My New Bad Neighbor [PROLOG]

Aku suka kesunyian

Tanpa ada orang yang mengganggu

Sendiri di dalam kamar

Tapi… Semuanya sudah berubah

Tidak ada lagi kesunyian

Tidak ada lagi ketenangan

Sejak dia datang….

~~~~

Apa perasaanmu saat ada tetangga baru yang sangat sombong, usil dan­­­- mesum?

Aku sudah terbiasa hidup sendiri di apartemenku tanpa ada peganggu, pembuat onar ataupun pembuat bising. Itu sangat membantuku untuk menyelesaikan tugas kuliah yang sangat menumpuk. Aku suka kesunyian –sunyi membuatku tenang.

Tapi beberapa hari ini, perasaanku sangat kacau balau saat ada penghuni kamar baru di sebelah kamarku. Bayangkan saja, pagi-pagi buta aku terkejut saat ada suara yang sangat memekakan telinga –yang berasal dari kamar sebelah. Saat itu masih jam dua dini hari. Aku mendengar perpaduan suara bising yang berasal dari musik dan suara teriakan seorang pria yang mecoba mengikuti irama musik itu. Suaranya benar-benar buruk! Aku tekankan lagi, BURUK!

Aku mencoba untuk bersabar, menenggelamkan kepalaku kedalam bantal. Tapi tetap saja tidak membantu sama sekali, suara itu tetap terdengar bagaikan panggilan kematian. Selera musiknya buruk, suaranya juga buru—Eh? apakah aku sudah berkata itu sebelumnya?

Belum lagi 2 hari yang lalu saat aku baru saja pulang dari kampus. Jantungku hampir copot saat tiba-tiba ada dobrakan pintu –saat aku sedang memasukan kunci pintu kamar apartemenku. Dia –pria itu basah, maksudku dia basah karena air, dan dia hanya menggunakan handuk yang melilit sebatas pinggangnya. Dia pikir dia seksi? Ugh aku sangat ingin menonjok wajahnya itu. Ngomong-ngomong aku belum pernah melihat wajahnya. Tidak terlalu buruk.

Tapi, yah! Apa yang kau pikirkan? Dia yang sudah merusak hari-harimu. Pikiranku mulai menyadarkanku kembali.

“Hai!” sapa pria itu dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. Ugh dia sangat manis sekali. Ya! Sadarlah dia itu pengacau. Aku menggelengkan kepalaku. Pikiranku mulai kacau. Sial.

Tanpa basa-basi terlebih dahulu aku langsung membuka pintu apartemenku. Tidak ada waktu untuk berbincang dengan pria sinting itu. Pengacau! Berani sekali dia menganggu kehidupan tentramku ini? Huh awas saja kalau sekali lagi dia seperti itu, akan ku buat dia menjadi kimchi!

kembali ke realita. Sekarang aku sedang berada di dalam kamarku, mengetuk-ngetukkan bolpoin ke daguku. Oh aku sedang berpikir. Bagaimana caranya agar tugas-tugasku ini selesai hanya dalam 1 minggu? Mungkin tidak, sih?

Aku dengar dari tetanggaku yang berada di lantai bawah kalau penghuni baru itu sebenarnya sangat pintar, penerima beasiswa dan berkuliah di Dongguk University –Eh kenapa aku tahu banyak soal dia? Tidak tidak aku hanya mendengar saja dari beberapa tetangga, bukannya ingin tahu.

Ngomong-ngomong apartemen yang aku tinggali ini bukanlah apartemen bonafid dan berkelas. Bahkan menurutkku ini tidak pantas disebut apartemen. Terlalu bobrok untuk disebut apartemen. Tapi aku tidak sampai pikir dua kali untuk menolaknya, harga kamar apartemen ini sangat rendah. Maklum saja, aku adalah mahasiswa perantauan dari Busan. Uang sakuku perbulan tidak cukup untuk menyewa apartemen dengan harga yang tinggi. Makan saja sudah susah –apalagi menyewa apartemen kelas atas.

Baiklah, berhenti meratapi nasibmu, saatnya kerjakan tugas kuliahmu, jangan memikirkan yang lain-lain, jangan malas atau beasiswamu akan di cabut. Aku meringis membayangkan jika benar saja beasiswaku akan dicabut. Tarik nafas-buang nafas-tarik… baiklah semangat Kim!

