coffee shop part 2

Author: LittleSparks

Tittle: Coffee Shop

Main cast: – Lee Hyukjae as Kim Eunjae – Park ShinRin as Ahn Ahra

Other cast: – Choi Kwanghae and Super Junior’s member

Ratings: PG-17

Genre: G

Disclaimer: Tulisan ini 100% berasal dari imajinasi saya jadi mohon untuk tidak memplagiatnya.

Halo annyeong bonjour para pecinta FF^^ ini part ke-2 dari ff coffee shop, dan untuk part ini agar kalian tidak penasaran sekaligus kecewa saya membuatnya agak panjang hehe. Pls Read, comment and like^^

Coffe Shop

“Eunjae-ssi kau tidak ingin turun?” Tanya Ahra pada eunjae

Eunjae melihat keluar melalui kaca jendela mobil, lalu menggeleng. “tidak, kurasa aku tetap disini saja” jawabnya

“hm baiklah, aku tidak akan lama”

Ahra masuk kedalam restaurant yang cukup ramai, karena waktu jam makan siang. Ia duduk di ujung restaurant yang tidak terlalu ramai. Lalu seorang pelayan datang ke mejanya menyodorkan secarik menu yang tersedia di restaurant itu. Ahra memesan jjangmyun dan teh untuknya dan satu jjangmyun untuk Eunjae. Tak berapa lama makanan yang dipesannya datang, Ahra langsung melahap makanannya sampai tak tersisa, kurang lebih 5 menit Ahra sudah menghabiskan makanannya dan segera bergegas menuju mobilnya lagi. Saat ingin membayar ia melihat salah satu pengawal dari ayahnya berada di sekitaran restaurant sedang mengobrol dengan temannya, bukan pengawal tapi lebih tepatnya bawahan ayahnya yang sangat dipercaya. Ahra segera membayar makanannya dan mengambil makanan yang dipesannya untuk Eunjae, lalu memakai maskernya untuk penyamaran.

Ia keluar dari restaurant itu hingga sampai di mobilnya lalu segera masuk dan mendapati Eunjae sedang asik dengan i-Pod nya tannpa menghiraukannya yang sudah duduk di belakang kemudi.

“Ini ambilah” Ahra menjulurkan kantong pada Eunjae

Eunjae Terlihat kaget, tapi langsung mengambil bungkusan yang diberikan Ahra padanya. “Apa ini?” tanyanya

“Jjangmyun, aku tau kau lapar daritadi, jadi aku membelikannya untukmu” jelasnya kemudian

Eunjae hanya mengangguk mengerti “Gomawo”

Ahra masih memakai masker sambil melihat lewat jendela mobilnya, apakah bawahan kepercayaan ayahnya sadar atau tidak itu dia –Shinrin-.

“lalu, kenapa kau memakai masker?” tanya eunjae lagi

“eoh? Ah ani tadi banyak debu jadi aku memakainnya” jelasnya

Eunjae mengangguk “kau tidak memakannya?” tanya ahra sambil menunjuk bungkusan jjangmyun pada eunjae.

Eunjae mengangkat bungkusan itu “aku akan memakannya, tapi nanti”

“baiklah, hm sekarang kau ingin kemana? Akan kuantarkan sekalian”

“aku tak tau, aku baru disini kau?”

“aku akan mencari rumah kontrakan”

Eunjae berpikir sebentar, lalu “baiklah aku ikut denganmu saja”

“ah? Yasudah”

