Daddy and Me [1]

daddy and me

SHYNIM’s Presents

 

Kini aku sedang bersama Marc. Dia sedang menyetir mobil disebelahku –sementara aku asik dengan ipodku. Marc ini –maksudku pria ini adalah ayahku. Aku baru saja mengenalnya kurang lebih 4 bulan lalu setelah kepulanganku ke Negara ini. Kukira ayahku sudah berumur dan tidak keren sama sekali, tapi persepsiku salah besar. Marc masih terlihat muda, dan tampan. Untuk saat ini entah kenapa perasaanku masih terasa aneh saat memanggilnya dengan sebutan Ayah.

Aku lahir dan dibesarkan oleh Ibuku di North Carolina, Amerika. Pengetahuanku tentang Ayahku dulu tidak begitu banyak, aku hanya tahu Ibu sering bercerita tentang Marc padaku. Saat itu aku masih dalam suasana berduka, keluarga yang kupunya hanya Ibu dan ia sudah tiada. Saat itu aku sedang membereskan lemarinya, tahu-tahu saja aku mendapatkan buku usang dengan tulisan khas Ibuku disana, aku membukanya dan membacanya. Terkejut ketika aku tahu aku masih mempunyai Ayah, jadi aku tidak benar-benar yatim-piatu. Aku juga mendapatkan sebuah alamat dan kartu nama bertuliskan Marcus Cho didalamnya yang kuyakini itu adalah alamat Ayahku. Karena tempatnya berada di Korea.

Saat itu aku masih harus sekolah karena kelulusan masih 3 minggu lagi. Setelah Ibu meninggal aku tinggal bersama keluarga Hudson, tetanggaku di North Carolina. Uncle Carl dan Aunty Pam sangat baik kepadaku, mereka juga yang menambah uang sakuku untuk pergi ke Korea. Lucu juga saat membayangkan hidupku bersama dengan keluarga Hudson selama 1 bulan. Mereka menganggapku seperti keluarga mereka sendiri, anaknya –Mala adalah sahabatku sejak kecil, kami berbagi kamar saat itu.

Tahu-tahu saja Marc membangunku dari lamunan, “Hey, Amy bagaimana sekolahmu di Amerika sana? Apa kau cukup pintar?” Aku mendengus, orang tua ini sangat merendahkanku. Aku pernah menang olimpiade Fisika dan Kimia beberapa kali.

“Jadi, sertifikat-sertifikat yang ada dalam map yang aku berikan padamu itu apa? Hasil mencuri?” Kulihat ia hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.

“Bisakah kau lebih sopan padaku? Ini Korea bukan Amerika.”

“Akan kucoba.”

“Yah biasakan lah dirimu.” Marc menghela nafas lalu memijat pelipisnya. “Kuharap kau tidak begitu dengan teman-temanmu nanti di sekolah, juga gurumu. Jaga kesopananmu. Tae Rin mengajarkanmu, kan?

Aku menunduk, mendengarkan nama Korea Ibu disebut membuat hatiku berdesir, entah kenapa, rindu mungkin. Selama di Amerika aku hampir tidak pernah mendengar nama Korea Ibu, teman-temannya selalu memanggilnya Jane. Tiba-tiba saja aku menyadari mataku memanas dan air mataku hampir tumpah.

“Ya, Ibu selalu mengajariku hal-hal baik, tidak seperti bibi Ha-Young yang selalu mengajariku untuk tampil seksi seperti pelacur.” Tahu-tahu saja aku mengalihkan topikku. Topik tentang Ibu terlalu sensitive untukku.

“Amy jaga mulutmu. Ha-Young tidak seperti itu.” Marc memarahiku. Tentu saja ia memarahiku, ia kelihatannya sangat menyukai Ha-young sampai sebegitu besarnya. Aku tidak suka dengan Ha-young, ia pacar Marc –Dan tampilannya terlihat seperti wanita tidak benar, pakaiannya selalu terbuka dimana-mana. Yang kutebak ia berusaha menggoda Marc. Bodoh sekali lelaki tua ini tidak menyadarinya, apa karena ketertarikannya terhadap Ha-Young membuat mata hatinya buta?

