My New Bad Neighbor [Chapter 1]

my-new-bad-neighbor

I hate Plagiarism.

I don’t need your existence!

I apologize for typos, cheers!

Happy reading^^

Entah dia mempunyai kekuatan super atau dia memang mempunyai kecepatan yang bagus sehingga kini dia sedang bertengger di atas motor sportnya dengan memasang senyuman yang menyebalkan di wajahnya. Oh terkutuklah kau Jung Kook! Bahkan kita berteman belum genap 1 bulan, kau sudah berani mengacaukan hidupku yang penuh dengan ketenangan. Sebenarnya kenapa kau seperti ini kepadaku? Kenapa kau tidak mengusili saja nenek-nenek tua yang berada di lantai bawah atau Oh Jang Mi seorang gadis kelebihan bobot yang selalu memakan segala jenis coklat dan berada tepat di depan kamar apartemenmu daripada harus mengusili aku yang sangat memuja ketenangan ini? Kenapa Jung Kook???

Oh mungkin aku sudah gila karena pria gila ini. Pikiranku manjadi terlalu berlebihan dan terlalu drama. Sejak kapan Kim Hye Hwa menjadi seperti ini? Tentu saja sejak Jeon Jung Kook tinggal di sebelah kamar apartemenku. Jika aku menjadi sinting, salahkan saja Jung Kook si anak baru yang idiot.

“Hye Hwa naiklah, akan ku antarkan kau kemana saja kau mau.” Dengan baiknya dia menawarkanku tumpangan, dan –Oh jangan lupakan senyuman idiot yang selalu terpatri di wajahnya.

Aku mendengus. Enak saja, sudah menghancurkan hariku yang baik dan tentram, sekarang dia masih bisa tersenyum.

Aku mencoba mengabaikannya. Melewati Jung Kook dan motornya, aku mencoba berjalan lurus menuju halte yang jaraknya kurang lebih 20 M di depanku.

“Hye Hwa…. ayolah jangan marah padaku.” Bujuknya dengan suara halus.

Aku mengabaikannya. Terus berjalan menuju halte. Kulihat dari ekor mataku, dia turun dari motor sport-nya. Cish, untuk apa dia turun dari motornya? Terus mendesakku untuk menerima tawarannya? Hell no!

Aku mempercepat langkahku, mengeratkan peganganku pada tali tasku.

Sebuah tangan memegang sikuku. Kutebak dia adalah Jung Kook. Siapa lagi?

Aku menghembuskan nafasku kasar. Sudah tak terhitung berapa kali aku menghembuskan nafasku saat bersamanya. Membalikan badanku, aku melihat Jung Kook tersenyum semakin lebar. Apa dia tidak kering tersenyum seperti itu terus? Aku memutar bola mataku malas.

“Sekarang apa? Mencoba membujukku?” Tanyaku malas. Jung Kook meringis mendapati sikapku yang kurang bersahabat dengannya.

Dia menggaruk tengkuknya, masih tersenyum. Just like an idiot.

“Ya,” Dia mengangguk, “Jadi…. kau mau kan? Hanya kali ini saja, bagaimana?” Tawarnya.

Aku berfikir, apa tidak apa-apa menurunkan saja sedikit gengsiku? Bisakan? Lagipula dia yang menawarkannya, kan?

Aku masih berfikir saat tiba-tiba dia menarik tanganku menuju motornya. “Aku anggap kau mau Hyw Hwa.” Katanya sambil berjalan menuju motornya yang ia parkir di samping jalan. Aku memutar bola mataku, seenaknya saja dia. Memangnya dia siapa berani-beraninya menarik tanganku seperti ini? Dia pikir dia itu pacarku? Yang benar saja.

Dengan pasrahnya aku mengikuti dia menuju motornya. Sesampainya di samping motornya, Jung Kook menaikinya terlebih dahulu lalu menginstrusikanku untuk naik keatas motornya.

“Hye Hwa pegang pinggangku.” Instruksinya sekali lagi.

“Apa? Tidak!!!” Tolakku. Yang benar saja! Memegang pinggangnya? Gila!

“Kau bisa jatuh Hye Hwa.”

“Tapi tidak dengan memegang pinggangmu, aku bisa memegang bajumu atau yang lainnya yang bisa kupegang,” Aku berhenti, baru saja sesuatu terlintas di otakku. “Jung Kook, memangnya kau tahu aku mau kemana?”

“Ke kampusmu tentu saja.”

