My New Bad Neighbor [Chapter 2]

my-new-bad-neighbor

Discaimer : This fanfic is originaly mine, created by me, don’t copy-paste without my permission | A/N : Di chapter ini ada bagian yang sensitive em tapi gak terlalu banyak, tenang aja. Maaf untuk keterlambatannya. Enjoy and happy reading^^

Prolog | Chapter 1

“Jung Kook!!!!! Keluar dari kamarku!”

Saat ini aku hanya ingin sendiri saja di dalam kamarku –tidur, makan, atau mungkin membaca novel. Tapi, tiba-tiba Jung Kook datang memintaku untuk memasakannya takoyaki, makanan asal Jepang. Tempo hari aku membuatnya dan memberikan makanan itu kepada Jung Kook. Kalau seperti ini jadinya, aku sangat menyesal memberinya pada Jung Kook.

“Ayolah Kim aku sangat lapar, kau tidak mendengarnya?” Melasnya padaku. Saat ini Jung Kook sedang mengusap-usap perutnya yang sama sekali tidak seksi itu.

“Tidak! Enak saja kau ini, memangnya aku pembantumu? Memangnya setiap kau menyuruhku melakukan ini-itu kau akan membayarku setelahnya? Hah?!” Aku sudah sangat emosi kepada Jung Kook. Memangya dia siapa menyuruhku melakukan perintanya.

“Sekali ini saja Kim, tolonglah.” Mohonnya sekali lagi. Aku menggeleng, tempo hari sebenarnya aku mempunyai alasan kenapa aku dengan sudi membuat dan memberikannnya Takoyaki.

5 Days Ago

Tok tok tok

“Jung Kook buka pintunya!” Seruku dari luar pintu.

Saat ini aku berencana untuk menanyakan tentang Jin pada Jung Kook. Berhubung kemarin karenanya lah aku bisa bertatapan muka dengan Jin –bahkan aku bisa mengobrol dengannya secara langsung.

Membenarkan posisiku, kudengar ada suara langkah kaki dari dalam,tak berapa lama pintu terbuka dan menampakan sosok Jung Kook yang errr… sangat kusut.

“Hei Kim, masuklah.”

Aku melangkah kedalam apartemen Jung Kook. Ruangannya sangat bersih dan rapih, bertolak belakang dengan apartemenku yang dipenuhi oleh barang-barang, dan bertolak belakang juga dengan penampilan orang yang menempati apartemen ini. Bagaimana bisa kamar apartemennya terlihat rapi sedangkan pemiliknya terlihat sangat kusut dan jelek.

Aku melihat Jung Kook dari atas sampai bawah, mengamati penampilannya yang terlihat seperti Ahjussi-ahjussi pemabuk. Ia menguap tanpa menutup mulutnya. Menggaruk-garuk kepalanya sampai rambutnya berantakan yang dari awal memang sudah berantakan. Aku mengeryitkan dahiku, orang ini bisa bermetamorfosis sebegitu cepatnya. Kemarin terlihat sangat ceria, lusa terlihat sangat dingin, dan sekarang ia terlihat sangat sangat kacau.

“Hei kau bawa apa Kim?” Tanya Jung Kook sambil menunjuk kotak makan yang aku pegang sedari tadi.

Menaruhnya di atas meja kemudian aku duduk di sofa yang terlihat empuk untuk pantatku. “Takoyaki. Makanlah, semoga kau suka.”

Buru-buru Jung Kook membuka kotak makannya, mengambil sendok lalu menyuapkannya kedalam mulut. “Tumben sekali kau bawa makanan Kim,” tanyanya sambil terus memakan takoyaki buatanku, “Sering-seringlah seperti ini.”

Aku memajukan tubuhku ke arah Jung Kook, memasang senyum yang kubuat semisterius mungkin lalu berdeham. “Jung Kook aku mempunyai permintaan padamu, boleh?”

Kulihat ia mengangguk sambil terus memakan takoyakinya. “Emm.. Pertama… boleh aku bertanya sebanyak mungkin padamu?” Jung Kook mengangguk, “baiklah, emmm yang kedua… kau mau membantuku jika aku minta?” Jung Kook mengangguk lagi, “apa saja?” Ia mengangguk.

“Tanyakan apa saja, Kim. Jangan sungkan-sungkan”

Menarik napas dalam-dalam, aku mengingat-ingat apa saja yang ingin kutanyakan padanya. Semalam aku menyusunnya sebelum tertidur. Aku tidak berlebihan,aku hanya takut lupa. Tapi, sebenarnya aku juga membawa catatannya.

“Hmmm begini.. Jung Kook, kau tahu Jin kan?” Tanyaku.

“Kalau yang kau maksud Jin yang kemarin datang ke apartemenku, ya aku tahu dan sangat mengenalnya.”

“Benarkah???” Kejutku tak percaya. Berarti aku bisa sering-sering bertemu Jin jika ia kesini.

