Kepingan Masa Lalu (EDITED)

Tittle : Kepingan Masa Lalu

Author : LittleSparks

Cast : – Lee Taemin (SHINee)

– Shin TaeRin (OC)

Other Cast : – Park Jimin (OC)

– Kim Kibum/Key (SHINee)

Genre : Sad Romance

Rating : PG-17

Disclaimer : Tulisan ini 100% berasala dari pikiran saya, jadi mohon untuk tidak memplagiatnya.

~~~~~~ 

Ia terduduk di tepi ranjang, wajahnya muram dan matanya sembab. Semalaman ia menangisi seseorang yang telah dengan tega meninggalkannya. Entah ini sudah keberapa kalinya ia memandangi potretan dua anak manusia di dalamnya. Didalam foto itu keduanya mengukir senyuman manis sambil berpose ceria menghadap kamera.

Ia mendongakkan wajahnya, menahan air matanya untuk jatuh kembali. Ia menangis lagi. Temannya yang sudah lelah menasihatinya hanya bisa melihat nanar ke arah gadis itu. Pasalnya sudah berkali-kali dia bilang bahwa hidup ini tidak selalu mulus, tapi percayalah bahwa hidup ini pasti ada akhirnya. Gadis itu tidak pernah mendengarkan, pikirannya terlalu kusut untuk mencerna, hatinya tertutup oleh kabut hitam yang pekat.

Seharusnya hari ini ia berangkat kuliah, tapi ia tidak ingin menanggung resiko untuk bertemu dengan ‘orang’ itu. ia terlalu takut, takut untuk melihat wajahnya dan takut bila tiba-tiba air matanya menetes kembali.

Mungkin mengurung diri didalam kamar adalah jalan terbaik. Selain, ia tidak perlu menanggung resiko untuk bertemu dengan ‘dia’ ia juga tidak perlu repot-repot menutup wajahnya yang seperti mayat hidup.

Gadis itu perlahan menghapus cairan bening yang kembali mengalir di pipinya, ia bangkit berdiri untuk mengambil tissue-tissue kotor yang berserakan di lantai kamarnya. Ya, semalam ia menghabiskan persedian tissuenya hanya untuk menghapus buliran-buliran bening dari pipinya.

~~~~

“Kamu mau berangkat ke kampus tidak?” tanya temannya ketika gadis itu keluar dari kamar mandi.

Gadis itu diam sebentar, memandang temannya dengan pandangan kosong –lalu  dia menggeleng “eenngg sepertinya tidak dulu, bilang aja kalau aku lagi sakit” ujarnya –lalu langsung masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu.

Temannya hanya bisa menghembuskan nafas dan menggeleng.