“Dia memang seperti itu.” Jawabku. Aku segera turun dan mengambil tasku, tanpa mengucapkan selamat pagi kepada Marc.

~~~~

“Oh astaga kepalaku hampir pecah dengan soal-soal Kimia tadi.” Soo Jung menenggelamkan kepalanya di atas tumpukan buku-buku.

“Ya soal-soalnya sangat sulit.” Kini giliran Ji Young yang berkomentar.

Kami sedang berada di kantin, istirahat makan siang. Aku terus menyeruput air putihku, teman-temanku ini sangat payah dengan Kimia. “Aku bilang juga apa, belajar yang benar.” Aku pun menceramahinya.

“Jangan samakan otak kami denganmu Amy.” Sungut Tae Min.

“Makanya bagi-bagilah kecerdasanmu itu pada kami.” Kini Sunny yang menimpal.

“Oh maafkan aku, aku tidak bisa ini pemberian tuhan.” Aku tersenyum kearah kawan-kawanku. Kami memang selalu dalam satu meja saat di kantin, boleh dibilang kami ini satu geng. Yah tidak berbeda jauh saat di Amerika.

“Tapi yang kudengar guru Kang tidak terlalu kejam soal nilai, kalian tenanglah, ia sangat baik.” Kini Min Yi yang beromentar.

“Kau tahu darimana?” Soo Jung bertanya sambil merapat, secara tidak langsung semua murid di satu meja kami merapat semua, tertarik ingin mendengarkan penjelasan Min Yi.

“Aku tahu ini dari kakakku, kalian tahu Jung Yong-Hwa anak 2-3?” Kami serempak mengangguk, siapa juga yang tidak tahu kakaknya Min Yi. “Dia bilang guru Kang adalah guru favorit selama 4 tahun ini karena kebaikannya –Dia dijuluki sebagai Angel From Heaven.”

Semua anak mengangguk mengiyakan penjelasan Min Yi. “Ditambah lagi dengan parasnya itu, dia sangat cantik. Benarkan?” Anak-anak lelaki kompak mengangguk dengan antusias dan aku sempat mendengar seseorang berkata ‘Andai aku sudah dewasa’.

Ya, Guru Kang sangat cantik. Dan kurasa kecantikannya tidak palsu seperti Go Ha-Young. Bagiku Ha-Young Terlihat seperti badut. Make-up yang ia pakai tebal sekali dan tidak terlihat alami. Belum lagi aku sangsi jika wajahnya masih sama seperti ia terlahir –Maksudku tidak melakukan operasi plastik. Oh andai saja pacar Marc adalah guru Kang, pasti aku senang sekali.

~~~~

“Ya Cho Ae-Ra, mana ayahmu? Aku ingin pulang sekarang.” Soo Jung berjongkok sambil mendekap tubuhnya sendiri karena kedinginan. Tanpa sadar aku juga merapatkan jaketku, hari sudah semakin sore dan Marc belum datang. Sopir Soo Jung juga baru sampai sejak beberapa menit yang lalu.

“Tunggulah sebentar, apa kau tidak kasihan denganku? Disini sudah sepi. Ayolah Soo Jung.” Rengekku meminta Soo Jung tinggal.

“Baiklah, aku tunggu 5 menit lagi.” Putusnya. Aku mengkerut, 5 menit lagi? Aku yakin Marc pasti belum sampai setelah 5 menit. Tapi aku hanya mengangguk, tidak mau memaksa Soo Jung karena aku tahu ia sudah kesal.

“Ae-Ra-ssi, Soo Jung-ssi kalian belum pulang?” Kami terkejut lalu berbalik kebelakang dan menumukan Guru Kang. Kami menundukan badan sedikit memberi hormat kepada guru Kang.

“Ah guru, Kami menunggu Ayah Ae-Ra.” Soo Jung yang menjawab.

Guru Kang mengangguk. “Kau bisa pulang sementara Ae-Ra bersamaku.”

Yang kutahu Soo Jung dengan tampang bahagianya langsung memeluk guru Kang dan mengatakan terimakasih, lalu ia berpaling padaku dan meminta maaf. “Sampai jumpa!!” Soo Jung melambaikan tangannya dari dalam mobil dan semakin lama mobilnya sudah tidak terlihat.