“Memangnya kau siapanya Jin?” tanyaku lagi.

“Hmm… Dia sepupuku.”

“Kau bercanda?” Pekikku, kali ini aku sangat-sangat terkejut.

“Untuk apa aku beranda?” Jawab Jung Kook santai sambil terus memakan takoyakinya.

Aku meringis. Benar juga, untuk apa ia bercanda mengenai itu.”Kalau begitu..” aku mengamati Jung Kook yang sedang memandangku juga, “apa dia punya pacar?”Aku memejamkan mataku, cukup malu karena aku menanyakan hal itu pada Jung Kook yang notabenenya adalah sepupu Jin. Apa dia akan melaporkannya pada Jin?

Setelah beberapa lama, aku tidak mendengar ada suara apapun. Membuka mataku, kulihat Jung Kook sedang melanjutkan memakan takoyakinya. Kukira ia akan tertawa terbahak-bahak saat aku menanyakan hal itu padanya.

Jung Kook menutup kembali kotak makan itu karena memang takoyakinya sudah habis dimakan olehnya. Ia berjalan kearah dapur, kudengar ada suara air mengalir, kurasa ia sedang mencuci tangan. Jung Kook muncul di depan pintu dapur, bersedekap sambil mengamatiku lamat-lamat.

“Apa?” Seruku. Untuk apa dia mengamatiku sebegitu detailnya –maksudku ia mengamatiku dari atas kepalaku sampai kaki. Apa ada yang salah padaku?

“Kau menyukai Jin.”

Aku membelakakan mataku. Bagaimana ia bisa tahu? Apa aku begitu transparan?

“Kau terus bertanya tentang Jin.”

“Me-memang kenapa jika aku bertanya tetangnya padamu?” Elakku tak terima.

“Kau menyukainya jadi kau menanyakannya padaku.” Jung Kook berjalan ke arahku. Ia menempatkan dirinya di sebelahku.

“Tidak! Aku tidak bilang padamu jika aku menyukai Jin.” Elakku sekali lagi.

Jung Kook semakin mendekati dirinya padaku, spontan aku memundurkan diriku. Tapi, ia terus saja memajukan tubuhnya ke arahku. Saat aku ingin mundur lagi, ternyata aku sudah berada di ujung sofa, terhalang oleh pegangan kayu. Sofa ini adalah sofa jenis vintage.

Aku bersiap-siap untuk berdiri, tapi Jung Kook memegang tanganku lalu membantingku di atas sofa. Ia berada di atasku. Saat ini jantungku berdebar, takut membayangkan apa yang akan dilakukan Jung Kook padaku.

Sambil mengelus pipiku, Jung Kook mendekatkan wajahnya kepadaku. Aku tidak tahu kenapa tubuhku tidak bereaksi apapun terhadap perlakuannya. Aku terus memandang matanya, matanya yang terlihat sayu.

“Kenapa bukan aku?” lirih Jung Kook.

Bukan dia? Apa maksudnya?

Jung Kook semakin mendekatkan wajahnya padaku, jarak kami tidak lebih dari 5 centi. Aku memegang kedua pipi Jung Kook, bermaksud untuk menjauhi wajahnya dariku. Tapi ia semakin mendekat, hingga kedua bibir kami menyatu. Jung Kook memejamkan matanya, begitupun juga aku. Kurasakan sensasi lain saat ini. Debaran jantungku kian menggila saat Jung Kook terus mencumbu bibirku. Mengalungkan kedua tanganku lehernya. Kurasakan Jung Kook mengangkat tubuhku hingga aku berada di atas pangkuannya. Jung Kook begitu lembut. Ia mengangkatku, aku tidak tahu akan di bawa kemana. Saat ini pikiranku kosong, yang kurasakan hanya kelembutan Jung Kook padaku.

Yang kurasa saat ini, ia menghempaskan tubuhku di atas kasur. Aku menikmati pertautan bibir kami. Bagaimana kalau ini adalah Jin? Bukan Jung Kook.

Ini Jung Kook, saat ini aku sedang di cumbu oleh Jung Kook.

Sontak aku membuka kedua mataku, mendorong Jung Kook hingga tautan kami terlepas. Kulihat raut wajahnya juga terkejut.

“Kim… aku bisa menjelaskannya.” Jung Kook menghampiriku, menyentuh tanganku, namun aku menepisnya. Tadi semua salah, sangat salah. Tidak seharusnya aku menerima cumbuan Jung Kook. Merapihkan pakaianku yang lumayan kusut, aku berdiri dan berjalan keluar.

“Kim…” Jung Kook terus memanggilku. Aku tidak bisa. Saat ini aku tidak bisa bertatapan dengan Jung Kook setelah apa yang terjadi beberapa menit lalu.

Mengambil kotak makan, aku meneruskan jalanku menuju pintu keluar.