Memang temannya yang satu itu sangat susah untuk dibilangi, bahkan mungkin kepalanya terbuat dari batu sehingga susah untuk dipecahkan.

~~~

15.00 WIB

Suara musik terdengar sangat kencang dari luar rumah itu, bahkan dari jarak 20 M sekalipun. Manusia didalamnya tidak peduli dengan orang-orang yang berteriak dari luar agar ia mengecilkan suara musik itu. Musik bergenre rock-metalic yang bahkan ia baru mendengarkannya sekarang. Ia menemukan setumpukan kaset itu didalam rak milik temannya –tanpa pikir panjang lagi ia langsung menyalakannya dengan volume paling keras.

“Ada apa sih ini?” tiba-tiba terdengar suara temannya yang berteriak.

Gadis itu mendongak untuk melihat wajah temannya itu.

“yang kamu lihat?” jawabnya.

“kamu tau tidak Rin? Tadi diluar banyak yang protes ke aku gara-gara kamu nyalain musiknya terlalu keras” protes temannya itu

TaeRin  nama gadis itu, menghelakan nafasnya frustasi.

“apa urusannya sama mereka? Aku menyalakan musik juga tidak merugikan mereka kan?” kekeh TaeRin.

Jimin –nama temannya- itu mengepalkan tangannya karena menahan amarah yang mulai memuncak.

“terserah kamu lah Rin, aku lelah nasihatin kamu. Urus saja diri kamu sendiri dan kalau perlu kamu itu intropeksi diri, apa salah kamu sama Taemin sampai-sampai dia mutusin kamu” bentak Jimin, ia pun langsung keluar dari kamar Tae Rin sambil membanting pintu.

DEG

Ia mendengar nama itu lagi, nama yang paling ia tidak ingin dengar.

TaeRin menenggelamkan wajahnya ke bantal, ia frustasi. Sungguh, putus dari orang yang sudah 3 tahun menemanimu itu sulit.

Ketergantungan akan dirinya itu sulit, dan sekarang kamu harus menerima kenyataan bahwa dia tidak lagi bersamamu. Rasanya perih.

Dan bahkan ia juga tidak tahu apa salahnya kepada ‘orang’ itu, ia sudah memikirnya semenjak putus dari ‘orang itu’. apa salahnya? Padahal mereka jarang sekali terlibat pertengkaran yang serius. Paling-paling bertengkar karena meributkan masalah kecil seperti ‘kenapa kamu nungguin aku? Kan aku udah bilang aku ada jam tambahan 2 jam sedangkan kamu udah keluar dari 3 jam yang lalu’ atau ‘jangan minum kopi lagi, lambung kamu kan gak kuat, jangan dipaksa’ sehabis itu muncul berbagai argumen yang membuat mereka beradu mulut, tapi setelahnya mereka akan tertawa karena itu adalah hal yang konyol.

Dan kejadian itu terjadi kemarin, saat TaeRin sedang menunggu Taemin di sebuah taman yang sudah biasa mereka singgahi untuk sekedar melepas stress akibat tumpukan tugas yang menggunung.

Vino berjalan ke arah TaeRin yang sedang tertidur di atas bangku taman, tangganya menumpu kepalanya agar tidak terjatuh. Taemin tersenyum, lalu ia segera menghampiri TaeRin dan menepuk bahunya pelan.

TaeRin terbangun, kaget.

Ia mendongakan kepalanya, di hadapannya sudah ada TaeMin yang tersenyum dengan sangat manis. TaeRin pun tersenyum.

“hey” sapa TaeRin “ayo sini duduk, kenapa kamu beridiri di situ terus?” TaeRin menepukan tempat kosong disamping-nya.

Taemin pun duduk. Kesekian menit berikutnya mereka hanya terdiam, tenggelam di pikiran masing-masing. Taemin meresakan dadanya seperti di tusuk-tusuk saat memikirkan kejadian yang mungkin saja akan di sesalinya.

“sore ini indah kan? Langitnya berwarna oranye” ujar TaeRin sambil terus mendongakan kepalanya ke atas.

Taemin menghela napasnya, ia tidak bisa menengokan kepalanya untuk melihat Taerin.

Taemin hanya menarik bibirnya, ia akan merindukan suasana seperti ini.

“ekhm” deham Taemin.

“ada apa?” tanya TaeRin. “oh iya, kamu mau bicara apa?” lanjutnya.

Taemin masih belum siap, tapi mau tidak mau dia harus siap.

“aku…..” Taemin bersuara.

TaeRin menunggu, jantungnya berdetak seratus kali lebih cepat dari biasanya. Perasaannya tidak enak.

“aku…aku mau kita putus Rin. Maaf, aku rasa memang kita sudah nggak bisa di satukan lagi”

Bagaikan dihantam oleh batu yang begitu besar dan disiram oleh air yang panas, hati TaeRin begitu sakit dan terbakar.

Ia bisu, ia tidak bisa bersuara sama sekali. Mulutnya terkatup rapat, matanya memanas.

Taemin mendongakan kepalanya, ia rasa semuanya sudah cukup, ia tidak ingin menyakiti TaeRin lebih dalam lagi. Urusannya sudah selesai dan ia harus pergi sekarang juga. Tanpa melihat kearah TaeRin, dia bangkit dan melangkahkan kakinya menuju mobil yang tidak jauh terparkir dari taman itu.

Sementara TaeRin masih shock. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi, ia tidak ingin menjadi egois, ia sudah memiliki prinsip nya sendiri dan sudah mengatakan kepada Taemin bahwa, kalau suata hari Taemin ingin putus darinya, ia tidak masalah jika itu baik untuk mereka dan TaeRin tidak akan mau untuk memutuskan hubungannya terhadap siapapun orang yang ia sayangi.

Perlahan-lahan terdengar suara isakan dari TaeRin, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Hatinya sakit seperti tercabik-cabik. Semuanya sudah berakhir.