“Ae-Ra-ssi tidak kedinginan? Mau tinggal sebentar di kantor guru selama menunggu ayahmu?”

~~~~

Tahu-tahu saja kini aku sedang menikmati coklat panas dan setoples kraker di meja guru Kang. Kami mengobrol dengan santai dan guru Kang membiarkanku untuk memanggilnya dengan fleksibel. Makin kesini aku yakin aku suka dengan kepribadian guru Kang, walaupun baru 3 minggu di ajar olehnya. Aku seperti melihat Ibu di dalam dirinya.

Eonni tinggal bersama siapa?” Tanyaku.

“Ah, aku tinggal bersama Ayah dan adik perempuanku.” Jawabnya. Aku mengangguk sambil terus mengunyah Krakerku.

“Kudengar kau baru saja pindah ke Korea? Tapi bahasa Koreamu cukup lancar.” Pujinya.

“Aku selalu menggunakan bahasa Korea dengan Ibu dan juga teman-teman Koreaku.” Jelasku.

Aku merasakan getaran di tas ranselku, ku yakin itu telfon dari Marc. Aku pun pamit dan segera mengangkat panggilan itu.

Kau dimana?”

“Aku di ruang guru.”

“Aku di depan gerbang sekolahmu.”

“Ya, aku akan kesana.”

Aku kembali ke meja Na-Ra Eonni dan memberitahu dia kalau Marc sudah menjemput dan Na-Ra Eonni juga berkata dia akan pulang sekarang. Jadi kami berjalan menuju gerbang bersama. Dari tempatku berjalan kuliat Marc sedang menyandarkan tubuhnya di mobil hitamnya, sambil memainkan ponselnya. Lalu dia mendongak ketika melihatku.

“Maaf aku sedikit terlambat.” Sesalnya. Aku mendengus, sedikit katanya? Bahkan ini sudah lewat lebih dari satu jam dari janjinya.

“Kau menelantarkan anakmu, pak.” Kataku sinis. Kulihat dia memandangiku tajam dan tentu saja tidak berdampak apa-apa padaku.

“Anda guru Ae-Ra? Saya Ayahnya, Cho Kyu-Hyun.” Marc berpaling dariku dan mengulurkan tangannya pada Na-Ra Eonni –Yang disambut baik oleh Na-Ra Eonni.

“Saya Kang Na-Ra.”

“Terimakasih sudah menjaga anak nakal ini.” Marc merangkulku. Aku memutar bola mataku jengah, dia sangat bisa mengambil hati seseorang.

“Lain kali anda harus menghubungi Ae-Ra kalau-kalau anda terlambat menjemputnya.” Ujar Na-Ra Eonni. Yah memang tak selamanya yang jahat menginjak yang baik.

“Baiklah, terimakasih sekali lagi, kami pergi.” Marc dan aku membungkuk sedikit, “Ayo kita Pulang gadis kecil.” Marc menuntunku lalu memasukanku kedalam mobil.

~~~~

“Marc, Kubilang kan jam 5 bukan jam 6, bagaimana sih?” Gerutuku.

“Aku ada urusan tadi, maafkan Ayah, ya?”

“Aku harus menunggu selama 1 jam! Oh ya Tuhan.” Aku menghempaskan tubuhku di sandaran jok mobil. Menunduk sehingga wajahku tertutup oleh rambut.

“Jangan marah, ayolah. Ayah akan mentraktirmu.” Mohonnya.

“Paling-paling kau hanya mentraktirku bubble ice seperti yang lalu-lalu.”

“Lalu kau mau apa anak manis? Katakan saja, akan Ayah turuti, heum?”

Aku berpikir, terlalu mainstream jika aku meminta suatu barang, pasti dia akan membelikannya untukku. Kakiku tidak mau diam lalu aku merasa sepatuku menyentuh sesuatu. Aku menunduk dan mengambilnya. Sebuah lipstick. Merah.