~~~~My New Bad Neighbor~~~~

“Hye Hwaaaaaaaaaa-ssi!!!!!!!!!!!”

“Tolong akuuuuuu.”

“Oh aku akan mati kalau begini.”

“Tidak oh tidak!!!”

Aku mengepalkan tanganku, kurasa mataku sudah mulai mengeluarkan percikan api. Oh tidak! Aku baru saja akan mengerjakan tugasku! Tuhan oh tuhan kemana hidup tenangku?

Aku berjalan kea rah pintu apartemenku, membukanya dengan sekali hentakan. Memasang wajah se-horror mungkin. Kulihat pria yang-katanya-pintar itu sedang menggaruk-garuk lantai koridor apartemen. Aku tidak bercanda, dia memang sedang menggaruk lantai itu. Menaikan kedua alisku aku bingung, tentu saja. Kemana suaranya yang memekakan telinga seperti wanita itu?

“Ada apa?” Sahutku datar. Dia menengokan kepalanya ke arahku, tersenyum tanpa dosa. Memperlihatkan wajah yang-sok-imut-tapi-memang-imut itu kepadaku. Dia berdiri, berjalan ke arahku. “Hye hwa-ssi, eum… bisakah aku meminta bantuan?”

Aku memutar bola mataku. Bisa tidak sih dia meminta bantuan dengan cara yang lebih normal? Mengentuk pintu, misalnya. Dia masih seorang manusia, kan? Oh aku ingat ada pepatah yang mengatakan kalau orang pintar mempunyai sisi yang aneh. Termasuk dia.

“Apa?”

Dia tersenyum, memperlihatkan wajahnya yang imut itu –yang sangat tidak pantas disebut sebagai seorang pria. “Bisakah.. kau… memasakan makanan untukku?”

Aku menganga. Sinting. Benar-benar sinting kurasa. Dia berteriak hanya untuk meminta bantuan itu kepadaku?

“Tolonglah Hye Hwa aku belum makan dari pagi dan sekarang sudah pukul 9 malam, persediaan makananku habis. Oh dan jangan tanya kenapa aku tidak membelinya keluar karena aku tidak kuat untuk berjalan keluar.” Jelasnya –panjang dan lebar.

Aku menatap wajahnya yang sangat memelas meminta belas kasihan kepadaku. Aku orang baik, aku tidak bias menolaknya. Karena aku orang baik. “Baiklah, masuk. Kebetulan aku juga belum makan, akan kubuatkan makanan.”

Dia tersenyum lagi, kali ini lebih lebar.

Memegang kedua tanganku lalu dia membungkuk hormat. “Terimakasih Hye Hwa-ssi aku tahu kau orang baik.” Lalu Jungkook masuk kedalam apartemenku.