“Memangnya kau tahu kampusku?” Tanyaku retoris.

Kulihat dia mengangguk. “Dongguk Unversity, koreksi aku kalau aku salah.”

Aku memblakakan mataku tak percaya, seingatku aku belum pernah memberi tahunya dimana aku berkuliah. Lagipula kami juga terhitung jarang membicarakan hal-hal pribadi. Siapa juga yang ingin membicarakan hal-hal pribadi dengannya?

Tanpa di prekdisi lagi tiba-tiba saja dia menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi.

“JUNG KOOK MATI KAU SIALAN!”

~~~~ My New Bad Neighbor ~~~~

Entah kenapa di kepalaku kini muncul berbagai macam kalimat makian kepada Jung Kook si bocah tengik sialan itu. Awas saja jika aku bertemunya lagi. Aku benar-benar bersumpah ingin menjadikannya Kimchi.

Saat ini aku sedang berada di taman kampusku. Aku sudah menyerahkan paperku kepada Dosen Shin. Kelas sudah berakhir sejak 15 menit yang lalu. Dan aku tidak tahu harus melakukan apalagi selain mencabuti rerumputan liar yang berada di samping kakikku. Mungkin itu adalah akibat dari kekesalanku terhadap Jung Kook. Ya, mungkin saja.

Ku lihat dari kejauhan seseorang yang selama kurang lebih 4 semester aku berkuliah di Dongguk University –orang yang selalu menghantui mimpiku, berjalan bersama kedua orang yang selalu menemaninya. Dia itu penuh dengan karisma, tidak dengan kedua temannya tentu saja.

Earphone yang terpasang di kedua telinganya di tambah dengan bibirnya yang mengikuti alunan lagu yang di dengarnya. Rambutnya berterbangan oleh angin yang berhembus, ia memasukan kedua tangannya kedalam saku. Seperti adegan yang ada di anime-anime yang sering ku tonton. Beruntungnya aku bisa melihatnya dalam dunia nyata.

Kulihat kesekelilingku, banyak gadis-gadis lain yang menatapnya penuh kagum. Sama sepertiku. Itu artinya aku adalah bagian dari mereka yang mungkin tidak akan pernah dilirik olehnya. Namnya Kim Seok Jin, Mahasiswa jurusan seni musik yang sangat terkenal tampan, mahasiswa yang berada di tingkat 5 di Dongguk university. Dia seniorku disini, walaupun jurusan kita berbeda, aku akan selalu berkesempatan melihatnya di saat-saat seperti ini. Di taman kampus.

Biasanya Jin selalu duduk di pohon Oak yang berada di ujung taman ini bersama kedua temannya –Yoon Gi dan Tae Hyung. Aku selalu menganggumi ketampanan Jin, selain itu juga dia adalah pria yang sangat baik dan ramah kepada semua orang. Tentu saja dia tidak mempunyai sifat usil dan sering mengganggu seperti Jung Kook. Eh, untuk apa aku membandingkannya dengan Jung Kook? Mereka sangat tidak sebanding.

“Tutup mulutmu itu kalau kau tidak mau jika tiba-tiba saja lalat masuk.” Aku terkejut saat tiba-tiba saja ada orang yang duduk di sebelahku. Dia Yoon Hye, sahabatku.

“Ya tuhan, bisa tidak sih kau tidak mengejutkanku seperti itu?” Aku menggerutu tidak terima.

“Tapi aku serius Hye Hwa, tadi mulutmu menganga seperti orang idiot.” Cibirnya.

“Apa katamu sajalah.” Aku memilih untuk mengabaikan Yoon Hye.

Aku mencari keberadaan Jin karena insiden kecil tadi. Tapi, aku tidak menemukannya dimanapun. Secepat itukah Jin menghilang? Tiba-tiba saja aku merasa kecewa karena tidak bisa melihat Jin lagi.

“Hey ada apa?” Yoon Hye bertanya kepadaku.

Aku menggeleng, tidak mungkin aku memberi tahu Yoon Hye jika aku kecewa karena tidak melihat Jin lagi. Aku terlalu malu untuk memberitahu Yoon Hye jika aku suka kepada Jin.

“Baiklah. Eum ngomong-ngomong siapa pria yang tadi mengantarmu Hye Hwa? Aku tidak pernah melihatnya, kau menyembunyikan sesuatu dariku Hye Hwa, dia pacar barumu?” Aku memelototkan mataku tidak percaya dengan apa yang baru saja Yoon Hye katakan.

Jung Kook pacar baruku? Yang benar saja!

Aku mengibaskan tanganku di depan wajahnya. “Tidak tidak, itu tidak mungkin! Ya tuhan, yang benar saja.” Aku menghela nafasku frustasi.

“Hey kau tidak perlu berlebihan seperti itu Hye Hwa, lagipula kulihat dia oke. Siapa namanya?”

“Dia Jung Kook, tetangga baruku.”

Kulihat dia mengangguk dengan jawabanku. “Sepertinya kulihat kau tidak menyukai si Jung Kook itu, kenapa? Apa ada yang salah?”

Aku menatap Yoon Hye datar, buat apa dia terus menanyaiku tentang Jung Kook? Aku tidak sedang dalam mood yang bagus untuk membicarakan Jung Kook.

“Jangan terus bertanya kepadaku tentangnya Hye-ya. Aku sangat tidak suka dengannya, jujur saja.”

“Ya… tapi kenapa. Kau jelaskan padaku dulu alasanmu itu.”

Aku mengehela nafasku lalu beralih menatap wajah Yoon Hye.

“Jadi…..”