Dan aku tahu siapa pemiliknya.

~~~~

“Kau tidak bisa seperti itu!” Teriaknya.

“Tentu saja aku bisa” Balasku berteriak.

“Tidak Ae-Ra! Kau tidak bisa!”

“Kau bilang akan menuruti semua mauku. Dan aku baru saja mengatakannya. Kenapa tidak bisa?” Suaraku bergetar, aku hampir menangis.

Marc mengusap wajahnya frustasi, Ia lalu berjalan ke arahku, merangkulku dan membawaku ke sebuah sofa empuk. Dan aku baru sadar kalau air mataku sudah tumpah, walaupun aku tidak sesunggukan seperti bocah berusia 5 tahun, lagipula kenapa aku harus sesunggukan? Aku sudah 14 tahun!

“Dengar nak. Hal seperti itu tidak begitu mudah untuk kami –Orang dewasa. Harus ada alasan yang pasti untuk mengakhiri suatu hubungan.” Ia memulai.

“Tapi, kau tidak mencintainya.” Kataku menimpal. Aku mengatakan keinginanku, aku ingin Marc dan Ha-Young Berpisah. Aku tidak ingin memiliki seorang ibu tiri seperti Ha-Young nanti. Tidak akan.

Marc terdiam. Aku bisa mendengar desah nafasnya dari tempatku duduk.

“Begini, katakan permintaanmu lagi padaku nanti, setelah pikiranmu tidak kusut.” Katanya.

“Tidak! Maksudmu pikiranku sekarang bagaimana?” Aku berdiri, menatap tajam ke arahnya. “Aku berpikir logis Marc! Dia itu perempuan jalang! Selalu ingin merayumu padahal aku yakin kau tidak begitu menyukainya!” Aku meledak. Benar-benar marah atas perkataannya barusan.

Marc menutup matanya, “Jangan mengatakannya seperti itu. Kau tidak tahu dia.”

“Tidak tahu apanya? Dia benar-benar jalang! Kau saja tidak tahu! Aku berkata jujur dan aku tidak berbohong.”

“DIAM.”

Aku memekik, Marc baru saja membentakku. Benar-benar membentakku. Air mataku sudah benar-benar tumpah. Aku berbalik dan langsung berlari ke kamarku, tanpa menghiraukannya.

Aku menutupnya dengan kasar sampai aku sendiri terkejut. Aku langsung menjatuhkan diriku di tempat tidur, menangis sampai bantalku basah. Tanpa melepas sepatu dan seragam sekolahku. Dan tanpa sadar aku pun terlelap.

~~~~

Setelah pertengkaran pertamaku dengan Marc, aku berusaha menhindarinya. Tak mengacuhkannya yang berada di sekelilingku jika aku dirumah. Aku meminta supir mengantarku pagi-pagi ke sekolah dan menyuruhnya menjemputku jam 5 tepat. Tidak terlambat seperti terakhir kali aku menunggu Marc.

Dan ngomong-ngomong aku semakin dekat dengan Na-Ra Eonni. Kami berbagi kisah bersama, terkadang ia mengajakku menonton bioskop dan menjemputku di rumah. Marc tidak pernah menanyakanku. Kulihat ia enggan untuk sekedar menghampiriku. Baguslah, sekarang aku membangun tembok sendiri untuk Ayahku.

“Kenapa kau memanggilnya Marc?” Tanya Na-Ra Eonni suatu waktu saat kami sedang di Café, menikmati kopi dan makanan yang enak.

“Entahlah, mungkin karena dulu Ibu selalu menceritakanku tentangnya dengan nama itu.” Aku mengangkat bahuku acuh.

“Oh.” Ia mengangguk lalu menyuap sesendok wafel ke mulutnya.

Aku menyereput kopiku lalu berkutat lagi dengan wafel di depanku. “Dia sangat payah menjadi Ayah.” Kataku.

“Ya, itu wajar saja karena dia tidak pernah menjadi Ayah sebelumnya.”

“Ya mungkin saja.” aku bepikir sebentar, “Tapi, Eonni sudah seperti ibu bagiku, sedangkan Eonni tidak pernah menjadi Ibu.”

Ia tersenyum lalu berkata, “Aku mempunyai adik yang sakit-sakitan dan aku harus dituntut agar menjadi keibuan untuknya sementara Ibuku sudah tidak ada.”

Na-Ra Eonni pernah bercerita tentang adiknya padaku. Katanya adiknya sangat lemah sedari kecil –berbeda dengan dirinya. Itulah sebabnya Na-Ra Eonni enggan menikah, karena ia takut meninggalkan adiknya sendirian. Dan ngomong-ngomong adiknya itu tampan sekali. Namanya Kang Min-Hyuk.

“Tapi kau tidak seperti itu Eonni, jiwa keibuanmu itu sangat alami.”

“Hm, coba saja kau mendekatkan dirimu dengan Ha-Young, aku yakin semua wanita punya jiwa keibuan, tidak hanya aku.”

“Ya aku tahu, tapi hey apa Eonni bercanda? Ha-Young? Oh mungkin saja saat aku mencoba mendekatkan diriku dengan Ha-Young keadaanku sedang demam.”