Ahra menjalankan mobilnya lagi. Tanpa sepengetahuannya, bawahan ayahnya melihat ke arah mobilnya sambil tersenyum, “ShinRin” bisiknya terlebih pada dirinya sendiri

~~~~~

Sudah hampir 1 jam mereka mengelilingi daerah tersebut tapi masih belum menemukan rumah kontrakan yang mereka harapkan. Mereka berhenti di pinggir jalan, disana berjejeran tempat makan dan cafe. Eunjae mendongak melihat nama cafe yang berada tepat di depannya, BEAUTE. Bahasa Perancis dari keindahan, ia tau itu. Tapi entah kenapa cafe itu terlihat sepi pengunjung, Eunjae membuka pintu mobil lalu bergegas memasuki cafe itu, suara dentingan pintu bergema di ruangan itu. Ahra yag menyadari Eunjae sudah tidaak ada disampingnya langsung turun dari mobil.

Eunjae terpana, Interior dalam cafe itu sangat menakjubkan, gaya abad pertengahan dan juga ada cupid-cupid yang sedang mengarahkan panah, tapi ia heran bagaimana mungkin cafe sebagus ini sepi dari pengunjung?

Tak lama Ahra datang, ia pun sama seperti Eunjae “terpana” mereka berdua masih berada di ambang pintu. Sesosok kakek tua keluar dari sebuah ruangan di dalam cafe lalu sedikit membungkuk “Annyeong, masuklah anak muda kalian ingin memesan apa? Kami menyediakan banyak kopi disini, dan jika anda mau disini juga ada waffle” sapanya panjang lebar dan hangat.

Eunjae dan Ahra membungkuk lalu duduk di salah satu kursi yang ada. Kakek itu menghampiri mereka sambil membawa menu. “Ini, pesanlah yang kalian mau” katanya hangat sambil tersenyum ramah. “Kenapa cafe ini sangat sepi?” Tanya Eunjae to the point. Sang kakek tersenyum kembali “pesanlah dulu, saya akan menjelaskannya sambil kita mengopi”  jawab sang kakek

“baiklah aku memesan moccacino saja” seru Ahra

“Aku americanno” seru Eunjae kemudian

Kakek itu membungkuk lalu permisi untuk membuat pesanan mereka. Seperginya sang kakek, mereka –Eunjae dan Ahra- hanya terdiam. Suasana menjadi sangat canggung, lalu kemudian Ahra bangkit “Mau kemana?” Tanya Eunjae pada Ahra “Aku ingin melihat cara kakek itu membuat kopi” jawabnya Eunjae hanya mengangguk mengerti.

Ahra POV

Aku bosan, suasana disini menjadi sangat canggung selepas perginya kakek itu untuk membuat pesanan kami. Aku bangkit bermaksud untuk melihat-lihat tempat ini “Mau kemana?” Tanyanya “Aku ingin melihat cara kakek itu membuat kopi” Jawabku kemudian, dia mengangguk mengerti. Akupun melangkahkan kakiku begitu saja. Disana –Ditempat meja barista- kakek itu tengah sibuk meracik berbagai jenis kopi. Dia begitu serius dengan pekerjaannya itu, tidak sadar ada aku yang sedang memperhatikannya. Tak lama dia berhenti, sepertinya sudah selesai. Lalu dia berbalik melihat ke arahku lalu tersenyum “wangi bukan? Kau pasti sudah tidak sabar untuk mencicipi kopi ini hingga menungguku disini anak muda” katanya. Jadi… dia menyadari kehadiranku disini?  kakek tua yang pintar. Dia benar, aroma kopinya sangat harum dan memikat. “iya, aku sangat penasaran dengan kopi anda”

Lalu dia menghampiriku dengan nampan yang berisi 2 gelas kopi. “Anda tidak minum?” tanyaku, dia menggeleng. Dia mendahuluiku menuju meja yang tadi aku tempati, dan disana masih ada Eunjae.

“jadi bagaimana?” tanya kakek itu setelah aku duduk dan meminum kopi buatannya.

Aku akui kopinya sangat enak, walau bisa dibilang aku sudah sering meminum moccacino. “Anda itu terlalu percaya diri tuan, tapi aku akui kopimu sangat luar biasa enak” Seru Eunjae sambil menatap kopinya. “Rasanya pait tapi ini pas” lanjutnya lagi

Kakek itu tersenyum lalu beralih ke arahku “kopimu enak” kataku sambil mengangkat gelas.

“lalu, jawablah pertanyaan kami tuan” Ujar Eunjae

Pertanyaan? Memangnya aku dan dia sempat mengajukan pertanyaan?

Kakek itu tersenyum LAGI lalu mulai bersuara “Dulu, sekitar 13 tahun yang lalu saya dan istri saya membuka cafe ini, dan dulu juga belum ada cafe-cafe lain selain cafe ini. cafe kami sangat laku dan dibanjiri pengunjung yang mencintai rasa nikmat dari kopi. Tapi kemudian 4 tahun setelah kami membuka cafe ini, banyak cafe-cafe yang bermunculan yang terinspirasi dengan cafe milikku. Cafe kami semakin lama semakin sepi pengunjung, bahkan pengunjung tetap kami menjadi perngunjung tetap di cafe sebrang. 2 tahun kemudian istri saya meninggal. Walaupun begitu saya tidak akan menutup cafe ini sebelum saya meninggal kelak. Kalian, pengunjung pertama di bulan ini dan saya juga tinggal disini, dilantai 2 masih ada dua kamar kosong lagi” jelasnya panjang lebar. Jujur saja aku sangat terharu dengan cerita kakek itu, dia sangat setia kepada istrinya.

Eunjae mengangguk “Aku terkesan dengan cerita Anda tuan, ngomong-ngomong apakah anda berusaha menawarkan kami tempat tinggal?” tanyanya kemudian. “kalau kalian mau” jawabnya sambil tersenyum. “kalau kalian butuh kerja juga kalaian bisa bekerja disini, baiklah saya pamit dulu” tambahnya lalu pamit ke belakang.

Sekarang tinggal aku dan eunjae, suasana menjadi sangat canggung lagi. Lalu, eunjae berdeham “bagaimana? Apa kau mau? Kita tidak perlu mencari tempat tinggal lain lagi. Lagipula disini tempatnya nyaman dan kita bisa langsung berkerja”jelasnya panjang lebar.

Aku mengangguk mengerti “ne, baiklah kurasa idemu tidak terlalu buruk”

Author POV

Eunjae dan Ahra sudah berada di lantai 2 tempat dimana nanti mereka  tinggal. Mereka melihat interior yang ada disana, suasananya masih sama seperti yang dibawah. “ngomong-ngomong kenapa kakek itu sangat suka dengan suasana seperti ini” seru Ahra kemudian

“Karena semua ini membuatku nyaman” jawab kakek itu di ujung tangga.

Ahra terkejut lalu mengangguk mengerti “bahkan kamarnya pun tetap sama” tambah eunjae saat melihat isi kamar. “oh iya kita belum saling kenal, namaku Ahn Ahra” kata Ahra sambil membungkuk

“Kim Eunjae-imnida” lanjut eunjae kemudian

Kakek itu tersenyum “namaku Choi Kwanghae”

“baiklah kwanghae harabeoji, bolehkah aku memanggilmu harabeoji?” tanya Ahra

kakek mengangguk sambil tersenyum “cha! Jadi kalian sudah memilih kamar yang kalian mau?”

Eunjae menggangguk pasti “kurasa aku suka yang ini” katanya sambil menunjuk pintu kamar sampingnya

“ne, aku juga suka yang ini. lalu, apakah kamar yang ujung itu kamarmu?”

“iya, jadi kalau kalian butuh apa-apa di malam hari datang saja ke kamarku” jelasnya

“baiklah, aku masuk dulu” seru eunjae sambil membawa tasnya ke kamar “aku juga” lanjut Ahra