Oh apakah aku sudah menyebutkan namanya? Ya namanya Jungkook. Jeon Jungkook.

~~~My New Neighbor~~~

Aku sedang mengamati paperku yang akan kuserahkan ke dosen nanti, mengeceknya lagi, takut-takut ada kesalahan. Sempurna, aku harap paperku tidak ditolak. Tetapi, aku cukup percaya diri karena paperku belum pernah ditolak oleh dosen manapun. Menyesap expresso-ku perlahan, aku sudah tenang karena tinggal tersisa beberapa lagi tugas yang harus ku selesaikan.

“Hye Hwa!! Kita bertemu disini!” Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku kencang, aku tersedak karena memang tepukannya itu sangat kencang sekali. “Ya! Bisa tidak sih sopan sedikit? Tidak lihat aku sedang minum???” Mengambil tissue lalu mengelap kemejaku yang terkena sedikit tumpahan dari kopi yang ku minum.

Orang itu duduk di sebrang tempat dudukku. “Maaf, Hye Hwa. Kenapa sih kau selalu saja marah kalau bertemu denganku?” Dia mencebikan bibirnya.

“Aku tidak akan marah andai saja kau bersikap normal setiap bertemu denganku bodoh.” Sungutku tak terima. Aku benar kan? Mana ada orang yang akan diam saja kalau dia berkelakuan seperti itu?

“Aku hanya ingin mengejutkanmu.”

“Well, yah aku terkejut dan jantungku hampir copot.”

“Aku kan sudah meminta maaf.”

“Tapi kemejaku jadi basah, kau lihat?” Aku menunjukan kemeja biruku yang mencoklat akibat tumpahan kopi.

“Baiklah baiklah. Mau aku bantu mengelapnya?”

Aku memelototkan mataku. Yang benar saja. Tumpahannya terdapat di area dadaku. Mengizinkan dia mengelapnya sama saja mengizinkannya untuk ‘memegangnya’.

“Tidak tidak.” Aku mengibaskan tangannku di depan wajahnya. “Terimakasih, tapi aku bisa sendiri.”

Dia mengangkat bahunya. “Yasudah… Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan disini?” tanyanya sambil meminum kopiku. Aku memelotot, berani-beraninya dia meminumnya.

“Jung Kook, aku ingin sendiri, oke? Jadi, tolong tinggalkan aku sekarang.” Aku memohon. Aku benar kalau aku tidak ingin di ganggu oleh siapapun, terutama manusia ini. Kenapa juga dia tiba-tiba bisa ada disini? Menyebalkan.

“Tapi aku baru saja datang Kim Hye Hwa!” dia memprotes tidak terima.

“Kalau begitu cari saja tempat lain, disana masih ada tempat kosong.” Aku menunjuk sofa di pojokan ruangan café ini.

“Tapi aku suka disini! Disana tidak bisa melihat apapun kecuali waitress yang berjalan kesana kemari.”

“Yasudah, cari saja café lain.”

“Tidak.”

“Kau harus.”

“Tidak mau.”

“Iya.”

“Tidak”

“Oke aku yang akan tinggalkan café ini kalau begitu.” Aku beranjak dari tempat dudukku, membereskan barang-barangku lalu berjalan kea rah pintu keluar.

“Tunggu! Hye Hwa! Ya!”

Aku mempercepat jalanku, tidak mau berurusan lagi dengannya, tidak, aku tidak mau.

“Hyw Hwa!!!!”

Kini aku sudah berada di luar café, masih bisa kudengar suara Jung Kook memanggilku. Tapi aku tidak mau berhenti. Cukup! Berurusan dengannya sangat menguras tenaga dan pikiranku.

Aku menyebrangi jalan. Mencoba untuk mencapai halte bus yang sudah terlihat di depan mata. Ya tinggal beberapa langkah lagi.. sebentar lagi…

Tapi… aku sudah tidak mendengar suara Jung Kook lagi. Kemana pria imut itu?

Takut-takut aku menengokan kepalaku kebelakang, mengecek keberadaan Jung Kook.

Aku menghembuskan nafasku lega saat tidak menemukan keberadaannya di belakangku. Syukurlah. Dengan memasang senyum manisku, aku mencoba merilekskan diriku. Aku baru tersadar kalau sedari tadi tubuhku menegang. Pengaruh Jung Kook sangat besar untuk membuat moodku memburuk.

Membalikan badanku, aku mendapati Jung Kook tengah bertengger di atas motornya dengan senyum mengembang. Aku hanya bisa.. menganga tidak percaya.

“Hai Hye Hwa!”

Advertisements

4 responses to “My New Bad Neighbor [PROLOG]

  1. Baru prolog aja keren banget xD Jungkook iseng nih ya-__-
    Annyeong reader baru ^^ Salam kenal~

  2. Hehe.. terimakasih ya^^
    salam kenal juga 🙂

  3. Pingback: My New Bad Neighbor [Chapter 2] | SHYNIM

Suka? Isi kolom di bawah ini ya^^ thanks~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s