Na-Ra Eonni tertawa lalu menyuruhku untuk bersiap-siap untuk pulang, sudah terlalu larut katanya.

~~~~

“Masuk ke mobil Ae-Ra.” Tiba-tiba saja Marc datang tanpa diminta saat aku sedang menunggu supirku bersama Soo Jung dan Tae Min. Aku hanya bisa menggumamkan kata ‘maaf’ ke arah Tae Min dan Soojung dan kulihat mereka hanya mengangguk sambil mengangkat kepalan tangannya ke udara. Marc mencoba menyeretku menuju mobilnya. Aku mendengus, dia tidak akan pernah menjadi Ayah yang baik, dia payah.

Saat kami sudah berlalu dari sekolah, Marc belum membuka mulutnya. Wajahnya terlihat serius dengan kerutan-kerutan di dahinya. Aku memutuskan untuk mengeluarkan i-pod ku dan mendengarkan suara merdu Kim Tae-Yeon.

Kami tiba di rumah, ia memintaku untuk segera mandi dan berganti pakaian setelah itu makan malam. Aku menurutinya, aku masih ingin menjadi anak yang berbakti tentu saja. Setelah selesai, aku turun kebawah dan mendapati Marc sudah duduk di ujung meja makan. Aku menghampirinya dan duduk di kursiku. Kami pun makan dalam diam setelah Marc memimpin doa. Setelah sesi makan malam yang membosankan aku mengikutinya menuju ruang keluarga dan duduk di sofa. Menunggunya membuka suara.

“Ae Ra-ya.” Dia menatapku, “Begini, maafkan Ayah atas kejadian beberapa waktu lalu.”

“Satu bulan yang lalu.” Koreksiku.

“Ya, satu bulan yang lalu.” Ia menghela nafas. “Aku minta maaf atas perlakuanku padamu. Kau tahu, sangat sulit menjadi seorang Ayah secara mendadak seperti ini. Aku secara teknis –ya belum siap. Maafkan Ayah Ae Ra.”

Aku tersentuh, yah benar juga kata Na-Ra Eonni. Dia kan baru menjadi Ayah. Aku meringis ketika tersadar kalau Ayahku ini belum menikah setelah Ibu meninggalkannya ke Amerika.

“Ayah menuruti kemauanmu Ae-Ra.” Ujarnya pelan. Aku mendongak menatapnya. Benarkah akhirnya ia melakukan itu untukku?

“Kau serius?” Tanyaku.

“Ya, aku serius. Benar katamu. Perempuan itu jalang.” Kubisa lihat ia mulai tersenyum sekarang. Dan kurasa aku juga ikut tersenyum.

“Apa kataku! Aku selalu benar!” ucapku. Aku berpindah ke sofa yang di duduki Marc dan merapat ke arahnya.

“Jadi, kau sudah tidak marah lagi?” Tanyanya hati-hati.

Aku tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. “Tentu saja tidak! Kau sudah menuruti kemauanku Ayah!”

“Hey coba kau sebut itu lagi.” Pintanya. Aku menggeleng, sambil berdiri lalu berlari ke kamarku. “Tidak Marc kau salah dengar!” Teriakku.

Saat aku mencoba membuka kamarku sambil masih tersenyum, aku terkejut saat ada seseorang yang mengangkatku.

“Ya! Marc! Put me down you jerk!” Gerutuku.

“Kau berlaku tidak sopan lagi pada Ayahmu.” Ia menurunkanku, “Kau harus Ayah hukum karena telah membuat Ayah frustasi selama sebulan ini.”

Dan ia mulai menggelitiku.

“Oh tidak Marc! Jangan! Aku sangat mudah geli!” Aku berlari, mencoba menghindarinya.

“Kau seperti ibumu, mudah geli!” Katanya.

“Ya karena aku anak Ibu tentu saja.” Timpalku.

Kami terduduk di sofa panjang di balkon. Udara menghembus pelan, tapi cukup membuatku menggigil.

“Kemari, Ayah peluk kau gadis nakal.” Ia merangkulku. Tubuhnya sangat hangat dan nyaman. Aku belum pernah dipeluk olehnya. Begini rasanya punya Ayah…

~~~~

Aku terbangun karena merasakan pergerakan. Ternyata Marc sedang menyelimutiku.

“Marc.” Panggilku pelan.

“Ya, sayang.” Jawabnya. Ia merangkak naik ke tempat tidurku. Lalu mengelus rambutku dengan sayang.

“Kapan aku tertidur?” Tanyaku. Aku tidak mencoba bangun karena aku menikmati perlakuan Ayahku ini. Aku pernah bermimpi menginginkan Ayahku mengelus rambutku sebelum tertidur dan mengecup keningku.

“Beberapa menit yang lalu.” Jawabnya.

“Kau yang memindahkanku?” Tanyaku lagi. Kulihat ia tersenyum lalu mengangguk.