~~~

Sudah 1 minggu berlalu semenjak kejadian itu. TaeRin sudah masuk kuliah, tapi raganya belum 100% pulih. Hari-harinya menjadi sangat datar, teman-temannya hanya bisa menatap nanar ke arahnya. Merasa kasihan melihat TaeRin berubah drastis dari sebelumnya.

Banyak yang menghiburnya agar bisa tertawa kembali, sudah berpuluh-puluh cara yang di lakukan teman-temannya untuk ‘membangunkan’ TaeRin dari hati gelapnya itu.

Tapi tetap saja, respon TaeRin sangat datar.

Suatu hari saat TaeRin sedang duduk di bangku taman kampus bersama teman-temannya, ia melihat Taemin tengah berjalan dengan menenteng buku di kedua tangannya. Taemin terlihat sangat sibuk. Pantas saja TaeRin jarang melihatnya di kampus. Jimin yang duduk tepat di samping TaeRin mengikuti arah pandang sahabatnya itu.

TaeMin.

“Rin, ke kantin yuk? Haus nih” pinta Jimin. TaeRin menengok ke arah Jimin dan langsung mengangguk lalu menarik tangan Jimin untuk cepat-cepat bangun.

TaeRin sangat senang saat Jimin berusaha mencoba mengalihkan pikirannya terhadap Tamin  yang –baru saja lewat.

~~~

Hari-hari selanjutnya TaeRin tidak pernah melihat Taemin lagi di kampus, sesibuk itukah Taemin? Kenapa ia tidak pernah di beritahu oleh Taemin?

Banyak pertanyaan muncul di benak TaeRin. Tapi, ia langsung menepis semua pertanyaan itu.

“untuk apa aku peduli? Dia saja tidak peduli denganku” hibur dirinya.

~~~

Hari terus berganti, tak terasa sudah 3 bulan semenjak ia putus dengan Taemin. Taerin sudah bisa menerima semuanya, wajahnya kembali cerah dam senyumannya hadir kembali setelah sekian lamanya menghilang.

Riri pun sudah tidak memikirkan Taemin lagi, pasalnya ada satu orang yang hadir di hidupnya. Jimin –temannya- mengenalkan dia kepada lelaki itu.

“hey, tebak ini siapa?” tiba-tiba ada orang dari arah belakang yang menutup matanya menggunakan kedua telapak tangan. Taerin sedang ada di rumah saat ini dan dia sedang memasak.

Taerin tersenyum, “bodoh” ucapnya.

“Apa? Bodoh?” –lelaki itu tiba-tiba melepaskan kedua telapak tangannya sambil protes.

Taerin berbalik sambil mendekapkan kedua tangannya di depan dada.

“iya, kamu itu bodoh” ejek TaeRin.

“awas ya kamu” Kibum –nama lelaki itu- langsung menyerang TaeRin dengan jari-jarinya. Ia menggelitiki TaeRin karena sudah berani mengatai dirinya bodoh. TaeRin hanya tertawa saja dengan kelakuan Kibum.

“awas ya, kamu tidak akan lolos dari aku hahaha” ancam Kibum sambil meniru suara tawaan  khas penyihir di negeri dongeng.

“hahaha Kibum please stop, geli tau” mohon Taerin yang wajahnya sudah memerah karena menahan geli.

Sementara itu Jimin –sahabat Taerin, hanya tersenyum melihat tingkah laku 2 orang manusia di hadapannya. Jimin senang Taerin bisa tertawa sekarang.

“ehem” deham Jimin.

Spontan Taerin dan Kibum langsung berhenti dengan dunia ke kanak-kanakannya itu.

mwoya?” tanya TaeRin.

Jimin tersenyum “Ada paket didepan” ujarnya.

“Paket apa?” tanya TaeRin penasaran sambil melangkah keluar dapur.

Jimin mengedikan bahunya “molla, tidak ada nama pengirimnya”

Taerin yang penasaran langsung merobek bungkusan itu dan membuka isinya.