~~~~My New Bad Neighbor~~~~

 

Sesampainya di kamarku, aku membantingkan tubuhku ke kasur empukku. Moodku benar-benar buruk saat ini. Saat aku selesai menceritakan semuanya ke Yoon Hye, dia hanya tertawa tanpa ada alasan yang jelas. Sebenarnya dimana bagian lucunya?

Setelah kupastikan Yoon Hye tidak akan berhenti tertawa, aku memutuskan untuk pulang daripada harus membuang waktuku bersamanya. Aku pastikan wajahku saat ini sangat kusut.

Aku mengusap wajahku lalu bangkit dari kasur menuju dapur. Aku memutuskan untuk membuat kopi agar pikiranku tidak suntuk. Bukan alat pembuat kopi yang kugunakan untuk membuat kopi, aku hanya membuat kopi instan.

Aku menyesap kopiku perlahan lalu segera menuju ruang tv. Drama kesayanganku akan tayang sebentar lagi. Baru saja aku mendudukan diriku di atas sofa, aku mendengar ada ketukan di pintu apartemenku. Menaikan alisku, aku bingung siapa sore-sore begini yang mengetuk pintu apartemenku. Seingatku aku tidak mempunyai janji dengan siapapun.

Aku bergegas berjalan menuju pintu apartemen lalu membukakannya.

“Ya!!! Jung Kook apa yang kau lakukan disana dengan penampilan seperti itu.” Aku menutup mataku dari hal yang tidak senonoh yang sedang Jung Kook perlihatkan padaku. Dia hanya memakai handuk sebatas pinggangnya! Ini merupakan kedua kalinya aku melihat dia seperti itu.

“Hye Hwa, bolehkah aku meminjam kamar mandimu? Air di dalam kamar mandiku mati.” Dengan polosnya dia berkata seperti itu.

“K-kau b-bawa baju tidak?” Aku hanya ingin memastikan dia membawanya karena aku tidak ingin melihat dia keluar dari kamar mandiku dengan keadaan sama seperti ini.

Kulihat dari celah jariku dia mengangguk.

“Y-yasudah, kamar mandinya ada disana.” Aku menunjuk kamar mandiku yang berada di sebelah dapur.

Dia segera berjalan menuju arah yang kutunjukan. Aku masih menutup mataku dan hanya melihatnya dari celah jariku. Aku menghela nafas saat kudengar bunyi pintu tertutup.

Tetangga baru itu…. selalu menyusahkanku. Aku menggeleng tidak percaya. Kenapa sih kakek Jung menerimanya disini?

Aku kembali menuju sofa dan terkejut karena drama yang aku tunggu sudah tayang sedari tadi. Ugh, kurasa aku melewatkan banyak adegan.

Mood-ku kembali menurun akibat tetangga baru sialan itu. Aku mengerucutkan bibirku sambil bersedekap. Kalau saja Jung Kook bukan tetangga barunya, mungkin aku tidak akan seperti ini. Dia sudah merusak kehidupan tenangku, merusak mood-ku, kini dia juga mengangguku menonton drama. Apa sih maunya?

Aku menyesap kopiku, mungkin dengan meminum kopi emosiku akan turun.