~~~~~

Eunjae POV

Aku membaringkan tubuhku di atas ranjang, disini suasananya sangat tenang. Tiba-tiba aku sangat merindukan kamarku di dorm suju dan juga 9 member idiot itu. sedang apa mereka? Haruskah aku menghubungi mereka? Apa mereka khawatir kepada diriku? Sebaiknya aku mandi dulu.

At Super Junior’s Dorm

Author POV

“Bagaimana? Apa masih tidak bisa?” tanya Leeteuk kepada yesung

“nomornya tidak aktif-aktif” kata donghae lemas

“Bagaimana ini hyung? Apa si monyet akan baik-baik saja?” tanya kyuhyun kenapada leeteuk

“apa-aapaan kau magnae! Beraninya kau mengatai eunhyuk monyet!” seru donghae lantang sambil melayangkan sandalnya kearah kyuhyun dan tepat engenai kepalanya

“sudahlah, kalian ini masih saja bercanda. Hahh aku bingung” leeteuk mengehempaskan tubuhnya ke sofa. Member  yang lain juga sudah terbaring lemas di sofa. Seharian ini mereka mencari-cari kemana perginya eunhyuk. Apa yang harus mereka bilang kepada sooman sajangnim dan media?

“hyung!” seru yesung tiba-tiba

“ya! Kau membuat kami kaget!” seru shindong

“ya diam dulu, kurasa aku ingat sesuatu”

“apa itu?” tanya sungmin

“begini, tadi pagi aku pergi untuk membeli sesuatu di supermarket”

“lalu? Apa pointnya?” tanya kangin

“saat aku masuk lift disana ada seorang pria dengan tas besar dan sebuah tas untuk anjing, aku merasa aneh dengan orang itu pasalnya aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Dia memakai kacamata dan rambutnya berwarna hitam. Tapi ada yang aneh”

“apa itu?” sela kyuhyun

“ya aku belum selesai bodoh!” serunya pada kyuhyun sambil menggetok kepala kyuhyun.