“Rilakkuma!” teriak Taerin histeris.

Jimin dan Kibum mendekat dengan wajah penasaran.

“Ada nama pengirimnya tidak?” tanya Kibum sambil memeriksa isi paket itu.

“Eh ada suratnya” Lanjut Kibum sambil memberikan sepucuk surat berwarna coklat sama dengan warna boneka itu. Hanya tertulis insial ‘T’ di atasnya.

TaeRin menerimanya dengan rasa tidak karuan “inisialnya ‘T’” gumam Taerin nyaris tidak terdengar. Taerin menatap Jimin meberikan isyarat.

Jimin yang mengerti  langsung membawa Kibum keluar dari rumah dan mengajaknya untuk membeli ice cream di tempat langganan mereka.

“Sudah jangan banyak ngomong, kamu kan ada hutang beliin aku ice cream” Protes Jimin sambil menggeret Kibum keluar dari rumah, Kibum pasrah saja saat di tarik oleh Jimin.

Taerin membuka surat itu, dirinya sudah was-was. Apa yang di tulis oleh ‘T’  kepada dirinya? dan apa maksudnya semua ini?

Saat Taerin membuka surat itu, hatinya makin kalut. Tulisannya rapih ciri khas dari Taemin. Taerin mulai membaca.

Dear, Taerin

Hai Rin! Apa kabar sekarang? Kabar aku disini baik-baik aja kok hehe^^

Gimana bonekanya? Bagus kan? Aku beli itu 2 pasang sesuai permintaan kamu waktu itu yang mau boneka couple rilakkuma, kamu bilang dulu yang yeoja aku pegang dan yang namja kamu yang pegang kan? Hm tapi aku rasa, aku nggak bisa pegang J

Rin maafin aku ya, maaf….

Aku nggak ngasih kamu penjelasan waktu itu dan langsung ninggalin kamu begitu aja. Aku sama sekali tida bermaksud seperti itu Rin, kamu tau betul aku seperti apa?

Aku hanya tidak ingin melihat wajah kamu, aku takut aku tidak bisa, aku takut melihat wajah kamu yang shock karena ucapan aku. Kalau waktu itu aku melihat, mungkin aku masih sama kamu sekarang haha tapi kayaknya tidak juga

Kamu tau Rin? 2 bulan ini aku dapat pengalaman yang luar biasa nyusahinnya. Jaga kesehatan kamu ya Rin!

Rni, aku cuman mau pesan satu hal ke kamu

I will always you, although we’re not together again.

Walaupun kita udah tidak sama-sama lagi aku akan tetap simpan perasaan aku ke kamu di sudut hati aku, aku janji Rni.

You’re handsome ex-boyfriend

 

Taemin

Air mata Taerin mengalir dengan deras, hatinya sakit sekaligus perih membaca surat dari Taemin. TaeRin melihat boneka couple itu, ia tersenyum miris.

“Bahkan aku saja lupa sama boneka ini” gumamnya.

Tak lama terdengar suara mobil dari arah luar, TaeRin buru-buru menghapus air matanya. Ia tidak mau Jimin dan Kibum melihatnya sedang menangis, terlebih dengan Kibum.

Jimin masuk rumah dengan wajah yang sulit digambarkan, pandangannya tertuju ke arah Taerin yang sedang melihat surat coklat di genggamannya. Kibum menyusul di belakang Jimin, wajahnya pun sama dengan Jimin –tidak tergambarkan-.

Jimin mendekati Taerin lalu langsung mendekap Taerin dalam pelukannya, Kibum duduk di sofa sebrang mereka.

“loh ada apa ini?” tanya Taerin yang kaget dengan tingkah Jimin.

“kalian tidak jadi beli ice cream nya?” kali ini Taerin bertanya kepada Kibum. Kibum menggeleng lemah.

Jimin yang sedang mendekap Taerin perlahan membuka suaranya.

“Taemin Rin…” Ucap Jimin dengan suara bergetar.

Taerin merasakan aura yang tidak enak ketika mendengar nama itu.

“A…ada apa?”

Fina memegang kedua bahu Taerin erat “Janji ya kamu jangan nangis”

Taerin mengangguk ragu.