***

Butuh 3 hari bagiku untuk bisa bertatapan muka lagi dengan Jung Kook. Tidak mudah bagiku untuk bisa bersikap normal di hadapannya. Aku marah, sangat marah pada awalnya, tapi aku sadar, saat itu aku juga tidak menolak.

“Yasudah jika kau tidak ingin memasakanku takoyaki. Aku akan beritahu Jin jika kau menyukainya.” Ancam Jung Kook. Aku membelakakan mataku, tidak bisa! Jin tidak boleh tahu jika aku menyukainya. Buru-buru aku berdiri lalu menghampiri Jung Kook yang sedang duduk bersila di lantai.

“Jangan berani-beraninya kau membocorkannya Jung Kook!”

“Buatkan aku takoyaki.” Pintanya.

“Tapi jangan bilang Jin, oke?”

Jung Kook mengangguk. Menghela napas, akhirnya aku menyerah juga. Hanya dengan membuat takoyaki untuk Jung Kook maka Jin tidak akan tahu…

***

“Kau akan membawaku kemana? Aku sudah ada janji dengan temanku!” Teriakku di telinga Jung Kook. Saat ini aku sedang berada di atas motor Jung Kook. Tadi sehabis pulang dari mini market Jung Kook mengajakku ke suatu tempat. Aku sendiri tidak tahu ia akan mengajakku kemana. Sejak hari itu, setiap permintaan yang ia sampaikan padaku jika aku tidak menurutinya, Jung Kook mengancam akan memberitahu Jin jika aku menyukainya, kekanakan. Tapi aku tidak bisa menolak. Aku tidak mau mengambil resiko. Jin tidak boleh tahu, tidak di saat ini.

Jung Kook menepikan motornya di sebuah gedung tua yang sudah tidak di pakai. Mengernyitkan dahiku, aku tidak tahu alasan Jung Kook membawaku kemari. Tidak ada yag spesial disini, sepi dan kosong.

“Ayo.” Jung Kook mengendikan bahunya, meyuruhku untuk mengikutinya masuk kedalam.

“Untuk apa kita kesini?” Tanyaku.

“Ikuti saja.”

Jung Kook terlebih dahulu masuk kedalam. Bangunan ini sudah sangat tua, tidak ada penghuninya selain tikus dan kelelawar. Aku terkesiap saat seekor tikus lewat di depanku. Buru-buru aku menyusul Jung Kook. Mengamit tangan Jung Kook, aku tidak peduli jika ia akan berpikir seperti apa. Aku tidak mau bertemu dengan tikus atau sebangsanya. Lagipula untuk apa ia membawaku kesini.

Kami menaiki tangga hingga sampai di atap gedung ini. Melepaskan kaitan tangan kami, aku menjauh dari Jung Kook karena aku tidak membutuhkannya lagi disini. Dari jauh aku mendengar kekehannya. Biarlah Jung Kook berpikir apapun, aku tidak perduli.

Angin disini sangat kencang, aku menyusuri atap gedung ini, aku baru sadar ternyata gedung ini terletak di atas bukit. Saat ini pukul 5 sore, langit terlihat oranye, sangat cantik. Kudengar hembusan napas di sampingku yang kuyakin itu adalah Jung Kook, siapa lagi?

“Cantik ya.” ujar Jung Kook. Aku hanya mengangguk menanggapi ucapannya.

“Kim…” Panggil Jung Kook.

Aku menengokan kepalaku kearahnya, ternyata ia sedang memandangiku. Suasana ini terasa sangat canggung bagiku. Langit pun semakin menggelap.

“Maafkan aku untuk kejadian beberapa hari yang lalu.” Jung Kook menunduk.

Aku tersenyum, ternyata Jung Kook bisa terlihat manis saat ini. Jung Kook si pria imut sekaligus pengganggu meminta maaf padaku. Rasanya aku ingin tertawa saat ini, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa tertawa disaat seseorang meminta maaf dengan tulus.

Tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikiranku. Bukannya aku memanfaatkan momen ini, tapi aku rasa ini adalah kesempatanku. Aku terus tersenyum semakin lebar saat otakku berjalan dengan baik.

“Dengan satu syarat.”

Jung Kook sontak mendongakan wajahnya. “Apa? Sebutkan saja.”

Dalam hati aku berteriak, kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja. Jung Kook, walaupun aku sangat-sangat tidak suka dengan kelakuanmu, tapi aku sangat senang karena kau adalah pria terbaik yang menjadi tetanggaku. Aku mendekatkan diriku pada Jung Kook, bermaksud menggodanya. Kutempelkan kedua tanganku di kedua pipinya. Mendekatkan bibirku di telinganya, aku bersiap menyuarakan syaratku padanya.

“Aku ingin mengenal Jin.” Ucapku dengan intonasi yang sangat rendah.

 TBC

Advertisements

Suka? Isi kolom di bawah ini ya^^ thanks~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s