“baju yang ia kenakan sama persis dengan baju yang berikan padanya saat natal lalu, dan tasnya. Tas yang ia pakai sama dengan tas yang ia beli saat di paris” jelasnya kemudian

Sunyi, Semua member diam tidak ada yang bersuara.

“bisa kupastikan dia itu si monyet!” seru kyuhyun lantang

Donghae melemparkan sandal lagi pada kyuhyun “ya hyung!”

“sudah-sudah. Mungkin apa yang dikatakan kyuhyun benar, sebaiknya kita selidiki lagi lebih jauh. Kita belum menanyakan kepada satpam dan resepsionis bukan?” kata leeteuk tegas.

Semua member mengangguk “apa ada yang mau makan? Aku sudah sangat lapar” kata shindong kemudian. Semua member langsung melihat kearah ryeowook.

“ara ara aku akan memasak”

~~~~

Eunjae keluar dari kamar dan ahra pun keluar dari kamarnya. “eoh kau keluar” ujar Ahra

Eunjae tersenyum “iya, aku lapar haha” jelasnya sambil memegang perutnya

ara, baiklah mari kita turun kebawah”

Sesampainya meereka dibawah mereka duduk di salah satu kursi didepan meja barista, disana –dimeja barista- harabeoji sedang membuat sebuah minuman

“kalian lapar?” tanya harabeoji

Eunjae dan ahra kompak mengangguk. Harabeoji tersenyum “kajja kita makan” harabeoji berjalan ke sebuah ruangan, disana ada meja makan dan ada makanan diatasnya. Aroma masakan langsung menyeruak, tiba-tiba terdengar suara perut yang keroncongan. Harabeoji berdeham “sepertinya kau sudah sangat lapar Eunjae-ssi”

Eunjae menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menyengir “ya begitulah”

Ahra tersenyum, sesampainya di meja makan mereka langsung duduk di kursi masing-masing. “siapa yang ingin memimpin doa?” seru ahra

“aku saja” jawab eunjae

Setelah berdoa mereka langsung mengambil makanan yang tersedia, Ahra mengambil mangkuk nasi harabeoji lalu mengisinya dengan nasi “ini untuk harabeoji”

gomawo” jawab harabeoji

“aku tidak kau ambilkan? Wah payah” kata eunjae kemudian

Ahra tertawa “bagaimana mungkin aku mengambilkan nasi untukmu sedangkan kau sudah mengambilnya dahulu”

Eunjae tersenyum “iya juga”

“aku seperti mempunyai dua cucu” kata harabeoji tiba-tiba

“ah harabeoji bisa saja hahaa” sela ahra

Dan makan malam berlangsung dengan hangat.

~~~~

Eunjae POV

Sinar matahari membuat aku terbangun dari mimpiku, gorden sudsah terbuka entah siapa yang membukanya. Aku bangun dan melihat choco sedang main dengan mainannya. Melihat choco aku sampai lupa belum memberinya makan dari kemarin, apa ia lapar? Pasti ia sangat lapar.

Aku menghampiri choco dan mengelus tengkuknya “apa kau lapar?” tanyaku padanya ‘hhuuuuggg’ dia menimpaliku sambil masih memainkan mainannya. “baiklah tunggu disini”

Aku bergegas menuju tasku yang tergeletak di samping lemari, aku belum sempat merapihkan pakaianku. Didalam tasku tidak ada makanan choco, aku mengeluarkan semua barangku tapi masih tidak ada. Apa aku lupa membawanya? Sial! Aku berbalik menuju choco, ia masih memainkan mainannya. Aneh, dia tidak pernah setenang ini kalau belum makan. Ku langkahkan kakiku keluar kamar, menuju lantai bawah.

Sesampainya dibawah, aku mendapati ahra sedang mengelap meja. Lalu ia mendongak dan menatapku. “oh kau sudah bangun?” ujarnya

Aku mengangguk “tadi pagi aku melihat kamarmu, tapi kau masih tidur dan oh iya aku juga sudah memberi anjingmu makan” jelasnya

“kau memberi anjingku makan? Dengan apa?” tanyaku

“ya makanan anjing yang kau bawa” jawabnya

“kau membuka tasku?”

