju lift dan menekan tombol lift dengan tidak sabaran. Perasaan tidak mengenakan melingkupi hatiku. Aku merutuki lift yang tak kunjung membuka, menggigit jari-jariku, dengan maksud menetralisir kecemasanku –akhirnya pintu lift terbuka, langsung kutekan tombol menuju lantai dasar.

Sesampainya di lantai dasar aku langsung menerobos kerumunan orang-orang, melewati pintu masuk yang penuh sesak. Setelah itu aku memasuki taxi dan menuju lokasi Pat. Aku baru sadar saat tiba di tempat dimana Pat berada, ini New York Presbyterian Hospital, ini rumah sakit. Akupun semakin was-was, ada apa sebenarnya? apa yang terjadi dengan Pat? Mengeluarkan ponselku, aku menelepon Pat bahwa aku sudah berada di lobi rumah sakit. Pat mengatakan jika ia berada di ruang ICU. Akupun segera melesat menuju ruang ICU. Saat posisiku sudah berada 2 meter dari posisi Pat yang sedang duduk sendiri dengan menggenggam ponselnya, akupun berlari.

“Emma!” Serunya ketika melihatku berada didepannya. Aku memegang dadaku, mengambil nafas sebanyak-banyaknya setelah berlari. “Ada apa Pat? apa yang terjadi?” Kataku to the point. Seketika Pat memelukku begitu erat, dan tahu-tahu saja ia menangis dengan begitu keras. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku masih terlalu bingung untuk menebak keadaan. Jadi, aku memeluk Pat. Pat, sahabat baikku, sahabat dekatku, saudariku. “Ada apa Pat? Jelaskan padaku pelan-pelan.” Aku memelankan suaraku, mengelus punggungnya dengan penuh sayang.

Pat menjauh dariku. Baru kusadari jika dahi Pat terbalut oleh kasa dan terdapat memar-memar di sekitaran wajahnya. Pat menundukan kepalanya sambil menyeka air matanya yang mulai turun kembali. “Ma-af.” Gumam Pat. Aku memejamkan mataku, perasaanku masih tidak tenang, kesabaranku mulai menipis saat Pat masih saja bertele-tele menjelaskan permasalahannya. “Dengar, Pat aku ingin kau menjelaskannya dengan jelas, tolonglah.” Mohonku.

Pat mendongakkan wajahnya. “Emma… Kris… Oh ya Tuhan! kenapa ini harus terjadi!!” Erang Pat sambil menengadahkan wajahnya. Jantungku berdetak lebih cepat ketika Pat menyebut-nyebut nama Kris, tunanganku, dan rekan kerja Emma. Oh ya Tuhan, ada apa sebenarnya? “Jangan menangis sepertiku Em. Kau harus bisa menerimanya. Kris… ia sudah tiada.”  Jelas Pat.

Seketika itu juga jantungku berhenti berdetak. Tidak mungkin, ini pasti hanya sebuah lelucon. Memangnya aku akan memercayainya? “Kau bercanda Pat.” Kataku sambil tertawa. “Kau bisa melihatnya di dalam.” Pat menuntunku menuju ruang ICU.Saat pintu sudah terbuka, aku bisa melihat ada seseorang yang di tutupi oleh kain putih di atas ranjang rumah sakit. “Tidak Pat! Kau pasti bercanda!” Teriakku seketika. Tahu-tahu saja aku sudah jatuh terduduk di lantai ruang ICU. Aku tidak mau melihatnya! Jasad itu pasti bukan Kris! Tidak mungkin! “Sejam yang lalu kami baru saja mengobrol lewat telepon!” Kataku tak terima. “Tidak Em, tolong bangunlah, jangan seperti ini.” Mohon Pat, ia menangis lagi.

Aku bahkan tidak bisa menangis saat ini. Aku berdiri, lalu berjalan kesamping ranjang rumah sakit itu sambil menatapi jasad yang ditutupi kain putih. Aku terus meyakinkan diriku, ini hanya sebuah lelucon yang dibuat Pat untukku. Pasti ini orang lain, bukan Kris. Akupun membuka kain itu dengan perlahan sambil menghantarkan do’a kepada Tuhan, berharap apa yang aku pikirkan adalah benar. Ini jasad orang lain. Ketika aku membuka mata, ternyata Tuhan tidak mengabulkan do’a-ku. Yang kulihat saat ini jasad Kris, tunanganku. Dengan bibir membiru dan beberapa luka di beberapa bagian wajah dan tubuhnya. Itu Kris….

~~~~

Bahkan saat Pat menceritakan kronologis kecelakaan yang menimpa mereka aku memikirkan kapan kira-kira Kris akan pulang malam ini, apa aku harus menyiapkan air hangat dan pakaian tidurnya, apa kami harus makan pasta atau Ginger beef[1] kesukaannya. Apakah yang akan kami tonton untuk malam ini, apakah malam ini giliran aku atau dia yang mencuci piring.

Setelah ia pergi, aku merasakan hidupku penuh kehampaan yang tak berujung. Kesunyian yang mencekam. Aku mengabaikan orang-orang di sekitarku, tulisanku yang selalu ditunda sehingga mendapat teguran dari editorku. Aku hanya merasa hampa. Tidakah mereka tahu bagaimana rasanya sunyi dan hampa? Saat pelayat mengucapkan kata-kata duka cita, lagi-lagi yang aku pikirkan adalah merajut kaus kaki untuk Kris, aku tahu kaus kakinya sudah sangat jelek. Ia jarang sekali membeli kaus kaki. Ya, merajut kaus kaki dengan warna-warna lucu untuk Kris. Kris, apa kau senang? kau akan mendapatkan kaus kaki baru dariku.

Saat mengatakan hal-hal yang aku pikirkan untuk Kris kepada Pat, ia hanya memandangku dengan penuh iba. Aku benci pandangan yang ia tujukan untukku, para pelayat sudah memasang wajah itu saat di gereja. Aku tidak mau melihat ekspresi itu. Pat menepuk bahuku lalu memelukku, ia berkata agar aku keluar dari dunia khayalku. Apa ia menyiratkan sesuatu? Maksudnya aku gila?

…… Bagaimana mungkin aku tidak gila saat calon suamiku di jemput olehNya. Dan aku tahu ia tak mungkin kembali lagi. Tapi, katakanlah aku ini benar-benar gila. Aku sudah tinggal bersama dengannya sejak kami resmi bertunangan, aku mencintainya, dan sekarang aku harus terbiasa tanpanya karena sebuah keadaan. Aku bilang ia tidak pergi kemanapun, ia pasti kembali.

Aku bahkan selalu melihatnya di apartemen kami. Saat aku bangun tidur aku selalu melihat wajahnya tengah memandangiku. Ia berada di tempatnya, tapi tak bisa ku gapai. Aku selalu melihatnya ketika aku duduk sendiri memandang langit New York seorang diri di balkon apartemen kami. Aku selalu merasakan keberadaannya. Ia selalu ada untukku. Ia tidak akan pergi kemanapun karena ia selalu tahu tempat ia pulang, bersamaku.

“It occurs to me that we allow ourselves to imagine only such messages as we need to survive.” ―  Joan Didion, The Year of Magical Thinking

END

[1] versi kebarat-baratan dari hidangan Cina yang terbuat dari daging sapi dan jahe.

.

.

.

Maafkan aku, aku rindu banget sama Kris >< Jadilah FF menyedihkan ini u,u

Advertisements

Suka? Isi kolom di bawah ini ya^^ thanks~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s