“Tidurlah Amy.” Perintahnya, “Ayah menemanimu.”

Setelah beberapa saat aku masih tetap terjaga, sambil memandang langit-langit kamarku yang di penuhi bintang-bintang.

“Aku tidak pernah membayangkan jika aku masih mempunyai Ayah.” Kataku. Tidak ada sahutan dari Marc, Jadi aku memutuskan untuk terus berbicara.

“Sejak kecil aku selalu bersama Ibu. Ibu yang mengantarku pertama kali ke taman kanak-kanak, Ke sekolah dasar lalu ke sekolah menengah. Ibu bekerja sangat keras untukku, sampai-sampai ia sakit. Ibuku sangat kuat dan sangat anggun. Ia bisa menjadi ayah dan menjadi Ibu dalam sekali waktu. Aku kagum kepadanya, aku ingin menjadi seperti Ibu.” Aku menghembuskan nafasku.

“Aku… merindukannya.” Kataku kemudian.

“Kini aku bersama Ayahku, Ayah kandungku. Seorang yang sama sekali belum ku kenal. Seorang pria yang selalu aku mimpi-mimpikan. Aku bermimpi keluargaku utuh. Ada Ayah dan Ibu. Tapi, Tuhan memang punya caranya tersendiri. Setelah Ibu pergi, Tuhan memberikanku jalan menuju Ayahku. Aku senang.” Aku mendongakan wajahku, melihat Ayah yang juga menatapku. Ia tersenyum lalu mengecup keningku lama.

“Ayah senang kau bercerita seperti ini. Kau seperti Ibumu. Mirip sekali.” Ayah mulai berbicara.

“Saat kau datang kukira kau adalah Tae Rin.” Katanya sambil tertawa.

“Memang aku sebegitu miripnya dengan Ibu?” Kataku. Ia mengangguk mengiyakan ucapanku.

“Dulu, aku masih ingat sekali. Ibumu itu wanita tercantik di kampus. Ia anggun, benar apa katamu. Aku bahkan salah satu pria yang mengejarnya. Penggemarnya banyak.”

Aku membulatkan mataku. “Benarkah? Keren sekali.” Seruku girang.

“Ya, dia cantik. Dan aku tahu ia pasti akan memilihku karena aku tiada duanya.” Aku mendengus namun tetap tersenyum. “Aku tidak tahu kenapa ia pergi meninggalkanku waktu itu. Kami baru saja menikah selama beberapa bulan setelah berpacaran cukup lama. Bahkan aku tidak tahu saat ia pergi –ia sedang mengandung anakku –mengandungmu. Tahu-tahu saja setelah 14 tahun ada seorang gadis cantik di depan rumahku mengatakan jika ia adalah anak Kim Tae Rin.” Ia menatapku lamat-lamat.

“Aku cukup terkejut saat itu. Aku tidak percaya selama ini aku mempunyai anak yang sangat cantik. Dan kukira aku bisa bertemu kembali dengan Tae Rin setelah tau keberadaanmu.” Ada nada sedih di ucapannya, “Tapi ternyata, anak gadis itu pun kesini karena Ibunya telah tiada. Aku benar-benar sedih. Tapi, mulai dari hari itu aku berusaha untuk menjadi Ayah yang baik untuknya.”

“Bukan hanya kau Ae Ra, Tapi aku juga. Aku merindukan ibumu.”

“Yah Ibu benar-benar beruntung.” Gumamku.

Ayah melihat jam dinding di kamarku lalu merapatkan selimut ditubuhku. “Sudah jam 10 sudah saatnya anak Ayah tidur.”

“Ayah..” Panggilku ketika ia beranjak dari tempat tidurku.

Ia berbalik, dan kulihat matanya bersinar ketika mendengar panggilanku.

“Aku… Em Maukah… Ayah… apa kau keberatan jika aku mengundang Na-Ra Eonni untuk makan malam di rumah kita besok malam?”

“Na Ra Eonni? Siapa?” Kulihat Ayah memicingkan matanya.

“Guru kang Ayah… waktu itu kau telat menjemputku lalu Guru Kang ada bersamaku.”

“Oh,” Ayah mendesah, “Boleh saja, berarti kau akan memasak bersamaku.”

“Oh ayolah.” Rengekku.

“Itu tamumu, kita harus memasak.”

“Baiklah…”

Ayah membenarkan selimutku sekali lagi lalu mencium keningku. “Good night dear.”

You too Dad.”