“ya….” dia terlihat gugup “sudahlah tak apa” kataku “dimana harabeoji?”

“tadi dia pamit untuk menghirup udara segar” jawabnya. Aku menggangguk lalu berbalik ke atas lagi untuk mandi “kau ingin kemana? Tidak lapar?” serunya lagi

“aku ingin mandi dulu, nanti aku turun lagi” teriakku dari atas tangga

~~~~~

Ahra POV

Aku sudah menyiapkan makanan untuk sarapan pagi ini, ya aku bisa memasak. Saat dirumah dulu aku harus bisa memasak, ayahkku yang mengaturnya.  Saat aku sedang merapihkan meja makan harabeoji datang dengan sesuatu di tangannya.

“apa itu?” tanyaku padanya

“ini lemon yang aku beli di ujung jalan sana, kurasa kalian akan sangat suka jika aku membuat lemon madu” jelasnya

Aku mengangguk lalu mengambil plastik itu dan meletakkannya di dapur. “kau yang masak?” tanya harabeoji setelah aku kembali ke meja makan lagi“ne, aku bisa memasak walaupun sedikit”

“pasti akan sangat enak, sudah lama aku tidak mencicipi makanan yang dibuat olh wanita” candanya

Aku dan harabeoji tertawa “ada apa ini?” tiba-tiba Eunjae datang dan bertnya pada kami. “tidak ada apa-apa, mari kita sarapan saja” kataku kemudian

~~~~~

Cafe sudah buka sejak jam 9 tadi dan sekarang sudah jam 1 siang, tapi tidak ada satupun pelanggan yang datang. Hatiku miris merasakan ini, bagaimana mungkin harabeoji tahan dengan kondisi seperti ini? aku saja yang baru menjaga selama kurang lebih 4 jam ini sudah tidak tahan.

“kenapa?” Eunjae datang dan bertanya padaku, aku hanya menggeleng lemas.

“Bagaimana kalau kita ubah sedikit interior cafe ini agar terlihat lebih menarik? Menu yang di sajikan kita tambah sedikit” paparnya

Aku bangun lalu menatapnya takjub “kau….”

“apa?”

“kauuuuu aaaaaaaa kau jenius sekali eunjae!” teriakku girang

“tapi bagaimana kita mendapatkan barang-barang yang baru?” ujarku lemas lagi

“aku tau darimana, sudahlah ayo kita buat rencana. Dan kita harus mengatakan ini kepada harabeoji” jawabnya

Aku mengangguk lalu berlari mencari harabeoji.

~~~~~

Eunjae POV

Harabeoji setuju dengan ide dariku, tapi ia minta jangan terlalu mengubah semuanya. Aku mengerti dengan kecintaannya pada tempat ini dan aku juga mulai jatuh cinta dengan tempat ini. aku mengeluarkan uang yang aku bawa dari dorm kemarin, tidak terlalu banyak tapi pas untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan untuk memperindah dan agak mengubah tempat ini. jujur saja aku sangat kasihan kepada harabeoji tentang cafe nya ini. sampai saat ini tidak ada satupun pengunjung yang datang.

Kami berencana untuk mengerjakannnya besok saat masih pagi, dan sekrang aku berencena untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan bersama harabeoji dan ahra. Walaupun kami baru kenal kemarin tapi aku merasa kami sudah sangat dekat dengan adanya harabeoji yang bersifat hangat dan baik.

Aku bergegas turun kebawah setelah menyiapkan semuanya, sebelumnya aku mengusap punggung choco dan bilang bahwa aku tidak akan lama. Sesampainya aku di bawah kulihat harabeoji dan ahra sudah siap.

“ayo kita pergi” kataku

“taapi eunjae-ssi bukankah ini terlalu cepat?” Sela ahra

“tidak apa-apa, lebih cepat lebih bagus” jawabku. Kulihat harabeoji hanya tersenyum, kebiasaannya.

“kemarikan kunci mobilmu, biar aku yang menyetir” Ahra melempar kuncinya padaku.

kajja”

~~~~~

Sudah 2 jam kami memilih-milih barang di toko furniture dan kami juga sudah membeli kertas dinding yang baru. Tidak lupa dengan papan untuk nama cafenya, karen kulihat papan yang dipajang di depan sudah sangat lapuk. Kami tidak mengganti kursi-kursi yang ada di cafe karena kursi-kursi itu unik. Aku hanya menambahkan sofa untuk di taruh di samping jendela-jendela dan tanaman untuk diluar.