Aku memelototkan mataku saat melihat Jun Kook keluar hanya dengan celana pendek, tanpa mengenakan baju! Dia bilang kalau dia membawa baju kan? Lalu kenapa dia hanya mengenakan celana pendeknya saja? aku mencebikan bibirku.

“Hye Hwa terima kasih kau sudah berbaik hati padaku.” Kulihat dia tersenyum sambil menyampirkan handuk di pundaknya. Aku hanya mengangguk sekilas tanpa berniat membalas ucapannya.

‘Kau tahu? tadi aku sedang membilas tubuhku lalu tiba-tiba saja airnya mati,” dia menyengir. “Terimakasih sekali lagi Hye Hwa, sebaiknya aku pergi sekarang.” Aku tidak mengalihkan tatapanku dari televisi.

Ya seharusnya kau memang cepat-cepat pergi, sialan. Batinku bersuara.

Aku menutup mataku, lalu akupun terlarut sampai jatuh tertidur.

~~~~

Aku merenggangkan ototku, tertidur di atas sofa adalah pilihan yang buruk. Otot-otot badanku semuanya menegang. Aku bergegas berjalan ke arah kamar mandi, ini sudah jam 8 malam dan aku belum mandi sama sekali. Saat aku membuka pintu kamar mandi, bau maskulin menguar. Bukankah tadi sore aku meminjamkannya pada Jung Kook? Karena air di kamar mandinya mati. Cish.

Setelah aku mandi dan mengeringkan rambutku, aku melihat sebotol sabun yang asing bertengger di atas bak kamar mandiku. Kenapa aku tidak menyadarinya dari tadi? Dan aku teringat Jung Kook. Mungkin ini miliknya? Apa aku harus mengembalikannya? Berarti aku harus berkunjung ke apartemennya. Yasudah, tidak ada pilihan lain kalau aku tidak ingin berurusan lagi dengannya.

Aku bergegas menuju kamarku untuk berpakaian, setelah selesai aku kembali ke kamar mandiku lalu mengambil botol sabun milik Jung Kook dan berniat untuk mengembalikannya sekarang juga.

Saat aku sudah berada di depan pintu apartemen Jung Kook, aku sedikit ragu untuk mengetuknya. Haruskah aku kesana? Tapi aku hanya harus mengembalikan botol sabun ini kan?

Aku melihat botol sabun yang berada di genggamanku, lalu di bayanganku terlintas wajah Jung Kook yang tersenyum lebar seperti biasanya. Aku menggelengkan kepalaku.

Menghela nafasku dan dengan penuh keberanian, aku mengetuk pintu apartemen Jung Kook. Ketukan pertama tidak ada sahutan, lalu aku mencoba mengetuk lagi, masih tidak ada sahutan. Baiklah, kalau pada ketukan ketiga masih tidak ada sahutan, aku akan kembali lagi ke apartemenku. Putusku bijak.

Saat aku ingin mengetuk lagi, tiba-tiba saja pintu apartemen terbuka. Saat pintu itu terbuka semakin lebar dan memperlihatkan siapa pembuka pintu itu. Aku terkejut –sangat tekejut!

“Maaf, kami sedang mengerjakan sesuatu tadi.” Orang itu mengamatiku dari atas hingga bawah, menaikan alisnya heran karena mungkin saja dia melihat tampang idiotku yang sedang menggenggam sebotol sabun pria.

“Ada perlu apa kalau boleh tahu?” lanjutnya.

“Aku…emmm anu..” aku tidak tahu harus bersikap bagaimana saat ini. Ini benar-benar kejadian yang luar biasa.

“Aku… ingin….”

“Hey Jin siapa yang datang?” Kudengar sebuah suara dari arah dalam apartemen. Itu suara Jung Kook.

“Aku tidak tahu.” Sahut Jin. Aku melihat Jung Kook di belakang tubuh Jin, dia sedikit terkejut saat melihatku. “Oh, Hye Hwa!” Serunya.

Kulihat dia menghampiriku dan Jin. Memasang senyum di wajahku aku sangat bersyukur Jung Kook datang, kalau tidak mungkin aku sudah mati gaya di hadapan Jin.

“Hey Jung Kook!” Panggilku.

“Ada apa Hye Hwa? Tumben sekali kau berkunjung ke apartemenku?” Jung Kook bertanya sambil tersenyum kearahku, seperti biasanya.

“Ini.” Aku menyodorkan botol sabun itu ke arah Jung Kook.

“Oh ya, aku lupa mengambilnya. Terima kasih Hye Hwa.”