“Pertahankan itu gadis kecil.” Kata Ayah sambil melenggang pergi keluar kamarku.

Aku mengkerutkan alisku. Apa yang harus di pertahankan?

Dan setelah berpikir beberapa menit aku tahu maksud Ayah adalah mempertahankan panggilan ‘Ayah’ untuknya. Ya aku mencoba.

~~~~

“Selamat pagi, Ayah.” Ae Ra mencium pipi kanan Kyu Hyun sambil duduk di kursinya.

“Selamat pagi.” Sahut Kyu Hyun. “Kau lebih terlihat seperti orang Korea sekarang.” Celetuk Kyu Hyun.

Ae Ra memberengut, tidak terima atas perkataan Ayahnya barusan. “Yes I am a Korean.” Kata Ae Ra sambil menekankan kata Korea.

But, You’re like an American’ people before, sweety. Buang jauh-jauh kebiasaanmu selama di Amerika. Tidak sesuai dengan kebudayaan Korea.”

“Akan kucoba.” Kata Ae Ra.

“Hati-hati kalau makan, ini masih pagi, jangan terburu-buru.” Kyu Hyun terlihat sangat perhatian kepada putri satu-satunya. Ia amat senang dengan keberadaan Ae Ra. Sebelumnya ia hanya sendiri di rumah. Hidupnya di habiskan untuk bekerja.

“Ayah.” Panggil Ae Ra.

“Ya?” Jawab Kyu Hyun

“Minggu depan hari ulang tahunku.” Ae Ra menggit bibirnya.

Kyu Hyun tidak akan menyela putrinya. Ia akan mendengarkan putrinya berbicara terlebih dahulu. Ia tahu hari ulang tahun Ae Ra minggu depan. Ia juga sudah menyiapkan kado untuk putrinya.

“Aku… ingin pergi bersama Na Ra Eonni,” Ae Ra menggantungkan kalimatnya. Namun Kyu Hyun cepat menyela.

“Kau bi–“

“Dan bersama Ayah.”

Kyu Hyun membelalak, bersama ia dan Na Ra? Maksud putrinya ini apa? Dan Kyu Hyun sadar, ia tidak akan menyela Ae Ra seperti kejadian sebelumnya. Kyu Hyun takut kejadian beberapa waktu lalu terulang lagi, putrinya sangat keras kepala.

Setelah menunggu beberapa menit dan tidak ada jawaban dari Kyu Hyun, Ae Ra memutuskan untuk bersuara. “Tidak apa-apa kalau Ayah tidak mau. Aku–“

“Baiklah. Kau mau kemana?” Sela Kyu Hyun.

Ae Ra merasa hatinya di penuhi bunga-bunga. Ia senang Ayahnya menuruti maunya –lagi, dan ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

~~~~

“Eonni, datanglah ke rumahku untuk makan malam hari ini.” Mohon Ae Ra pada Na Ra.

“Ya, tentu saja. Jam berapa?” sahut Na Ra.

Na Ra bisa saja menolak. Ia sedang tidak ingin kemana-mana, tapi Na Ra tidak bisa. Ia sangat menyayangi anak muridnya satu ini. Mereka juga sudah sangat dekat belakangan ini.

Ae Ra hampir saja melompat saat mendengar jawaban Na Ra. “Jam 8, Oke? Aku tunggu!”

Ae Ra mencium pipi Na Ra lalu bergegas kembali ke kelasnya.

“Dadah guru Kang, aku menyayangimu.” Ae Ra membuat tanda hati di kepalanya lalu berlalu dari ruang guru.