Tadinya aku yang akan membayarnya sendiri, tapi ahra bersikeras ingin patungan karena merasa tidak enak, seharusnya yang tidak enak itu harabeoji. Harabeoji juga bersikeras ingin patungan tapi kami –aku dan ahra- menolaknya karena memang dari awal ini adalah rencana kami.

Semua barang sudah terbeli, semuanya sudah di angkut di atas truk dan sisanya barang-barang yang kecil di bawa di mobil ahra. Selama di perjalanan kami hanya terdiam dan masih aku yang menyetir. Ahra tertidur di belakang sementara harabeoji dengan tenangnya melihat ke arah jalan. Malam sudah tiba dan kami sampai di cafe.

Semua barang yang ada di truk di keluarkan dan dimasukan kedalam cafe. Cukup memakan waktu untuk memasukan semuanya. Setelah semua sudah terangkut. Aku dan ahra duduk di atas meja bar sementara harabeoji membuatkan kami kopi. Aroma kopi mulai tercium di indra penciumanku. ‘gguuukkk’ terdengar suara gonggongan choco dari atas tangga. Dia langsung berlari kearahku.

“bahkan aku baru ingat kau hahaha mianhe” kataku

“apa kau lupa memberinya makan lagi?” saut ahra yang sedang memejamkan matanya.

“ya aku lupa memberinya makan sore ini” jawabku kemudian

“makanannya aku letakkan di bawah meja makan”

Aku mendongak menatapnya “pantas aku cari tidak ada”

Aku bergegas menuju meja makan dan mengambil makanan choco, lalu menuangkannya di atas piring anjing miliknnya. Saat aku kembali dan duduk, kopi yang dibuat harabeoji sudah jadi.

“gomawo” kataku

“ne” serunya sambil tersenyum

Aku meminum kopinya, enak. Tentu saja enak kkalau harabeoji yag membuatnya.

“sejak kapan harabeoji membuat kopi?” tanya ahra pada harabeoji, aku mengangguk menatapnya.

“sejak aku kuliah di paris” jawab harabeoji tenang.

“harabeoji pernah kuliah di paris?” tanya ahra sekali lagi sambil melotot.

ne, waktu itu aku mengambil jurusan desain interior, teman sekamarku merupakan barista di salah satu cafe di paris, dia mengajarkanku banyak racikan kopi. Dan sampai sekarang aku membuat kopi. Kopi adalah bagian dari jiwaku” jelasnya panjang lebar

‘Pantas saja ruangan cafe ini sangat indah dan nyaman’ kataku lebih pada diriku sendiri.

“terimakasih karena kalian mau menolongku” lanjut harabeoji.

“tak apa harabeoji kami sangat ikhlas membantu anda, lagipula kami juga berkerja untuk anda bukan?” ahra tersenyum dan aku masih mengangguk setuju.

“bahkan aku sudah menganggap kalian sebagai cucuku” harabeoji menatap kami

“Oh iya aku sangat penasaran, memangnya kalian maksudku harabeoji istri harabeoji tidak mempunyai anak?” tanya ahra to the point, aku menyenggol bahunya pelan.

“haha aku tau kalian pasti akan menanyakan ini”

“aku dan istriku memang tidak mempunyai anak, rahim istriku diangkat saat usia pernikahan kami baru genap 1 tahun. Aku sempat kurang bersemangat, tapi aku sangat mencintai istriku dan aku sudah bilang aku sangat senang kalian ada disini” jelasnya

Kulihat ahra hanya berdiam diri sambil memandang kopinya ‘kau kenapa?” akhirnya aku bertanya kepadanya.