Aku mengangguk, Jin masih memperhatikanku. Sebaiknya aku segera pergi dari sini.

“Baiklah, aku akan masuk lagi ke apartemenku.” Aku membungkuk sekilas lalu segera lari menuju apartemenku. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Jin ada di apartemen Jung Kook! Disana ada Jin! Aku terus tersenyum seperti orang idiot.

Mungkin kali ini aku harus berterima kasih sebanyak mungkin kepada Jung Kook.

 

TBC

Advertisements

12 responses to “My New Bad Neighbor [Chapter 1]

  1. Jungkooknya jadi baik banget masa ><
    Ah, ditunggu next chapter^^

  2. Jungkook selalu baik xD

  3. Pingback: My New Bad Neighbor [Chapter 2] | SHYNIM

  4. Halooo ^^d
    sebenarnya ide ceritanya lumayan umum ya, tetanggan terus berantem. Tapi ceritanya lucu kok 🙂
    Bahasa kamu sudah asik, tapi sepertinya deskripsinya harus disederhanakan lagi ya. Atau, dipenggal dengan tanda koma (,) biar yang membaca jauh lebih enak. Tanda elipsisnya (…) juga diperbaiki ya ^^d
    Dan di atas saya juga sempat menemukan sedikit typo.
    Kata ‘berfikir’ seharusnya ‘berpikir’. Selebihnya sudah bagus, sudah rapi, sudah cukup mumpuni untuk sebuah fiksi. Tapi alangkah enaknya lagi kalau sudut pandang orang pertama pelaku utama ini dibumbui sedikit unsur universal supaya pembaca tidak hanya memihak ke karakter Hye Hwa. ^^d
    oke, semangat ya menulisnya.

    JY19

  5. Wah terimakasih loh kritik dan sarannya, sangat membantu 🙂 Akan aku tingkatkan lagi untuk kedepannya, karena aku termasuk baru dalam dunia tulis-menulis xD

    Terimakasih ya^^

  6. sama-sama 🙂
    tapi kalau kamu mau pakai model pov untuk pelaku utama, lebih baik kamu coba baca novel translate.
    Perbendaharaan katanya lebih oke, tau kamu bisa langsung baca yang versi Inggrisnya.
    Kalau untuk tanda baca, memang memisahkan anak kalimat dan induk kalimat harus tanda koma (,) ya ^^
    Itu biar memudahkan pembaca.
    Dan saran saya, kalau mau buat sudut pandang pelaku utama seperti ini, kamu baca novelnya Sophie Kinsella 😀 itu gaya bahasanya oke punya.
    oke, kapan-kapan mampir ke blog saya ya ^^ hehehe

    semangat terus menulisnya.

  7. Ah iya saya beberapa kali baca novel translate, tapi nyatanya saya lebih banyak baca novel-novel misteri angkatannya agatha christie ketimbang novel anak muda. Oke terimakasih sarannya sekali lagi^^
    Wah dulu saya sering mampir ke blogmu, tapi sekarang udah jarang karena sering lupa mau buka blog apa lagi xD

  8. WOAAAH! Samaan dong!
    Saya juga suka karyanya tante Agatha. Tapi belakangan ini saya masih re-read Harry Potter edisi terakhir.
    Saya juga mulai cari referensi untuk fiksi fantasi sih :3
    Tapi cerita yang sedikit berbau dongeng saya juga suka. Hehehehe, hitung-hitung genre baru.

  9. Jamin deh, nggak ada yang gak suka novelnya agatha xD Oh fiksi fantasi saya nggak terlalu suka, lebih suka misteri sama pembunuhan lol xD

  10. Kalau saya pribadi belum cukup kuat sih ngebacain yang bunuh-bunuhan. Tapi saya memang suka genre fantasi. Gimana sih, asik aja gitu. Dan kita pun dibuat berpikir lebih banyak. Oh iya, saya juga lagi suka baca fiksi historikal :3 dan sedang menggarapnya juga sih

  11. Ngebayangin hal-hal diluar nalar gitu eung… seru juga sih. Wah di tunggu loh karya terbarunya, jangan lupa juga lanjutin My pervert husband xD ah ada satu ff-mu yang judulnya saya lupa, kayaknya belum ada lanjutannya. Okeoke semangat menulisnya!^^

  12. Kalau fiksi itu sudah tidak saya lanjutkan lagi

Suka? Isi kolom di bawah ini ya^^ thanks~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s