Na Ra hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

~~~~

“Hey, Jadi bagaimana? Guru Kang mau?” Soo Jung langsung menghampiri Ae Ra ketika dilihat Ae Ra masuk kedalam kelas dan duduk di bangkunya. Ae Ra tersenyum lebar sambil menganggukan kepalanya.

“Kau akan masak apa nanti dengan Ayahmu?” Kini Min Yi yang bertanya.

“Ehm… yang lezat apa? Fettucini? Lasagna? Atau masakan China saja ya?” Ae Ra Terkikik geli membayangkan ia memasak bersama Ayahnya.

“Oh bagaimana dengan sup miso?” Jun Hyung Menimpal.

“Steak saja.” Kata Ji Young.

“Hey itu terlalu mewah, bagaimana dengan spaghetti bolognaise? Itu sangat simpel dan mudah.” Luna yang mengusulkan.

“Ah iya… tapi itu terlalu sederhana.” Ae Ra berpikir keras. Lalu ada yang menimpal lagi, “Spaghetti Carbonara.” Itu Tae Min.

“Ah ya! Itu ide bagus!”

‘Tapi Ae Ra-ya, Kau yakin ingin menjodohkan Ayahmu dengan guru Kang? Maksudku, memang umur ayahmu berapa?” Tiba-tiba saja Dae Hyun ikut menyelip di antara obrolan mereka.

“Ayahnya tampan dan sepertinya cocok dengan guru Kang yang cantik.” Soo Jung bersuara.

“Ayahku baru berumur 40 tahun.” Kata Ae Ra menjawab pertanyaan Dae Hyun.

“Oh!” mereka semua berseru bersamaan.

“Kami menyetujuinya!” Kompak mereka.

“Aku bilang juga apa!” Ae Ra tersenyum. Membayangkan berbagai rencana yang ada di otaknya. Kalau ayahnya benar-benar tertarik dengan guru Kang dan jika mereka menikah pasti sangatlah keren. Ayahnya seorang pengusaha contractor kaya dengan guru Kimia yang pintar. Dan Ae Ra pernah mendengar kalau Na Ra juga seorang dosen di SNU. Hidupnya pasti bahagia. Dan ia yakin Ibunya juga bahagia.

 

 TBC

 

Advertisements

12 responses to “Daddy and Me [1]

  1. Jadi akhirnya anaknya nih yg nyari jodoh buat ayahnya
    Hihihi
    Smoga kyuhyun suka ya

  2. iya semoga kyuhyun suka 😀

  3. hueee lanjutt sip lanjutttttttttttttttkan semangatttt

  4. ayoo sip lanjutinn :*

  5. wah aku suka ff yg bertema family kyk gini

    eung tapi aku rasa umur kyukyu terlalu tua disini
    yah bs di bayangkan 10 thn kedepan kyu udah bakalan jd kakek kakek

  6. wah terimakasih ya, ehm semua orang memang bakalan jadi kakek2, ‘kan? 😀 saya buatnya biar nggak mainstream xD

  7. hai perkenalkan q reader br….
    wah Kyuhyun udah punya anak?
    udah gede lg.
    ngomong2 nie cerita da before story’a ngga’???
    rada bingung nie sm asal usul Ae ra.
    knpa kedua orang tua’a berpisah?
    knpa jg keberadaa Ae ra terkesan d sembunyikan dr Kyuhyun.
    dan satu lg Ae ra kaya lebih dewasa dr umur’a z???

  8. Hi..
    Sebelumnya, untuk before story akan saya buat setelah ff ini selesai, jadi mohon bersabar ya^^ ae ra terkesan lebih dewasa, karena lengaruh kehidupan dia sebelumnya di amerika 🙂

  9. Haalo slm.knl prtmakali brknjng. . Ska cerita sprti ini. . .Akan bnyk verita2 seru bagaiman ayah dn anak, berharap cerita ini tdk hanya fks kpda kyu dan nara, tp lbh kpda bagaimana mrka menghadapi kbrsaman dan.problem yg hrs di.pchkan.ayah dn anak yg tb2 brtemu, akn.bnyk.gmbrn khdpn.nyata sprtinya dan.akn.seru itu yg sy harap dr ff ini, plsss jngn bkn ini jd drama komedy karan.latar blkng ceritanya uda keren.bngt untuk di bhsss. . Di tunggu kelnjutanya

  10. shoffie monicca

    ae ra smga brhsil jodohkn kyu sm gurunya

  11. inggarkichulsung

    Bagus bgt ff nya, jd Kyu oppa tdk th apa2 ttg kehamilan istrinya Tae Rin dan 14 thn berlalu seorg gadis cantik yg mirip sekali dgn Tae Rin yaitu Ae Ra dtg dan mengaku sbg anak kandungnya, ia sendiri tdk menyangka bahwa ia seorg ayah skrg.. Kyu Appa berusaha mjd ayah terbaik u Aera, wah Ae ra benar2 niat ingin menjodohkan ayahnya dgn Guru Kimia nya Kang Nara

  12. huaaa ceritanya sweet
    aku suka hubungan kyu dan anaknya disini
    dan ngebayanginnya lucu aja
    aku blm tw konflik apa yang pengin digambarin di ff ini tapi aku bakal ngikutin next nya~
    *melipir ke part selanjutnya

Suka? Isi kolom di bawah ini ya^^ thanks~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s