Dia mendongak “ah tidak aku hanya terharu dengan semua cerita harabeoji hehe”

Harabeoji tertawa dan pembicaraan hangat itu terus berlangsung.

~~~~~

Author POV

Pagi-pagi sekali ahra sudah bangun dan mandi lalu bergegas kebawah membereskan barang-barang yang kemarin mereka –ahra dan eunjae- beli. Ia mengelap semuanya, dari meja pengunjung sampai meja barista. Eunjae turun dengan muka segarnya, ia sudah mandi. Harabeoji mucul dari ruang makan lalu memberi tahu bahwa sarapan sudah siap.

Selesainya mereka sarapan, mereka langsung menata semuanya. Eunjae merobek salah satu kertas dinding di bagian kanan, yang sudah agak lepas-lepas lalu menempelnya dengan yang baru. Ahra mengelap gelas-gelas dan piring-piring dan harabeoji mengelap kaca depan.

Mereka menata ruangan itu menjadi lebih nyaman dan mengesankan bagi pengunjung. Bagian dalam sudah beres lalu mereka beralih kebagian luar. Eunjae mulai mengecat tembok depan dengan warna merah dan coklat. Lalu menurunkan papan label cafe dengan yang baru, namanya masih sama ‘BEAUTE’.

Hampir kurang lebih 11 jam mereka selesai mengerjakannya, semua terlihat baru, semua terlihat rapi. Banyak bunga-bunga segar yang terdapat di dinding-dinding dan meja. Sofa yang berwarna merah dan sebuah lampu yang bertengger di atas langit-langit. Sebuah panggung kecil untuk penyanyi dengan sebuah gitar akustik.  Rasa puas menghampiri mereka, kerja keras yang dibuat selama sehari penuh ini terbayar sudah, sekarang tinggal mempromosikan cafe ini lagi kepada seluruh orang-orang.

“FIGHTING!” seru ahra kemudian, mereka tertawa dan mengepalkan tangannya ke atas.

Tomorrow morning

Ahra POV

Aku sudah bangun dari jam 5 tadi pagi dan sekarang sudah jam 8. Kami sudah mulai menyiapkan semuanya untuk hari ini. Eunjae terlihat sedang fokus dengan laptop nya, ia sedang membuat brosur untuk dibagikan ke semua orang-orang yang lewat. Jujur saja, sebenarnya kalau di lihat-lihat dia itu sangat tampan, hanya saja behel dan kacamatanya itu yang menghalangi ketampanannya. Kenapa aku bilang begitu? Karena waktu itu saat aku tidak sengaja masuk ke kamarnya aku sedang melihatnya tertidur tanpa kacamata. Garis rahangnya yang tegad dan wajah tidurnya yang begitu menenangkan, siapa yang mengelak kalau ia tampan?

“jangan melihatku seperti itu ahra, aku tidak tampan” katanya lantang

Aku terperanjat sekaligus malu sudah tertangkap melihat seorang namja. Akupun bergegas keluar untuk melihat situasi sekaligus pengalihan rasa maluku. Di luar sudah ramai dengan ppejalan kaki, tak bisakah mereka melihat disini ada cafe yang bagus? Setidaknya mampir untuk sarapan atau menikmati kopi kek.

“annyeong” seru seseorang sambil menepuk pundakku

Aku terperanjat karena kaget, aku pun berbalik. Ada seorang pria dan wanita yang sepertinya sepasang kekasih.

ne, apa ada yang bisa aku bantu tuan?” tanyaku sopan.

“apa cafe ini sudah buka?” tanyanya balik.

“ah sudah tuan, anda mau masuk? Silahkan” aku mengantar mereka duduk di hadapan jendela.

“ini” kataku sambil menyodorkan secarik menu.

“kau ingin pesan apa chagi?” tanya sang pria kepada wanitanya.

“terserah kau saja” jawab wanita itu lebut sambil tersenyum ke arah prianya.

“baiklah, chogiyo saya memesan cappucino dua” katanya kepadaku

“oh baiklah, tunggu sebentar permisi” aku pun langsung menuju meja barista dimana harabeoji menunggu.

Sesampainya aku disana, aku langsung memeluk harabeoji “harabeoji…….ini hebat! Pelanggan pertama di pagi hari haaahhh aku sangat senang” kataku girang

“hahaha iya iya, sekarang lepaslah. Kau ingin membuat pengunjung kita menunggu?”

“eh hehehe tentu tidak harabeoji, ini mereka memesan cappucino”

“baiklah tunggu sebentar”

Tak lama kopi yang dibuat harabeoji sudah jadi, saat aku ingin mengantar pesanan eunjae datang dengan membawa menu. “harabeoji rupanya usaha keras kita selama sehari kita langsung membuahkan hasil. Banyak pengunjung di depan” serunya

Aku tersenyum lalu bergegas mengantarkan pesanan kepada pengunjung tadi. Benar saja, sudah banyak orang yang menunggu. Aku pun langsung menghampiri mereka satu-satu.

Tak terasa sekarang sudah jam makan siang, dan tentu saja cafe masih ramai karena ada yang ingin melepas enat sambil mengopi dan memakan waffle. Aku tidak tahu kenapa langsung banyak pengunjung disini, padahal baru kemarin kami ‘menyulapnya’ menjadi indah.

Sampai sore menjelang malam dan akhirnya tutup kami masih kebanjiran pengunjung. Mugkin benar selama ini pendapatku tentang cafe ini. interior sebelumnya sudah sangat membosankan walaupun indah, tapi setelah disulap semuanya langsung ajaib.

Kami –aku,harabeoji dan eunjae- berkumpul di salah satu sofa di pojok ruangan sambil menyesap kopi, melepas penat akibat kejadian hari ini.

“apakah kau senang?” tanya harabeoji kepadaku.

Aku mengangguk ‘’ya, tentu saja aku senang walaupun lelah” kami tertawa

“lalu, kenapa ini sangat cepat sekali? Maksudnya dengan adanya pengunjung yang datang dengan jumlah banyak?” tanyaku kemudian

Eunjae bersuara “aku mengirim ke seluruh orang didaerah ini sebuah pesan di ponselnya, aku membuat kata-kata yang spectacular!” jelasnya dengan penekanan di kata spectacular.

“bagaimana bisa?” tanyaku lagi

“tentu saja bisa”

“ku kira tadi kau sedang membuat brosur?”

“memang, besok kita akan membaginya”

“baiklah” aku mengangguk

“harabeoji pegal bukan? Sini aku pijat” aku memijat bahu harabeoji “sudahlah, kurasa yang pegal adalah kamu sampai perutmu pegal ingin meminta makan” kata harabeoji dengan suara perutku yang tiba-tiba bunyi.

“nah kajja kita makan” ajak harabeoji “biar aku yang memasak, aku ingin memasak hari ini” potongku

“arra arra tapi harus enak ya” sela eunjae, dan kami pun tertawa kembali.