“Rni……  Taemin sudah dipanggil yang diatas seminggu yang lalu” Jelas Jimin.

“bercanda kamu, tau dari mana coba?”Taerin tertawa garing.

“Aku tidak bercanda Rin, aku serius… Tadi aku ketemu Minho, temannya Taemin. Dia menceritakan semuanya kepadaku..” Jimin langsung menjelaskan semuanya kepada Taerin, mulai dari penyebab Taemin meninggal sampai kenapa Taemin meminta putus kepada Taerin.

Taerin langsung terkulai lemas, pandangannya kosong –sama seperti 3 bulan lalu saat dia putus dari Taemin. Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Frustasi.

Kibum memandang Taerin dengan rasa kasihan, ia tahu bagaimana cerita cinta Taerin dengan Taemin –Jimin yang memberi tahu-nya tentang semua kejadian yang di alami Taemin dan Taerin. Ia khawatir terhadap Taerin, ia tidak mau melihat Taerin menangis terus karena Taemin. Cantik, ya itulah pemikiran Kibum ketika pertama bertemu dengan Taerin. 2 bulan ini mereka melalui hari-hari bersama, Kibum rasa Taerin sudah sepenuhnya melupakan Taemin, tapi yang dilihatnya sekarang sama sekali berbeda. Kenyatannya Taerin masih mengingat Taemin dan sekarang setelah Taerin mendengar penuturan Jimin, Taerin terlihat sama seperti sebelum Kibum bertemu dengan Taerin.

Tak lama terdengar suara isakan dari Taerin, ia menangis.

Taemin sudah pergi jauh, dan Taerin tidak akan mungkin bisa bertemu dengan Taemin lagi untuk sekedar meminta maaf karena Taerin sama sekali tidak tahu dengan penyakit Taemin. Coba saja Taerin tahu, pasti Taerin akan sangat menjaga Taemin dan mungkin mereka tidak akan pernah putus kalau memang Taerin sudah tahu permasalah Taemin. Pasalnya, alasan Taemin memutuskan Taerin 3 bulan yang lalu adalah karena Taein tidak mau menjadi beban untuk Taerin karena penyakitnya ini. Kanker otak.

~~~

Satu tahun lamanya aku hidup tanpa kamu. Kamu tau bagaimana awalnya aku hidup tanpa kamu? Aku rasa lebih baik aku mati daripada terus hidup tanpa kamu. Frustasi sekaligus sakit hati selalu saja merasuki pikiran dan hati aku. Aku benci saat aku mencoba mengingat betapa teganya kamu saat itu yang dengan enaknya mutusin aku. Padahal aku kira kita bakalan kencan, tapi memang itu hanya harapan aku saja. Nyatanya pertemuan kita di taman 1 tahun lalu adalah pertemuan kita yang terakhir sebelum kamu di panggil oleh tuhan.

Bagaimana surga? Nyaman tidak? Kalau nyaman tolong bawa aku juga kesana agar terus berada di samping kamu, menjaga kamu dan melindungi kamu. Maaf…

Maafkan aku Taemin, karena aku bodoh, aku tolol, aku pacar yang benar-benar tidak tau diri dan sama sekali tidak tau permasalahan kamu.

Kamu ingat boneka ini? Rilakkuma! Aku bahkan sudah lupa dengan boneka lucu ini saat kamu mengirimnya kepadaku. Aku juga tidak tahu kalau itu ternyata pemberian terakhir kamu sebelum kamu pergi ke tempat yang lebih baik di atas sana.

Hatiku sakit untuk menerima kenyataan ini, aku berharap tuhan segera mengambil nyawaku saat itu juga untuk menyusul kamu.

Tapi, Kibum sudah mengubah pemikiran aku tentang hal-hal buruk itu semua. Hidup kita akan terus berjalan, tuhan yang menentukan kapan kita akan dipanggil olehnya. Kamu memang masa lalu aku Lee Taemin, dan sekarang aku sudah mempunyai masa depan aku. Kim Kibum.

Tapi aku janji, sesuai dengan janji kamu juga ‘kamu akan selalu ada di dalam sudut hati aku’. I love you.

Advertisements

Suka? Isi kolom di bawah ini ya^^ thanks~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s