~~~~~~

Sementara itu di kediaman keluarga Park sedang terjadi perbincangan yang sangat serius. Bawahan shinrin sedang melaporkan kejadian yang sudah di alami putri tuan park selama 4 hari ini. ya, ia tau kemana putrinya pergi. Dengan bawahan kepercayaannya itu ia tidak perlu bingung kemana putrinya pergi.

Ia tenang karena putrinya baik-baik saja dan bahagia di luar sana. Pasalnya ia tau dengan siapa putrinya tinggal, dia tau betul siapa orang itu.

Walaupun ia sangat protective dengan putrinya, sekarang ia paham apa keinginan putrinya. Ia tau cepat atau lambat putrinya akan merasa tidak nyaman atas perlakuannya. Sifatnya sama persis dengan eommanya dulu. Ia menyuruh bawahannya itu meninggalkan ruangannya.

Selepas pernya bawahannya dari ruangannya itu, ia mengambil salah satu foto yang terpajang di atas mejanya, fotonya bersama istri dan putrinya. Tiba-tiba benda kristal itu perlahan-lahan jatuh dari matanya. Ia menangis, betapa buruknya ia menjadi seorang appa. Appa yang tidak baik yang selalu megurus pekerjaannya daripada putrinya sendiri. Bahkan hanya bisa melihat putrinya saat jam makan malam saja.

“sebenci itukah anakmu padaku sampai ia mengganti marga dan namanya Seol Hanna?” lirihnya terlebih pada dirinya sendiri. “aku sudah lalai menjadi seorang ayah, apa aku masih pantas disebut ayah?”

“aku takut aku tidak bisa melihat putri kita lagi HanNa, aku sangat mencintainya. Aku tidak mau hal yang sama yang terjadi padamu terjadi lagi kepadanya karena egoku HanNa”

Ia memandangi foto istri dan anaknya sendu, ia merasa kesepian. Percuma hidup dengan banyak materi melimpah kalau ia hanya hidup sendiri.

Di lain tempat ShinRin –Ahra- sedang memandangi fotonya dengan kedua orantuanya semasa ia kecil. Tak sadar buliran-buliran itu jatuh, ia mendekap erat fotonya ‘aku merindukan kalian’. Tak lama ia pun terlelap.

TBC

Advertisements

Suka? Isi kolom di bawah ini ya^^ thanks~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s